Di sebuah gedung pencakar langit, lebih tepatnya di sebuah ruangan orang nomor satu di perusahaan tersebut tampak dua orang pria sudah duduk saling berhadapan. Tatapan mata yang ditunjukkan oleh keduanya sangatlah berbeda. Yang satunya tampak menatap dengan tatapan datar, sedangkan yang satunya menatap dengan tatapan yang sudah berkilat penuh amarah. Meskipun emosinya sudah berada di ubun-ubun, Naka tetap tenang seperti biasanya. Sebatang rokok tampak di sela jemari Avan dan satu kakinya bertumpu pada kaki yang satunya. Kepulan asap rokok mulai keluar dari bibir lelaki itu. Raut wajahnya datar, tapi tatapannya tampak penuh arti. Terlihat tenang dan santai seperti kebiasaan pria itu jika sedang berhadapan dengan lawan bisnisnya. Tentu saja mereka akan sulit menebak jalan pikiran pria ters

