Dira berjalan mendenkati Naka yang terlihat duduk di sofa depan televisi. Pria itu tampak sedang tersenyum menatap istri cantiknya. Dira tentu saja merasa senang karena bisa bertemu kembali dengan belahan jiwanya. Namun, Ketika perempuan itu tinggal dua langkah lagi, lagi-lagi Naka menghilang. Selalu saja seperti itu. Bayangan pria yang sangat dia cintai seakan enggan untuk dia dekati. Dira merasa jika batin mereka berdua sangat terikat erat, tapi untuk saat ini raga itu tidak bisa ia rengkuh. Meskipun Naka tidak pernah berkata-kata, Dira tetap merasa jika senyuman lembut pria itu mengandung banyak arti. Senyum dan tatapan mata yang tampak meneduhkan itu seakan tidak ingin melihat Dira sedih. Namun, apa sanggup ia sekuat itu? Terkadang jika malam mulai larut ia sering meneteskan air ma

