Halaman 8

1139 Kata
Kini Dinda, Farel, dan Wisnu sedang berada didalam mobil. Dinda duduk disebelah Wisnu dan Farel duduk dibelakang. Mereka menuju ke proyek hotel yang akan dibangun Farel. Pria itu tampak sibuk dengan ipad yang dipangkuannya. Wisnu lebih aman gini karna Dinda dalam mode off alias mode badmood. Ia tak mau mengikuti Farel melihat perkembangan proyek. Tapi mau bagaimana lagi ia sekretaris pribadi Farel. Terpaksa mengikuti kemana lelaki itu pergi. Mereka pun sampai di tempat proyek yang ingin Farel kunjungi mandor disana memberikan helm pengaman kepada mereka bertiga. Dinda mengambil helm itu dengan senang hati dan memakai nya. "Bagaimana pembangunannya?" tanya Farel kepada mandor. "Pembangunan hotel nya lancar pak. Tidak ada kendala sama sekali. Para pekerja pun sangat antusias. Lapangan kerja akan semakin banyak untuk para pengangguran yang ada disini. Kita bisa lihat di pembangunan awal. Mari pak." Farel mengangguk dan mengikuti mandor itu sambil menjelaskan apa yang kurang disini dan apa yang menyenangkan disini. Dinda tak minat sama sekali. Ia hanya diam berdiri di tempatnya tadi. Memandangi gedung besar yang belum jadi ini hanya tiang nya saja yang baru jadi dan beberapa dinding. "Nu," panggil Dinda. Wisnu menatap Dinda malas. Karna wanita di sampingnya ini ia harus pergi menuju toilet. Menyebalkan sekali bukan. Wisnu itu normal. NORMAL. "Yaelah jauh amat lu berdiri di gue kayak musuhan aja," cibir Dinda. "EMANG!" "Iya deh gue ngaku salah. Lain kali ngga gue ulangin lagi." Wisnu pun mendekat ke Dinda dengan takut takut. Tak apalah disini juga ramai para pekerja. "Proyek gini cuman di jogja doang?" "Ngga, ada di tempat lain. Pak Farel pasti mengunjungi di tempat lain juga dan biasanya itu berhari hari. Kita biasa nginap di hotel." Dinda mengangguk ngerti. "Terus gue harus ikut dia juga gitu kemana mana?" Wisnu manggut manggut. Setelah itu Wisnu memilih melihat pembangunan. Sedangkan Dinda malas sekali masuk kesana. Dengan iseng pun ia melihat para pekerja yang sedang mengaduk semen begitu banyak. Semen itu di buat melingkar besar ada belasan pekerja yang mengaduk semen disana. Dinda pun menghampiri para pekerja itu. "Boleh nanya?" Salah satu tukang aduk semen itu menoleh ke arah Dinda. "Silahkan mau nanya apa?" "Ini proyek punya pak Farel?" "Iya, tapi lebih tepatnya punya pak Farel dan pak Adrian." Ketika mendengar nama Adrian. Dinda jadi senyum senyum sendiri. "Bentar lagi pak Adrian akan datang." Benar kata tukang aduk semen itu. Mobil BMW hitam pun masuk ke dalam pembangunan. Dinda menoleh kesana. Nikmat mana yang mau Dinda dustakan sekarang. Saat Adrian keluar dari mobil. Ketampanan laki laki itu semakin bertambah. "Aduh kalo kayak gini pemandangannya pengen gue bawa pulang dan kunci di kamar aja," lirih Dinda menatap kagum Adrian yang turun bersama sekretaris. Dinda bernapas lega sekretaris Adrian ternyata seorang pria. Kalo seorang wanita ntar Dinda bejek bejek tuh si wanita nya. Para pengaduk semen pun berhenti mengaduk. Dan mengisi air di tengah tengah. Para pengaduk semen itu membuat seperti kawah agar air bisa ditampung dengan baik. Adrian tampak berbicara dengan mandor yang satu lagi. Disini ada dua mandor. Satu mandor Farel dan satu mandor Adrian. "Dri, kapan gue bisa masuk ke hati lo." Dinda begitu kagum dengan sosok Adrian. Farel ganteng cuman Dinda tak suka dengan pria angkuh itu. Karna Farel lah yang membuat dirinya malu dicafe. Farel dan Wisnu pun keluar dari gedung hotel yang belum jadi itu diikuti mandor yang setia memimpin. Farel menatap sengit Adrian. Begitupun sebaliknya. Dinda yang melihat itu pun melangkah mundur. Byur Dinda terjatuh di kubangan air yang dilingkari semen dan pasir. Farel menahan tawanya sedangkan wisnu sudah tertawa puas. Dinda basah. Ia mendengkus sebal. Malahan sekarang ia menjadi bahan tawaan para pekerja. "Aduh malu gue di depan Adrian," cicitnya. "Siapa sih yang nyimpan air sama semen disini!" Adrian yang merasa tak asing dengan wanita itu pun mendekat kesana dengan cepat Dinda menutupi wajahnya. Ia malu sangat malu. Emang ia babi berada di dalam kubangan. "Apa tidak ada kolam renang sehingga membuat anda berenang disana?" tanya Adrian. Dinda tak menjawab. Ia memaki dirinya sendiri. Kenapa bisa mundur tiba tiba. Wisnu dan Farel pun mendekat ke arah Dinda. Adrian menatap Farel yang memandangi wanita didepannya ini yang masih setia menutupi wajahnya. "Ayo bangun. Udah keburu malu!" titah Farel. "Saya malu pak," cicit Dinda. Farel menghela napasnya berat. Kalo saja ia tak merasa bersalah dengan wanita didepannya ini. Farel tak akan mau membantu wanita ini. Farel pun membungkukkan badannya. Ia mengulurkan tangannya ke Dinda. "Ayo." Dinda mengintip sedikit dan menerima uluran tangan Farel. Ia langsung memeluk Farel. Sumpah demi apapun ia tak mau memeluk Farel. Kalo bukan ada Adrian disini ia tak akan sudi memeluk pria di depannya ini. Wisnu terkejut dengan perlakuan Dinda. Farel merasakan jantungnya bergemuruh. Sudah lama ia tak merasakan hal ini. "Jalan pak," suruh Dinda. Farel pun berjalan. Dinda masih setia memeluk Farel. Adrian menatap Dinda aneh. Ia mengedikkan bahunya acuh dan memilih masuk melihat gedung pembangunan hotel. Dinda langsung melepaskan pelukannya dari farel. "Lo modus banget ya! Ngapain meluk meluk gue! Nyari kesempatan dalam kesempitan!" Farel menatap Dinda cengo. Jadi yang salah disini dia. Apa gimana? "Kamu yang meluk saya. Wanita m***m!" Farel menoyor kepala Dinda membuat Dinda mendengkus sebal. "Iya juga sih," cicit Dinda. "Gue mau pulang! Gue ngga mau pulang sama pria sialan kayak lo. Bye!" Dinda pun memilih mencari taksi saja. Farel hanya mengedikkan bahunya acuh. Ia tak menawarkan Dinda tumpangan. Sebenarnya Farel tak mau mobilnya kotor karna Dinda. Tapi bajunya sudah kotor duluan. Farel berdecak sebal. Dinda masih mendumel tak jelas. Kini baju nya sangat kotor sekali. Ah kesialan apa lagi ini. Ia rasa berdekatan dengan Farel adalah masalah terbesar Dinda. Camkan itu! Dinda menaiki taksi. Saat ia memberhentikan taksi. Ia masih saja membersihkan baju nya. Lama perjalanan akhirnya taksi itu sampai di depan rumah Dinda. Dinda nyelonong keluar saja. Sopir taksi pun keluar. "Eh neng bayar dulu," pinta sopir taksi itu membuat Dinda menoleh. "Emang harus bayar ya pak?" Sopir taksi itu menepuk jidatnya. "Ya bayar lah neng. Namanya juga neng penumpang taksi." Dinda hanya ber oh ria saja. Ia pun mencari tasnya. Ah Dinda lupa tas nya ada di dalam mobil Farel. Bagaimana dia bisa lupa sih. "Pak tunggu disini ya," pinta Dinda. Dinda mengambil kunci rumah yang berada di dalam pot bunga yang menggantung. Untung saja kunci rumah nya ada tiga. Kalo ada dua bahaya. Soalnya satu dibawa Laily satunya dibawa dia dan ada didalam tas. Dinda mengambil uang di lemarinya dan memberikan kepada pak sopir itu. Setelah itu Dinda pun menutup pintunya alamat harus mandi dia kalo udah kotor gini. "Sumpah ya gue tuh malu banget di depan Adrian. Kecantikan gue turun didepan Adrian. Semoga dia ngga lihat wajah gue. Bisa bisa ilfeel dia." Dinda masuk ke dalam kamar mandi dengan mendumel tak jelas. Ia masih malu dengan kejadian tadi. Mana para pekerja juga menertawakan dia. "Pokoknya gue harus berjuang mendapatkan Adrian. Move on dari Af semangat!" Dinda menyemangati dirinya. Setelah itu ia pun membersihkan dirinya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN