Abraham saat ini duduk di dalam mobilnya, memandangi rumah berlantai dua tempat Asyla tinggal. Lampu ruang tamu sudah padam, tanda bahwa mereka semua sudah tidur. Namun pikirannya masih terus berputar.
Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku butuh bukti. Aku butuh tahu siapa Rafi sebenarnya.
Ia menatap amplop kecil di tangannya kit tes DNA cepat yang ia dapatkan dari salah satu rekannya di rumah sakit. Tes sederhana yang cukup mengambil sehelai rambut atau sedikit air liur. Satu langkah ini akan mengubah segalanya.
Abraham menarik napas panjang. Ia tahu tindakannya mungkin akan dianggap melanggar privasi, tapi ia tak peduli. Ia butuh kebenaran.
Sementara itu, di dalam rumah, Asyla duduk di sisi ranjang Rafi yang sudah terlelap. Ia mengusap rambut anaknya dengan lembut, hati kecilnya penuh kegelisahan.
“Maafkan mama, sayang,” bisiknya pelan. “Mama hanya ingin kamu bahagia. Mama tidak ingin kamu terjebak dalam pertikaian orang dewasa.”
Di ruang tamu, Rizky masih terjaga. Ia duduk menatap gelas kopi yang sudah dingin, wajahnya serius. Dari saku jaketnya, ia mengeluarkan sebuah ponsel. Ada pesan masuk dari seseorang. “Abraham sudah mulai bergerak. Dia menghubungi beberapa orang di rumah sakit. Kamu harus berhati-hati.”
Rizky mengepalkan tangannya. “Dia tidak boleh tahu. Tidak akan.”
Ia berdiri dan masuk ke kamar, melihat Asyla masih terjaga. “Dia tidak akan berhenti, Syla. Kamu tahu itu.”
Asyla menatapnya cemas. “Rizky… apa yang harus kita lakukan?”
Rizky mendekat, meraih wajahnya. “Kamu tenang saja. Selama aku ada, dia tidak akan bisa merebut kalian. Aku akan pastikan itu.”
Nada suaranya tegas, tapi juga… mengancam. Asyla menunduk, hatinya kian tak tenang.
Beberapa hari kemudian, Abraham sengaja menunggu di taman tempat Rafi sering bermain. Ia berdiri tak jauh dari ayunan, pura-pura membaca koran.
Saat itu, Asyla sedang sibuk menerima telepon di bangku taman. Rafi, yang bosan menunggu, berlari ke arah Abraham.
“Om!” seru Rafi senang. “Om lagi!”
Abraham tersenyum dan jongkok di hadapannya. “Hai, Rafi. Apa kabar?”
“Baik! Lihat, aku punya mobil mainan baru!” Rafi menunjukkannya dengan bangga.
“Wah, keren sekali,” ujar Abraham. Saat itulah, ia dengan hati-hati mengambil sedikit rambut Rafi yang jatuh ke bahunya. Gerakannya begitu halus hingga anak itu tidak sadar.
“Rafi, ayo pulang!” panggil Asyla, menutup telepon.
“Om, aku pergi dulu!” Rafi melambai riang.
Abraham hanya tersenyum dan melambai balik, tapi di tangannya kini ada potongan kecil rambut Rafi yang akan menjadi kunci kebenaran.
Malam itu, Abraham menyerahkan sampel rambut ke laboratorium khusus untuk tes DNA.
“Berapa lama hasilnya?” tanya Abraham.
“Untuk tes cepat, dua hari. Tapi untuk hasil yang akurat dan resmi, butuh sekitar seminggu,” jawab petugas.
“Buat yang tercepat. Aku akan kembali dua hari lagi,” ujarnya mantap.
Saat meninggalkan laboratorium, perasaannya campur aduk. Dua hari lagi… semuanya akan terjawab.
Namun Rizky ternyata sudah mencium gelagat Abraham. Ia mendapat informasi dari seseorang yang ia bayar di rumah sakit bahwa Abraham telah mengambil tes DNA.
Malam itu, Rizky mendatangi Abraham. Tanpa basa-basi, ia langsung masuk ke apartemen Abraham.
“Kamu benar-benar tidak tahu diri,” kata Rizky dingin. “Beraninya kamu mencoba mengacaukan hidup kami.”
Abraham menatapnya tajam. “Aku hanya mencari kebenaran. Kalau kamu tidak takut, kenapa kamu begitu panik?”
Rizky mendekat, tatapannya tajam seperti pisau. “Karena aku melindungi keluarga yang sudah aku bangun. Asyla dan Rafi adalah milikku sekarang. Kamu sudah melepaskannya lima tahun lalu. Kamu tidak punya hak lagi.”
“Milikmu?” Abraham menahan amarahnya. “Rafi adalah anakku, dan aku akan membuktikannya. Kamu tidak bisa menghentikan itu.”
Rizky tersenyum miring. “Kalau hasil itu keluar, apa yang akan kamu lakukan? Merebut mereka? Kamu pikir Asyla akan membiarkan Rafi bingung dengan dua ayah? Jangan bodoh, Bram. Kamu hanya akan menghancurkan semuanya.”
“Aku tidak akan diam saat darah dagingku dibesarkan dengan kebohongan!” bentak Abraham.
Rizky mendekat lebih dekat, suaranya berbisik namun penuh ancaman. “Kalau kamu terus memaksa, aku akan pastikan kamu menyesal. Ini peringatan terakhirku. Jauhi mereka.”
Abraham menatapnya tak gentar. “Tidak ada yang bisa menghentikan kebenaran, Rizky. Bahkan kamu sekali pun.”
Rizky menatapnya lama, lalu berbalik pergi. Namun sebelum menutup pintu, ia berkata dingin, “Kalau kebenaran itu muncul, aku tidak akan diam. Ingat itu.”
Keesokan harinya, Asyla menerima telepon dari Rizky.
“Syla, kita harus bicara. Abraham sudah terlalu jauh. Kita mungkin harus pindah."
Asyla membeku. “Pindah? Rizky, itu bukan solusi. Kita tidak bisa terus lari.”
“Kalau dia terus mengejar, aku tidak akan tinggal diam,” suara Rizky terdengar lebih gelap.
Asyla menggigit bibirnya. Apa yang akan terjadi jika Abraham benar-benar tahu? Apakah Rizky akan bertindak yang membahayakan mereka?
Sementara itu, Abraham menerima pesan dari laboratorium,
“Hasil tes DNA Anda sudah bisa diambil besok pagi.”
Jantung Abraham berdegup kencang. Besok… ia akan tahu kebenarannya.
Namun ia tidak sadar, di sudut gelap parkiran, seseorang sedang memotret mobilnya dan mengirimkannya pada Rizky.
“Dia akan ambil hasil besok. Apa yang harus kita lakukan?”
Balasan Rizky singkat,
“Jangan biarkan dia sampai ke sana. Apapun caranya.”
Rizky tersenyum, bagaimana pun dia tidak akan melepaskan Asyla. Karena selama ini ia yang sellu disisi Asyla, memberikan semangat dan membantu Asyla melewati masa-masa sulitnya.