1. Malam Pertama

1103 Kata
Pelukan hangat terasa sangat nyaman kala itu. Pelukan yang dulu sempat membuat Nandira jatuh cinta, kini kembali membuatnya jatuh dalam kenyataan yang indah. Glen memeluknya seolah tak ingin lepas. Nandira masih terjaga dari tidurnya, sedangkan suaminya itu sudah setengah terpejam. Namun bibirnya tak berhenti bicara. "Kamu tau, selama di Amsterdam aku gak punya sahabat yang baik kayak kamu." Nandira yang tidur dengan posisi telentang dapat mendengar dengan jelas suara Glen di telinga kirinya. "Masa?" jawab Nandira terdengar biasa saja. Padahal kalau hatinya itu dibedah, akan ada banyak kupu-kupu beterbangan di sana. Glen menggerakkan tubuhnya dan semakin merapatkan pelukan itu. "Iya. Gak ada juga yang cantik kayak kamu," ucapnya lagi, membuat kupu-kupu di hati Nandira beranak-pinak. Hati kecilnya tersenyum lebar, tapi bibirnya berusaha menyembunyikan senyum, sehingga wajahnya itu terlihat sangat lucu. Rasanya dia ingin terbang menembus langit malam. "Gak ada yang lucu kayak kamu, gak ada yang gemesin, gak ada yang suka mabuk perjalanan, pokoknya gak ada yang ngangenin selain kamu." Nandira menggigit bibir bawahnya gemas. Punggung tangannya berusaha menutupi mulut yang ingin tertawa bahagia. Malam itu Glen berhasil membuatnya tersipu-sipu. Rasanya gadis itu sudah melayang di langit malam. "Juga gak ada yang galak kayak kamu," sambung Glen. Nandira hampir terjun bebas dari langit sebab ucapannya barusan. Dia tidak tahu Glen sedang memuji atau menyindirnya dengan kalimat itu, yang jelas dia sedikit sebal sekarang. Ternyata sikap gombalnya dari dulu masih melekat sampai malam ini. Nandira mengerucutkan bibirnya. Glen tertawa kecil merasakan gerakan Nandira yang sedang sebal. Dia membuka matanya, ingin menyaksikan ekspresi lucu yang dibuat gadis itu. Lalu tangan jahilnya mencubit hidung Nandira gemas, diikuti senyuman manis. "Becanda, Sayang. Udah hayuk tidur, besok kesiangan lagi. Kan kita mau jalan-jalan." Nandira mengerutkan wajahnya. "Jalan-jalan ke mana?" "Ke mana-mana hati kita senang." "Serius, atuh," cemberut gadis itu. Glen tertawa lagi. "Aku mau ajak kamu ke suatu tempat." "Tempat apa?" "Ih bawel, sejak kapan kamu berenkarnasi jadi dewi bawel?" ucapnya gemas. Matanya sudah berat ingin segera terlelap. Glen menutup mulut Nandira dengan tangan kirinya. "Sudah diam. Kalau ngomong lagi dapet hadiah cantik," bisiknya setengah sadar. Mereka mulai menyambut lelapnya masing-masing. Tidak ada lagi obrolan, Glen mematikan lampu tidur di nakas, dan kembali memeluk istrinya yang tidur membelakanginya. Sekarang mereka merasa nyaman dalam pejaman masing-masing. Lalu tangan nakal Glen mengejutkan Nandira. "Akh! Glen!" serunya terkejut, tubuhnya terasa seperti disengat lebah. "Maaf nggak sengaja, hehe," ucapnya cekikikan sambil sedikit membuka mata saat Nandira menolehkan kepala ke arahnya. "Nakal, katanya mau tidur," protesnya. "Iya tidur Sayang, sambil mainan, hehe. Itu baru aja kupegang, loh, belum kuis--" Ucapan ngawur itu terpotong sebab Nandira langsung memukul gemas mulut lemes itu. Dari dulu sampai sekarang tidak berubah, kalau bicara sukanya blak-blak-an. "Aduh! Kok dipukul, sih, Yang," protes Glen manyun sambil memegangi bibirnya. Matanya yang tadi sayup-sayup kini terbuka lebar sebab terkejut. "Kaget kan? Aku aja kaget tadi," ucap Nandira. "Nakal, mau kuiket?" ucapnya belaga mengancam. Nandira memutar tubuh untuk menghadap ke arahnya, lalu gadis itu menutup mulut suaminya. "Sudah diam. Kalau ngomong lagi dapet hadiah cantik," ucap Nandira mengikuti ucapan Glen sebelumnya. Pria itu menyipitkan matanya, tanda kalau bibirnya tersenyum lebar di bawah tutupan tangan Nandira. Glen menangkap tangan itu lalu menyingkirkannya dari mulut. Dia tidak membiarkan tangan itu bebas. "Mau dong dapet hadiah cantik," rengeknya sambil merapatkan pelukan. Nandira menggigit bibir bawahnya sambil melirik ke arah lain, sepertinya dia telah salah bicara. Beberapa detik kemudian, entah kenapa suasananya terasa panas. Tangan hangat Glen menangkup pipi chuby gadis di depannya itu, pada akhirnya kecupan hangat tercipta antara mereka. *** Menjelang subuh datang, Glen dan Nandira sudah siap di atas sajadah. Mereka sudah bangun sejak pukul 3 pagi, melaksanakan tahajud bersama, mengaji, salat fajar, hingga datang subuh. Setelah salam akhir, Nandira mencium tangan suaminya. Glen meraih kepala istrinya lalu mencium keningnya untuk mengakhiri ibadah subuh itu. Pukul 07.30, Nandira melengang menuju dapur. Dia hendak memasak pagi itu. Dilihatnya dapur yang masih tampak rapi di sana. Apa selama tinggal di sini Glen tak pernah masak, pikirnya. Gadis itu mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas. Tidak ada makanan lain di sana, selain makanan cepat saji yang siap dimasak. Belum ada 15 menit Nandira berdiri di depan kompor, Glen sudah datang dan memeluknya dari belakang. Membuat gadis itu terkejut. Yang dia tahu, Glen tadi sedang mengurus surat-surat perusahaan. "Selamat pagi, Sayang." "Loh, cepet banget, kamu udah selesai?" tanya Nandira tak percaya. "Udah dong. Aku kan punya kecepatan super." Nandira terkekeh, "Kecepatan super dari Belanda." "Hehe. Aku kangen nasi goreng Kinan," ucap Glen. "Aku udah masak lauk kamu yang ada di kulkas nih, mubazir kalau gak di makan. Nanti malam aja nasi gorengnya." "Hm. Baiklah Nyonya Handika." "Kamu selama sebulan di Indonesia makannya kayak gini terus?" tanya Nandira yang menyangka Glen makan fast food setiap hari. "Iya. Enak, praktis, dan tinggal goreng," jelasnya cengengesan. "Ada-ada aja, nggak sehat makan makanan kayak gini terus." "Sekarang kan ada kamu. Jadi nanti aku gak makan kayak gitu terus." "Kalau gitu nanti temenin aku belanja sayur-sayuran sama bahan masak," pinta Nandira. "Siap Nyonya," jawab Glen. Nandira mengangkat seafood gorengnya. "Kamu nggak ada kegiatan lain apa selain ngelendot mulu. Pegel aku ini dari tadi gak bisa gerak," ucap Nandira sebab suaminya itu dari tadi tidak mau pergi dari belakangnya, dan terus memeluk. "Nggak," jawabnya tanpa beban. "Berada didekatmu membuat napas hidupku terasa semakin panjang," sambungnya. "Pagi-pagi udah gombal aja." "Nggak gombal Sayang, serius." "Dari dulu kamu suka gitu, Glen." "Kok masih Glen sih panggilnya. Sayang, loh, Sayang. Aku goreng nih tangan kamu," ucapnya gemas sambil gangguin tangan Nandira yang sedang membolak-balik gorengannya. "Eh, ngawur." Nandira memutar tubuhnya, menghadap Glen. Dia hendak mencoba menggoda suaminya. "Kalo aku gak mau panggil Sayang, kamu bakal ngapain?" Glen merapatkan kakinya pada gadis di depannya, lalu balik menggoda dengan sentuhan intim. Pria itu memasang raut yang membuat Nandira ingin menyerah saja. Gadis itu kembali memutar tubuhnya. Jangan sampai gorengannya gosong. "Oke, oke Sayang. Jangan di sini ya, please. Nanti malam aja," kata Nandira. "Sekarang," pintanya. "Masih pagi." "Kamu, sih, mancing." "Nggak, aku gak mancing, orang aku masak," gurau gadis itu, membuat suaminya ingin menarik kepalanya ke bawah ketiak. "Kinan...!" sebal Glen. "Beneran, kamu bisa liat sendiri aku lagi masak ikan, bukan mancing ikan," Nandira cekikikan. Dalam hitungan ketiga tubuh gadis itu sudah melayang di udara. Glen menggendongnya setelah mematikan kompor di depannya, lalu membawanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. "Akh! Glen, gorengannya!" teriak Nandira. "Biarin aja," jawabnya. "Kamu bilang mau temenin belanja," protes Nandira. "Nanti malam saja," jawabnya. "Terus jalan-jalannya?" tanya Nandira yang terdengar tersegal. "Besok-besok lagi." "Glen!!! Serius, ukh!" *** Story ini merupakan lanjutan dari Love Faith and Hope, cerita ketika Glen dan Nandira masih remaja. Kalau susah menemukannya, kalian bisa search dengan nama taci fey, nanti muncul semua karya-karyaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN