Giselle

1038 Kata
"Aku mengenalnya, Viktor. Jika kau penasaran dengannya, aku bisa memperkenalkan mu padanya." Jika dilihat dari mimik wajahnya, Zoya sama sekali tidak marah padaku. Apakah dia tidak cemburu dengan balerina prima itu? Namun, aku tidak tahu bagaimana isi hatinya. Timbul beberapa persepsi di benak Viktor. Ia menatap Xandrova yang sedang fokus kepada para penari balet. "Di mana kau mengenalnya, Zoya?" "Oh, Olesya Zakharova adalah teman baikku ketika kami berada di sekolah." Xandrova menjawab pertanyaan Viktor tanpa menoleh. "Zoya, pertunjukan Giselle ini terdiri dari berapa babak?" Viktor bertanya kepada Xandrova yang tengah asyik menikmati pertunjukan balet di depan kedua matanya. "2 babak, Viktor." Babak pertama telah dimulai. Semua mata yang berada di dalam gedung teater Mariinsky memandang ke atas panggung. Viktor menggandeng tangan Xandrova. Viktor melihat adegan demi adegan yang disuguhkan di atas panggung hingga tibalah adegan di mana peran utama mengakhiri hidup. Suara musik pun berganti akhirnya terdengar suara gemuruh tepuk tangan para penonton.. Plok! Plok! Plok! "Aargghhh! Babak pertama yang mengambil latar di Desa Rhineland telah berakhir, Viktor. Dan, berakhir dengan tragis, bukan?" Viktor menatap Xandrova yang sedang berbicara dengannya. Dan, sepertinya wanita tersebut terbawa suasana. Para penari berhasil menguasai suasana hati para penonton. "Ya, benar. Aku sangat menikmati pertunjukannya, Zoya." "Benar, 'kah? Aku sangat senang mendengarnya." Xandrova menatap suaminya sambil mengelus wajahnya sebentar, begitu juga sebaliknya. Suara alunan musik kembali terdengar setelah beberapa menit lamanya. "Viktor, babak ke dua ini akan mengambil latar di makan Giselle yang terdapat di hutan. Bagian inilah menarik hatiku." Viktor melihat Xandrova tersenyum. Namun, ia membalasnya dengan canggung. "Hu'um, Zoya. Aku akan menikmati setiap adegan demi adegan." Adegan dimulai dari penampakan hantu Wilis di makam Giselle yang membuat Hilarion lari dalam ketakutan. Viktor sesekali menoleh ke arah Maksim yang tengah larut dalam suasana pertunjukan balet. Namun entah mengapa, pria itu pun menoleh ke arah Viktor yang sedang memandanginya. Sial! Dia memergoki aku sedang menatapnya, batin Viktor geram. Maksim membalas tatapan Viktor dengan tajam. Namun, sang menantu keluarga Konstantin ini tidak gentar. Ia pun menatap kembali sang tuan muda keluarga Romanov yang sebenarnya tidak diakui oleh sang kakek. Adegan berganti. Viktor tetap mengikuti jalannya pertunjukan balet Giselle dengan hati berdebar. Bukan berdebar karena para penari berhasil merebut suasana hatinya yang naik turun bagai rollercoaster, melainkan karena pria itu sedang memikirkan rencana Maksim selanjutnya yang akan ditujukan padanya dan Xandrova. Di tengah-tengah pertunjukan, tiba-tiba ponsel Viktor bergetar. Dan tentu saja, ia tidak sabar untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan singkat. "Hah? Nomor tidak dikenal?" Viktor bertanya dengan nada pelan agar tidak menggangu Xandrova. "Nikmatilah pertunjukan balet mu, Tuan Viktor!" Viktor membaca dengan lirih sebaris kata yang ditujukan pada dirinya. Viktor: Siapa ini? Dengan cepat, Viktor membalas pesan tersebut. Alih-alih penasaran, Viktor mencoba mengalihkan perhatiannya dari pesan misterius itu dengan memperhatikan setiap gerak tari yang memanjakan kedua matanya. "Hmm? Dia membalas begitu cepat. Pelaku pengirim chat ini pasti berada di dalam ruangan ini." Viktor berbicara seorang diri. Ia segera membuka dan membaca pesan masuk dari nomor tidak dikenal tadi. Nomor tak dikenal: Saya adalah seorang pria yang Anda tatap dengan tajam beberapa saat yang lalu. Ya, begitulah isi balasan pesan Viktor. Dan, ia pun terkejut. "Maksim? Benar, 'kah, dia adalah Maksim?" Menurut dugaan Viktor, pesan singkat tersebut datang dari sang mantan tunangan istrinya. Segera setelah menduga-duga, ia pun menghubungi Caleb. Viktor: Caleb, ada nomor asing mengirimkan saya pesan singkat. Saya akan mengirimkan screenshot kepadamu. Tolong selidiki apakah benar nomor tersebut adalah nomor Maksim atau bukan? Viktor mengirimkan pesan tersebut kepada Caleb sekaligus mengirimkan screenshot. Setelah itu, ia menyimpan ponselnya kembali ke saku jasnya. "Viktor, lihatlah!" Xandrova menunjuk para penari hantu menghilang. Viktor pun mengikuti arah pandang Xandrova dan mengingat sesuatu. Oh, bukan 'kah pertunjukan balet babak ke dua akan segera berakhir saat semua hantu menghilang? tanya Viktor di dalam hatinya dengan sungguh-sungguh. Dan benar saja dugaan Viktor. Fajar telah menyingsing dan berhasil menghancurkan kekuatan Wilis. "Setelah ini, Giselle akan kembali ke lubang makamnya dan rohnya akan segera dibebaskan dari pengaruh kekuatan Wilis." Viktor mendengarkan kata-kata Xandrova dalam diam. Dan pertunjukan balet pun berakhir adegan Albrecht dilanda sedih berkepanjangan dan hidup sendirian tanpa Giselle. Suara alunan musik berangsur mulai menghilang dan menandakan berakhirnya pertunjukan balet Giselle yang disuguhkan oleh Teater Mariinsky. Lampu kembali menyala dan suara gemuruh tepuk tangan pun terdengar bersamaan dengan berbarisnya para penari. Viktor melihat Xandrova berdiri seperti penonton lainnya sambil bertepuk tangan. Melihat hal demikian, Viktor mengikutinya. "Oh, mengapa Caleb tidak juga membalas pesanku?" Viktor bertanya dengan pelan. Ia melihat para penari sedang membungkukkan badan mereka seraya tersenyum. "Olesya Zakharova, gerakan tari mu benar-benar indah!" Xandrova berteriak memuji teman sekolahnya. "Zoya, kau tahu, 'kan? Jarak dari tempat duduk kita ke panggung sangat jauh." Xandrova mengangguk sambil melukiskan senyum yang mampu membuat hati Viktor tenang. "Tentu saja aku tahu. Aku suka sekali berteriak untuk memuaskan keinginan ku, Viktor." "Oh, begitu rupanya. Ha ha ha!" Viktor merespon jawaban sang istri sambil tertawa. Penonton mulai meninggalkan tempat duduk mereka. Dari kejauhan, Caleb datang mendekati Viktor dan Xandrova. "Selamat malam, Tuan Viktor dan Nona Zoya. Mari kembali ke hotel untuk beristirahat!" Usai mengucapkan kalimat ajakan barusan, Caleb pun mendekati Viktor. "Tuan Viktor, nomor asing tersebut milik nomor Tuan Maksim. Menurut saya, dia memilikinya dari catatan khusus para pebisnis yang akan bekerja sama dengan perusahaan mereka." Viktor mengangguk mendengar bisikan Caleb. "Ayo, Viktor! Aku pun sudah lelah. Namun sebelum kembali ke hotel, sebaiknya antarkan aku ke minimarket terdekat untuk membeli beberapa macam makanan ringan. Bagaimana?" Viktor tersenyum dan hendak membuka mulutnya, tetapi seseorang telah menyela pembicaraan mereka. "Sepertinya Anda sedang terburu-buru, Nona Zoya! Apakah Suami Anda tidak mengajak ke restoran untuk menikmati makan malam romantis bersama?" Viktor dan semua orang di sana sangat mengenal wajah pemilik suara tadi. Viktor melihat Xandrova sedang menggeleng ke arahnya. "Itu bukan urusan Anda, Tuan Maksim." Viktor mendengar Xandrova menjawab pertanyaan Maksim dengan ketus. Istrinya sama sekali tidak ingin menoleh ke tempat Maksim berdiri karena pria itu berdiri tepat di samping Xandrova. "Baiklah, Zoya. Mari kembali ke hotel!" Akhirnya Viktor mengambil alih suasana. "Maaf, Tuan Maksim. Kami tidak memiliki cukup waktu untuk berurusan dengan Anda karena kami harus kembali ke hotel." Viktor mengatakannya dengan tegas diiringi dengan tatapan tajamnya. "Oh, tentu saja. Saya tidak akan menghalangi keinginan kalian. Namun ke depannya, kita akan sering berjumpa, Tuan Viktor Gusev Konstantin. Ha ha ha!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN