Davidoff's Trap

1018 Kata
Davidoff bertanya sambil meletakkan alat makannya. Ia menatap Galana seraya menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana menurut mu, Galana? Bukankah itu hanya bunga?" Hah?! Apa?! Hanya bunga?! Namun, apakah Papa tahu bahwa setiap bunga memiliki arti tersendiri?! Viktor menatap bunga mawar merah di tangan Feliks. Apakah kalian tahu, arti bunga mawar merah? Benar! Bunga mawar merah melambangkan cinta dan kasih sayang. Berbeda dengan warna bunga mawar lainnya. "Bawa pergi buket bunga itu jauh-jauh dari sini!" Viktor telah membuat keputusan yang mengejutkan banyak orang. Feliks menatap tuannya guna menunggu instruksi selanjutnya. Tidak lama kemudian, Feliks mengangguk setelah Maksim menjentikkan jari. "Viktor, jangan keras kepala!" Lagi, Davidoff menegur Viktor dengan keras. Begitu juga dengan Galana yang sama gusarnya seperti sang suami. "Berapa kali harus saya katakan, Viktor! Itu hanya sebuah buket bunga." "Maaf, Ma. Saya tetap pada pendirian saya." Sesuai wataknya sedari dulu, Viktor memang keras kepala. Dan, pria itu selalu memegang teguh pendiriannya. "Oh, tidak apa-apa, Pa, Ma. Setiap bunga memang memiliki arti tersendiri. Namun Anda tidak perlu risau, Ma! Karena saya masih memiliki beberapa hadiah lain untuk Zoya." Usai Maksim merampungkan kata-katanya, Feliks membungkukkan badan, lalu pergi dari sana. Viktor melirik Maksim sambil tersenyum getir. Sial! Rencana apalagi yang dimiliki oleh Maksim kali ini?! Viktor mulai berprasangka buruk kepada Maksim. Karena dengan memberikan berbagai macam hadiah, tentu saja di balik semua itu tersirat makna terselubung. "Saya memberikan semua ini sebagai rasa syukur atas kesembuhan Zoya. Itu saja." Hening. Tak ada seorangpun yang membuka mulut mereka untuk sekadar merespon ucapan Maksim barusan. Viktor melihat wajah Xandrova memerah. Apa yang sedang kau pikirkan, Zoya? Apakah kau menginginkan hadiah-hadiah itu? Sedangkan aku ... aku merasa harga diriku telah terinjak-injak olehnya. Viktor menghela napasnya dalam-dalam ketika melihat Feliks datang membawa beberapa kotak hadiah di tangannya. Feliks tidak datang seorang diri, melainkan bersama dua pria asing berpakaian sama. Feliks dan kedua pria tadi terlihat kewalahan membawa semua kotak hadiah tersebut. "Saya sudah membawa semuanya, Tuan." Davidoff dan Galana tidak bisa berpaling dari banyaknya hadiah yang dibawa oleh Maksim dan kedua pria lainnya. "Letakkan semua kotak itu di atas meja!" Feliks meletakkan hadiah-hadiah tersebut di atas meja panjang sesuai arahan Maksim. "Hah?!" Xandrova memekik terkejut. Sedangkan kedua orang tuanya yang mencintai harta menatap tumpukan hadiah tersebut dengan kedua mata penuh gairah. Setidaknya ada selusin kotak hadiah dengan berbagai warna dan ukuran. Beberapa diantaranya memiliki ukuran yang sama. Namun, apakah ada yang paling berharga? Viktor kembali berpikir keras. Hati kecilnya berkata bahwa ada yang tidak biasa diantara banyaknya hadiah yang diberikan oleh Maksim kepadanya. "Astaga!" Davidoff histeris hingga membuyarkan lamunan Viktor. "Suaramu bagaikan petir di tengah hujan, David. Tidak tahu 'kah kau?!" Galana menegur Davidoff yang terlihat sedang panik dan berpikir. "Saya kehilangan smartphone, Galana. Apakah saya menitipkannya padamu?" Davidoff meraba-raba kedua saku celananya bergantian, kemudian pria tersebut juga meraba-raba saku pakaian musim panasnya. "Tidak, David. Apakah kau meninggalkannya di kamar?" Wajah panik Galana tersirat jelas di mata Viktor. "Astaga! Kau benar, Galana. Saya meninggalkannya di atas nakas, tepat di samping ranjang." Davidoff akhirnya mengingat di mana ia meletakkan benda pipih canggih tersebut. "Saya ingin sekali mengabadikan momen malam ini, tetapi mengapa smartphone saya tertinggal?! Baiklah. Saya akan pergi mengambilnya." Baru saja Davidoff hendak berdiri, tiba-tiba saja Galana menahannya. "Viktor, bisa 'kah kau mengambilkannya?" Mendengar perintah sang ibu mertua, sontak membuat Viktor dan Xandrova saling melemparkan pandangan. "Viktor, bagaimana ini? Apakah kau akan pergi mengambilnya?" Viktor mengangkat kedua bahunya. Ia khawatir dengan Xandrova dan tidak berniat meninggalkannya. "Viktor?" Galana mengulanginya. Sedangkan Maksim hanya melihat keduanya dengan tatapan sinis. "Baiklah. Saya akan mengambilnya." Viktor menyetujui permintaan Galana. Dan segera setelah itu, Galana menyerahkan cardlock miliknya kepada Viktor. "Bawalah!" Galana tersenyum seraya menatap Viktor dengan tajam. Wanita itu mengangkat alisnya sebelah serta menganggukkan kepala saat berbicara dengan Viktor. Aku merasa bahwa ekspresi Mama menunjukkan sikap mencurigakan. Apakah ini adalah sebuah jebakan? Semoga saja, pikiranku salah. Viktor meraih cardlock tersebut sambil berkata-kata di dalam hati. "Berhati-hatilah, Viktor!" Entah mengapa Xandrova berkata seperti itu. Hal ini adalah kali pertama Xandrova mengkhawatirkan suaminya. "Jangan katakan hal itu padaku, Zoya. Namun, katakanlah untuk dirimu sendiri!" Viktor mengusap pelan pucuk kepala Xandrova. "Aku akan segera kembali." Xandrova mengangguk. Ia mempercayai ucapan Viktor karena pria yang menikahinya tersebut tidak pernah ingkar. Viktor berdiri dan mulai berjalan memutari meja tempat ia dan keluarga Konstantin makan malam. Ia sempat menatap Maksim sebentar. Namun, akhirnya pria itu berjalan semakin menjauh. ** Viktor menempelkan cardlock di tangannya. ke sensor yang berada di lift Four Seasons Hotel. Tidak lama setelah pintu tertutup, ia merogoh smartphone untuk melihat notifikasi yang masuk. "Ah! Sial! Tidak ada sinyal sama sekali!" Untung saja, Viktor hanya seorang diri di dalam lift sehingga ia bebas berteriak sesukanya. Sesekali Viktor menatap angka yang tertera di lift. Setelah muncul angka 7, lift berhenti dan pintu pun terbuka. "Maaf." Masih menggenggam smartphone-nya, Viktor ke luar dari sana dengan terburu-buru hingga tidak sengaja menyenggol lengan seorang wanita yang berjalan di depannya. Hampir saja smartphone-ku terjatuh! seru Viktor di dalam hati. "Tidak apa-apa." Oh, astaga! Bukankah dia adalah wanita di pinggir sungai Neva yang sedang berbincang dengan Papa siang tadi? Viktor mengenali wajah wanita tersebut. Ia berbicara di dalam hatinya sambil tersenyum. "Sekali lagi, saya meminta maaf, Nona. Permisi." Sadar akan keadaan yang mendesak, Viktor tidak ingin membuang waktunya untuk wanita tersebut. Ia bergegas berlari agar sampai di tujuan dengan cepat. "Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyelidiki wanita itu. Karena prioritas utamaku adalah Zoya." Viktor tiba di depan kamar mertuanya. Ia menempelkan cardlock di tempat semestinya. Viktor segera mendorong pintu ketika lampu sensor berwarna hijau dan berbunyi. "Aku harus bergegas." Tanpa menunda waktu lagi, Viktor berjalan menuju nakas, tempat di mana Davidoff meletakkan smartphone. Kedua mata Viktor menyala. "Di mana benda itu?" Kosong. Di atas nakas tidak ada apa-apa. Kemudian, Viktor membuka laci satu persatu dengan cepat. "Di dalam semua laci pun tidak ada." Viktor kebingungan. Ia segera pergi ke sofa di mana ayah mertuanya sering duduk. "Di sini tidak ada juga!" Viktor berjalan menuju meja rias. Kedua mata tajamnya menyoroti setiap benda yang berada di sana. Konsentrasi Viktor terpecahkan ketika smartphone miliknya bergetar. Ia segera menempelkan ibu jari kanan di layar smartphone, lalu membuka notifikasi yang masuk. "Zoya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN