The Big Plan

1012 Kata
"Tuan Gennadius, maaf jika saya lancang menyela pembicaraan Anda dengan Tuan Viktor. Namun menurut pendapat saya, apa yang dilakukan oleh Tuan Viktor sudah benar." Andriy angkat bicara untuk membela sang tuan. "Sebagai seorang pebisnis, Tuan Viktor hanya mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi di masa depan. Karena mengingat hubungan dua keluarga yaitu keluarga Konstantin dengan keluarga Romanov sedikit merenggang akibat putusnya pertunangan antara Nona Zoya dengan Tuan Maksim." Andriy mencoba menghilangkan kesalahpahaman yang terjadi diantara Gennadius dengan Viktor. "Dan menurut saya, Tuan Viktor sangat cocok memegang posisi sebagai tim kuasa hukum atau pun sejenisnya, Tuan Gennadius." Ya, aku lebih menyukai posisi kuasa hukum perusahaan jika dibandingkan dengan asisten Kakek. Semoga saja Kakek mendengarkan saran Andriy. Viktor membatin seraya berharap bahwa Gennadius akan mengabulkan keinginannya. "Mari kembali ke kantor!" Gennadius tidak menanggapi saran Andriy. Yuri memberikan tingkat Gennadius. Viktor lantas membantu sang tuan besar berdiri. ** Viktor berada di ruang kerjanya bersama Andriy. Aku merasa tidak sehat saat aku tidak bisa bertemu dengan Zoya selama beberapa jam. Viktor merindukan sosok Xandrova. Ia berbicara dengan dirinya sendiri. "Tuan Viktor, kedua kandidat bodyguard untuk Nona Zoya akan datang besok pukul 9 pagi waktu St Petersburg, Rusia." "Oke." Viktor menjawab seadanya. Ia memang tidak pernah berbicara dengan satu kalimat utuh jika bukan bersama Xandrova dan jika tidak ada hal penting untuk disampaikan. Viktor berdiri merapikan jasnya. "Saya akan pergi ke ruangan Kakek. Kau tetaplah di sini dan selesaikan pekerjaan mu sebelum jam pulang kantor, Andriy!" "Tentu saja, Tuan Viktor." Viktor berjalan membawa sebuah dokumen untuk diperlihatkan kepada Gennadius. Ia membuka pintu ruang kerja dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Gennadius yang terletak di ujung koridor lantai 7. Untuk seorang pria tampan seperti Viktor, tentu saja ia memiliki beberapa penggemar wanita di perusahaan Konstantin Co. "Halo, Tuan Viktor." Seorang wanita berpapasan dengan Viktor. Wanita tersebut membungkukkan badan. Viktor dapat melihat dengan jelas bagian sensitif wanita tersebut yang mengintip dari balik kemejanya. "Hmm ...." Viktor berdeham seraya terus berjalan tanpa memedulikan si wanita yang sama sekali tidak ia kenal. "Oh, maaf, Tuan Viktor!" Si wanita sedikit berteriak memanggil Viktor. "Ya?" Viktor menoleh ke belakang tepat di mana si wanita berdiri. "Tali sepatu Pantofel Anda terlepas." Si wanita menunjuk tali sepatu Viktor sehingga membuat pria beristri itu mengikuti arah pandangnya. "Oh ...." Viktor segera berjongkok untuk mengikat tali sepatunya. Bukannya pergi, si wanita justru menikmati waktunya untuk menatap pria tampan di depannya. "Ellena?" Seseorang memanggil si wanita. Oh, jadi namanya Ellena. Kalau tidak salah, dia adalah wanita yang kutemui di lobby pagi tadi. Viktor berkata di dalam hatinya. Ia berdiri dan mulai melangkahkan kakinya. "Oh, Katerina. Mengapa kau menggangguku? Lihatlah! Tuan Viktor telah pergi dan aku belum sempat memperkenalkan diriku kepadanya!" Viktor mendengar samar-samar apa yang tengah dibicarakan oleh kedua wanita itu. Pria itu tidak mempedulikannya. Ia berbelok ke kanan di mana ruang kerja Gennadius berada. Viktor hendak mengetuk pintu ruang kerja Gennadius, tetapi ia mendengar percakapan dari dalam sana. "Tuan Gennadius, saya pikir apa yang dikatakan oleh Andriy di restoran tadi tidaklah buruk." Viktor tidak jadi mengetuk pintu ruang kerja Gennadius. "Tidak, Yuri. Kau tahu apa rencana jangka panjang yang telah saya persiapkan untuk Viktor, bukan?" Rencana jangka panjang apa?! Apakah Kakek telah merencanakan sesuatu untukku?! Viktor sangat penasaran dengan maksud ucapan Gennadius. Ia tidak berhenti bertanya-tanya pada dirinya. "Ya, saya mengerti, Tuan Gennadius. Anda ingin membentuk kepribadian Tuan Viktor seperti diri Anda agar siap menggantikan posisi Anda suatu saat nanti." Hah?! Aーapa?! Apakah pendengaran ku tidak salah?! Viktor kembali bertanya-tanya di dalam hatinya. "Benar. Saya tidak bisa mempercayai David sama sekali. Karena sekali seseorang berkhianat, maka seterusnya akan seperti itu." Gennadius merespon ucapan Yuri. Di depan pintu ruang kerja Gennadius, Viktor tidak bisa lagi berdiam diri lagi. Ia segera mengetuk pintu ruang kerja Gennadius. Tok! Tok! Tok! Viktor membuka pintu, lalu melangkah masuk dengan tergesa ke dalam sana. "VikーViktor?" Gennadius terperangah melihat kedatangan Viktor. "Kakek, saya membawakan dokumen yang telah selesai direvisi. Silakan diperiksa dan ditandatangani jika sudah tidak ada yang salah!" Viktor meletakkan dokumen yang dibawanya di atas meja. Ia tidak langsung pergi dari sana, melainkan menatap Gennadius. "Ada apa, Viktor? Apakah ada yang ingin kau bicarakan?" Gennadius bertanya karena melihat Viktor seperti sedang kebingungan. Aku tidak mungkin bertanya mengenai apa yang kudengar tadi. Karena Kakek akan curiga kepadaku. Lalu, apakah aku akan mati penasaran? Viktor bergumam di dalam hatinya. Ia tidak ingin berlama-lama menyimpan rasa penasaran di dalam hatinya. "Tidak ada, Kek." Akhirnya Viktor memilih untuk berbohong kepada Gennadius. "Kalau begitu, saya permisi." Viktor menundukkan kepalanya, lalu membalikkan badan hendak beranjak pergi. Namun, suara Gennadius membuat Viktor mengurungkan niatnya. "Tunggu, Viktor!" "Ya, Kakek? Apakah ada hal lain lagi yang harus saya kerjakan?" Gennadius memberikan isyarat kepada Yuri untuk segera meninggalkan ruangannya. Viktor mendengar suara pintu tertutup. "Duduklah, Viktor!" Viktor melakukan apa yang diperintahkan oleh Gennadius. Apakah Kakek akhirnya akan berterus terang kepadaku? tanya Viktor di dalam hatinya ragu. "Yuri berkata bahwa kau ingin menanyakan sesuatu pada Kakek? Apa itu, Viktor?" Viktor menatap sebuah lukisan yang berada tepat di belakang Gennadius. "Benar." Viktor tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari lukisan tersebut. "Kakek, kalau saya boleh tahu, siapa wanita di lukisan itu?" Viktor menunjuk lukisan yang tergantung di belakang Gennadius. "Oh, itu adalah Istri saya, Viktor. Mama dari Davidoff." Gennadius menjawab pertanyaan Viktor seraya menoleh ke belakang. Ia tersenyum ketika menatap lukisan tersebut. "Saya sangat mencintainya seperti kau mencintai Zoya." Gennadius melanjutkan ceritanya. "Jadi, apa yang akan kau tanyakan kepada Kakek, Viktor?" Viktor mengerjap sesaat. "Saya ingin tahu, bagaimana cara Kakek mengatasi keamanan keluarga Konstantin? Terutama untuk orang-orang yang Kakek sayangi." Gennadius mengubah posisi duduknya. Ia mendekatkan wajahnya kepada Viktor. "Apakah kau ingin menyewa seseorang untuk menjaga Zoya? Katakan kepada Kakek, viktor!" Viktor mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Gennadius. "Jika begitu, saya akan membantumu, Viktor. Saya memiliki banyak sekali seseorang yang bisa menjaga Zoya." Viktor tersenyum. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi. "Terima kasih atas penawaran Kakek. Namun, itu sama sekali tidak perlu. Saya telah menemukan 2 kandidat untuk Zoya. Dan, keduanya adalah wanita." Gennadius terlihat semakin tertarik dengan jalan pikiran Viktor. "Mengapa kau memilih seorang wanita, Viktor?! Bukan 'kah pria lebih tangguh daripada wanita?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN