Pembantai internasional

1389 Kata

Jaya begitu marah. Nafasnya memburu, wajahnya merah padam. “Ada apa ini, Jaya? Kenapa kau harus berteriak begitu?” tanya Rayyan dengan nada kesal. “Si Sahara, Bang… dia… dia kabur!” teriak Jaya, suara meledak-ledak. “Pelankan suaramu, Jaya!” bentak Rayyan tajam. “Aku tidak peduli! Kau tahu, Bang… kalau dia kabur, dia bisa lapor polisi!” Jaya memukul tembok, frustasi. “Biarkan saja. Bukankah polisi juga sudah tahu kalau kita sering buat ulah? Apa kau lupa?” balas Rayyan acuh, seolah itu bukan masalah besar. “Tapi Bang… markas kita! Dan juga… rahasia kita!” suara Jaya pecah, campuran marah dan takut. Rayyan hanya menggeleng, tak mau memperpanjang. Ia berbalik naik ke lantai atas, meninggalkan Jaya yang menggertakkan giginya. Jaya memandangi anak buahnya satu per satu. Semua diam, tid

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN