Pulang

2296 Kata

Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, suara batinku. Aku berusaha untuk terlihat tenang dan anggun sembari menatapnya. Jangan sampai menunjukkan kebodohan dengan meladeni debat kusir gadis muda dihadapan ku ini. Dia berjalan dengan santai sembari memegang pergelangan tangan calon suamiku. Entahlah hubungan kekeluargaan macam apa ini yang bisa menjadikan keduanya begitu dekat. Kekerabatan yang seperti apa aku pun belum bisa menyelidikinya. "Kak nanti Gadis di rumah Kaka ya," ucap Gadis. "Kamu istirahat di rumah kamu sendiri saja. Nanti pulang sama mama ya," sahut Haveda. "Engga mau pulang. Gadis pingin tinggal di rumah Kaka saja," rengek Gadis. "Ehemmmmm, uhuk ... uhukk ... duh gatel banget tenggorokan ku," ucapku seraya mengencangkan suara untuk menarik perhatian Haveda.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN