 Harga Sebuah Permohonan

1918 Kata
  " Exsa." Ucapnya lesu. " Apalagi?." Pangeran bermata biru rubi itu menghentikan langkahnya menatap wajah Jeff yang pucat. Semua penghuni pasar yang mereka lewati seolah tak mampu berkedip karna kagum, sama seperti kamis kamis sebelumnya dimana sang putra mahkota selalu melewatinya untuk berburu.Ya, harus diakui dia memang berwajah rupawan. Jeff melangkah pelan lalu berbisik ditelinganya " Lebih baik kita kembali saja, kau belum menyelesaikan urusanmu dengan wanita kemaren." Bisiknya lirih. Mendengar itu Exsa tersenyum kecut " Dia sudah aku musnahkan." Seringainya tanpa rasa bersalah lalu melanjutkan perjalanannya. Busur panah di pundaknya semakin menambah daya pikat yang membuatnya terlihat elegant dan gagah Jeff  hanya bisa menarik napas menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali mengikuti Exsa bersama beberapa pengawal dibelakangnya. Hingga... DEG. Jeff menatap punggung Exsa yang tiba tiba menghentikan langkahnya ditengah pasar. Sudut matanya melirik seorang gadis yang tampak sibuk merapikan dagangannya. Beberapa saat kemudian dia tersenyum simpul lalu berbalik. " Ada apa?". Tanya Jeff heran. Exsa mengangkat alisnya memberikan isyarat. Pemuda berambut gelap itupun melihat kearah sang gadis. Senyum tersungging dibibirnya mengerti. Ia kemudian melangkah kearahnya. " Selamat siang nona." Sapanya hangat. Sontak gadis itu menoleh menatap Jeff dan saking gugupnya gelas kaca ditangannya hampir saja jatuh dan pecah. Baru pertama ia melihat bangsawan serupawan pemuda didepannya. Jeff yang reflek menahan tangannya. " Hati hati." Senyumnya semanis sentuhan matahari dipagi itu. Exsa mendekati Jeff dan membuka tudungnya. Gadis itu dibuatnya menunduk karna malu. " Pangeran." Tunduknya penuh hormat. Melihat wajahnya dari dekat membuat pangeran yunani itu tersenyum simpul " Cantik." Gumamnya Itu pertama kali aku melihat gadis yang begitu anggun Rambut brown gelombangnya yang lembut Kulitnya yang putih dan wajahnya yang merona Alis tebal dan bibir merah menggodanya Benar benar mampu membuatku bergetar. " Siapa namamu?". Tanya Exsa lembut. Gadis itu kembali menatap wajah tampannya sekilas lalu kembali tertunduk. " Däyna pangeran." Jawabnya. Exsa memegang pundak Jeff lembut dengan isyarat dia menginginkan gadis itu. Jeff mengangguk lalu mengajak gadis penjual kaca itu agar ikut dengannya ke suatu tempat disemak rindang Sepanjang mengekori Jeffan gadis itu sama sekali tak melepaskan pandangannya. Akhirnya aku menemukanmu lien - batinnya Siapakah dia sebenarnya?? " Apa kau tahu siapa aku?". Tanya Jeffan mengawali pembicaraan. Kulit putihnya terlihat sepucat salju dibawah sinar matahari kala itu. Gadis bernama Dayna itu menggigit bibir bawahnya pelan lalu mengangguk " Kau adalah Jeffan Lien, lulusan akademi bangsawan pada usia 10 tahun dan sahabat baik sang pangeran. Kau juga memenangkan ratusan kali olimpiade memanah. Tak ada yang tak mengenal anda tuan." Ujarnya penuh kagum. Cahaya dimatanya berkobar kobar menatap Jeffan. Pemuda itu mengernyit sekilas. " Bagaimana kau tau, dari mana asalmu?". Tanyanya mengernyit. Dengan satu tarikan nafas Dayna meremas kedua tangannya gugup. " Saya menyukai anda tuan. Rasanya seperti mimpi bisa bertemu dengan anda secara langsung." Ucapnya tanpa ragu. Mendengar itu raut wajah Jeffan berubah pucat. Pemuda itu meletakkan telunjuknya didepan bibirnya. " Ssssttt jangan bicara lagi. Kau lihat pangeran Exsa?". Tunjuk Jeff serius. Gadis itu mengangguk perlahan. " Bagus, malam ini datanglah keistana. Berikan ini pada penjaga gerbang dan dia akan mengerti." Ucap Jeff menyerahkan sapu tangan merah ditangannya. " Untuk apa ini?". Tanya gadis itu mengernyit. " Apa kau berasal dari negeri yang jauh sampai harus bertanya hal seperti ini? Ini artinya emas bagimu. Pangeran menyukaimu dan memberimu kesempatan untuk bersamanya." Senyum Jeff meyakinkan. Namun... " Aku bukan p*****r!". Raut wajah gadis itu berubah datar. " Sssttt kubilang diamlah dan menurut. Apa kau tidak mau mendapat kesempatan?". Tekan Jeff. " Tidak!! Katakan pada pangeranmu aku tidak tertarik padanya. Aku bukan pelacur." Decaknya lalu melempar sapu tangan itu ketanah. Jeff menggaruk kepalanya bingung. Gadis itu hendak membalikkan badannya. Namun... " Tunggu, kumohon demi aku datanglah.. dia bisa membunuhku." Tekan Jeffan menahan lengannya. Gadis itu terhenyak seketika. Entah kenapa menatap wajah Jeff membuatnya luluh. " Tuan .. " Aku mohon.. kau bisa menolaknya nanti.. datanglah." Ucapnya Sejenak suasana hening. Beberapa saat wajah cantiknya terdiam.. dan beberapa detik kemudian... " Baiklah." Sanggupnya dengan berat hati. *** Malam itu adalah awal dari sejarah tak tertulis yang ada. Exsa tersenyum manis menatap gadis yang baru saja diantarkan pelayan kepadanya. Dia benar benar cantik, dress panjang yang dia kenakan dengan belahan diatas lutut memperlihatkan kemulusan tubuh moleknya. " Akhirnya kau datang juga... Dayna." Ucap sang pangeran lembut. Jari jari kekarnya mengusap pelan dagu gadis itu membuatnya mengerjab beberapa kali. Pangeran itu memang sangat rupawan.. Harus aku akui Dia salah satu pria tertampan yang pernah aku lihat Mungkin yang paling sempurna Pantas saja semua gadis tergila gila padanya.. Tapi, aku tidak datang untuk ini.. Hanya dengan mencium aromanya. Exsa sudah hanyut kedalam perasaannya. Dibelainya rambut gadis itu lembut. Namun... " Pangeran!!". Cekal Dayna saat Exsa hendak menciumnya. Gadis itu menahan d**a bidang Pemuda didepannya lalu menatapnya enggan. " Ada apa?". Tanya Exsa dengan nada meninggi. " Bukan untuk ini saya datang kemari.. sa..saya.. maafkan saya pangeran ta..tapi.. " Tapi apa?". Exsa mengernyit tak suka. Gadis itu diam beberapa saat sembari menundukkan wajah cantiknya. " Sa..saya tidak ingin melakukan ini pangeran." Ucapnya takut takut. Mendengar itu Exsa mengepalkan tangannya erat. Baru kali ini ada yang berani menolaknya. Emosinya hampir saja meluap. Tidak sampaiiii... Dayna mengangkat wajah cantiknya, air matanya mengembun lalu menetes keluar. " Saya ingin melayani anda tapi.. hati saya .." gadis itu tak meneruskan kata katanya. Seolah ada luka yang begitu besar didalam hatinya. " Ada apa.. katakan ?". Exsa memegang pundaknya luluh. Entah kenapa hatinya seolah tercubit melihat air mata mengalir indah dari mata cantiknya. Irish mata coklatnya menatap Exsa penuh harap. Pandangan yang untuk pertama kalinya membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Apakah dia.. jatuh cinta?? " Kemarilah, kau boleh mengatakan alasanmu." Ucapnya menarik lengan halus gadis itu ketepi ranjangnya. Dengan tangis terisak, Dayna menceritakan semuanya. Tentang keluarganya yang sangat menjunjung tinggi ajaran agama agar tidak melakukan hubungan terlarang sebelum menikah. Tentang segala hal yang membuatnya berat. Dan entah kenapa Exsa begitu hanyut mendengarkannya. Jam menunjukkan tengah malam saat gadis itu selesai menceritakan segalanya. Perlahan ditatapnya wajah pangeran tampan itu lekat. " Maafkan saya." Ucapnya. Exsa menarik nafas lalu tersenyum. Ditariknya lengan gadis itu lalu meremasnya lembut " Dengar, aku sudah 17 tahun dan itu artinya aku bisa menikah. Aku sangat menyukaimu dan aku jatuh cinta padamu. Dayna.. aku akan menikahimu." Ucap sang pangeran tegas membuat Dayna mengerjab beberapa kali. " Benarkah?". Tanyanya berbinar. " Iya.. tak ada jalan lain. Aku rela melakukan apapun untuk mendapatkanmu." Senyum Exsa. " Tapi pangeran.. saya... " Sssttt tak ada alasan lagi. Kemarilah, aku ingin memelukmu." Bantah Exsa lalu menarik tubuh mungil gadis itu kepelukannya. Menghirup aromanya saja benar benar membuat pemuda itu hilang akal. Gadis itu terdiam beberapa saat dengan ekspresi bingung. Namun.. beberapa detik kemudian dipelukan sang pangeran.. dia mengulas senyum. Sekarang, aku memiliki lebih dari kesempatan untuk membalasmu Kerajaan Félix yang agung. Aku akan menjadi ratu disini - batinya. Ia membalas pelukan Exsa membuat pemuda itu tersenyum senang. Harus bagaimana?? Aku benar benar menyukainya. Dan inilah kesalahan terbesar yang aku buat *** Dilain tempat.. " Izikaaa.. izika.. bangun nak.. izika..??". Tangisan itu masih bisa didengar ditelinganya. Suara sirine ambulance yang membawa tubuhnya kesebuah ranjang putih. Tangan kasar dan tegas ayah angkatnya. Dimana aku?? Kenapa aku tak bisa membuka mataku?? " Izikaaa...". Teriakan histeris itu seolah menghantam dadanya. Tubuhnya tak lagi bergerak. Kejadian tadi benar benar mengerikan. Sakiiitt.. aku kesakitan.. Dimana aku?? Apa aku sudah mati?? Pemuda itu tersenyum menatapnya dari sebuah cahaya. Entah siapa dia wajahnya terlihat buram. Dia melambaikan tangannya yang mengeluarkan kilatan cahaya. Cahaya yang kemudian menghantam tubuh sekarat itu. Hingga.. " Bangun nak.. bangun.. jangan tinggalkan ayah.. sayang bangunlah.." Suara tangisan itu semakin jelas. Terdengar semakin banyak dan menyesakkan. Ada dorongan kuat yang membuat Izika bisa menggerakkan tangannya. " Bangunlah sayang.. jangan tinggalkan ayah." Suara itu kembali semakin pekat. Perlahan, Izika merasakan cahaya menerjang kelopak matanya. Seluruh sakit ditubuhnya seolah memudar. Keajaiban seolah membuatnya kembali. Kelopak matanya mulai bergerak kekanan dan kekiri, hingga akhirnya terbuka. Hal pertama yang ia rasakan adalah.. " Sakit." " Syukurlaaah." Ucap sebuah suara yang tiba tiba merangkulnya erat. Izika sadar. Dan ini sebuah keajaiban. Namun... Perlahan gadis itu melihat sekitarnya. Raut wajahnya yang pucat semakin bingung.   IZIKA POV Dimana aku?? Apa ini kamarku? Atau ini kamar rumah sakit? Aroma aneh dan suasana aneh ini Apa aku sudah mati? Aku melihat seorang lelaki tua dengan janggut pirang tebalnya menangis dan memelukku. Siapa dia?? Para wanita berpakaian aneh dan kuno mengelilingiku dengan wajah memerah. Apa mereka malaikat. Tapi.. " Awww." Aku merasakan sakit saat mencoba bergerak " Diamlah sayang jika ada yang kau inginka, kau tinggal memerintah saja. Ayah khawatir." Ucap pria tadi membuatku mengerjab beberapa kali. " Aku? Kenapa? Dimana aku?". Tanyaku bingung. Kepalaku rasanya sakit dan semuanya terasa semakin aneh. " Kau terjatuh saat latihan berkuda, tubuhmu berguling dan perutmu tertusuk bambu, kepalamu terbentur pepohonan dengan keras. Kau tidak sadar selama satu bulan lamanya nak." Tutur orang itu membelai wajahku lembut. Aku terdiam beberapa saat Itu kedengarannya memanglah diriku.. Tapi kenapa?? Aku jadi semakin bingung?? " Akira istirahatlah nak.. ayah akan meminta tabib memeriksamu." Ucapnya sukses membuatku melongo. Apa katanya barusan?? " Tunggu!!". Teriakku menarik tangan tuanya. " Ada apa nak? Kau butuh sesuatu? Dia kembali duduk disisiku " Kau memanggilku apa tadi? Akira? Siapa itu akira? Aku Izika.. aku.. aku.. awwww." Aku kembali memijit kepalaku yang terasa nyilu. Pria tua itu terlihat pucat mendengar ucapanku " Siapa kau.. mengapa kau terus memanggilku nak ?". Teriakku memekik. Aku lihat dia semakin pucat. Dia berdiri lalu berlari keluar tergopoh gopoh seolah sangat panik. Beberapa wanita aneh tadipun ikut keluar. Aku melihat diriku sendiri. Tubuhku terasa lebih halus dan bersih. Apa aku tidur lebih lama? Rambutku tampak lebih cerah dan panjang. Dan pakaianku.. Tubuh mulusku hanya dibalut dengan pakaian aneh yang mirip kimono dengan coverbad yang sangat lembut diatasnya. Kuperhatikan ruangan yang aku tempati tampak sangat luas dan megah. Apa aku bermimpi?? Beberapa saat aku terdiam, hingga laki laki tua tadi kembali dengan membawa wanita tua yang jauh lebih aneh lagi. Dia terlihat seperti dukun yang menyeramkan dengan pakaian cina serba putih. " Tabib tolonglah.. ada apa dengannya? Dia bahkan tak mengenal saya." Tangis pria tua itu panik. Beberapa saat wanita itu mendekatiku. Dia menatapku lalu memegang nadiku. Beberapa waktu kemudian.. " Yang mulia raja. Sepertinya semuanya normal. Mungkin tuan putri Akira tengah bingung karna mimpi panjangnya." Ucapnya membuatku mengangkat alis " Apa ini sebuah lelucon? Apa aku berada disebuah permainan opera. What the hell. Ada apa ini?". Teriakku kesal. Namun.. beberapa saat kemudian, emosi dan kebingunganku seolah menyusut saat aku merasakan pria tua tadi memegang lenganku hangat. Dia menangis.. Kehangatan ini adalah apa yang tidak pernah aku temukan dari kedua orang tua angkatku. Kehangatan yang seolah membuatku merasa damai. " Akira ini ayah nak.. ini ayahmu sayang." Ucapnya sedih. Aku terdiam beberapa saat. Kebingungan yang memelukku semakin pekat. Namun bukan pertama kali aku rasakan. Kebingungan yang sama pernah aku rasakan 2 tahun yang lalu ketika aku terbangun diruang rumah sakit dan dokter mengatakan aku hilang ingatan. Mereka bilang aku berasal dari panti asuhan kasih harapan yang terbakar karna longsor dan konsleting listrik. Hanya aku yang selamat. Saat itu aku justru tak tahu siapa diriku dan siapa namaku. Aku memulai kehidupan baru dengan menjadi putri penyelamatku Mereka bilang namaku Izika. Dan aku tak pernah tau apapun setelah itu. Tapi sekarang.. Aku seolah merasakan kehangatan yang benar nyata. Apa yang kulalui selama dua tahun itu hanya mimpi? Atau sekaranglah yang mimpi? " Akira? Kau baik baik saja kan nak?". Tanyanya menyibakkan lamunanku. Benar, aku hanya harus melaluinya dengan tenang. Jika tidak aku akan semakin gila. Aku hanya harus tidur dan terbangun esok. Terjaga dari semua mimpi yang membuatku bingung. Akira?? Kenapa rasanya nama itu tak asing bagiku?? Apa itu benar benar namaku?? " Sayang?". Tegurnya lagi. Kali ini membelai rambutku lembut. Aku mencoba tersenyum pucat " A..ku ingin tidur." Ucapku lirih akhirnya. Ya, aku harus tidur. Jauh diseberang sana.. Gadis lain tersenyum disisi sebuah ranjang megah pangerannya. Bibir merahnya tersenyum puas menatap cincin berlian yang bertengger manis dijari manisnya. " Akan tiba saatnya aku akan mendapatkan balasan dan dendamku.. untuk itu aku butuh pionku, Exsa kau akan menjadikanku ratu. Dengan begitu, aku akan menunjukkan diriku bahwa aku lebih hebat dari Akira." Ucapnya senang. " Aku akan menyiksamu Akira, akan aku lakukan itu." Ucapnya lagi. Beberapa saat dia tertawa. " Apa yang kau tertawakan Dayna?". Sebuah suara tiba tiba membuatnya kaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN