Siapa itu Mina?

926 Kata
"Aku janji akan membayarnya bulan ini, Bu." Mina menggenggam ponselnya erat sambil berdiri di lorong belakang kafe tempatnya bekerja. "Janji lagi? Sudah tiga bulan kau bilang begitu." Suara wanita paruh baya dari seberang telepon terdengar tajam. Mina memejamkan mata. "Aku sedang berusaha." "Kau pikir rumah sakit mau menerima kata 'berusaha'? Kalau sampai akhir bulan belum ada pembayaran, saya akan mendatangi rumah ayahmu untuk menagih hutang!" Jantung Mina langsung mencelos. "Jangan, Bu. Tolong jangan." "Saya tunggu! Jangan lewat dari janji kamu!" Sambungan telepon terputus. Mina menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa sesak. Tagihan rumah sakit ibunya semakin menumpuk setiap bulan. Uang hasil bekerja pagi hingga malam bahkan tidak cukup untuk menutup seluruh biaya pengobatan. Namun menyerah bukan pilihan. Ibunya adalah orang yang paling penting dalam hidupnya. "Mina!" Teriakan manajer kafe membuatnya tersentak. "Ya, Pak?" "Jangan melamun. Meja lima menunggu pesanannya." "Baik." Mina segera menyimpan ponselnya dan kembali memasang senyum profesional. Ia membawa nampan berisi dua cangkir kopi menuju meja pelanggan. "Selamat menikmati." Seorang wanita berpakaian mahal hanya meliriknya sekilas. "Pelayan di sini makin lama makin lambat." Mina menahan diri untuk tidak bereaksi. Ia sudah terlalu sering mendengar komentar semacam itu. Di mata sebagian orang, dirinya hanyalah gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan kafe. Tidak lebih. Tidak penting. Ia kembali ke balik meja kasir dan melanjutkan pekerjaannya hingga malam hari. Kakinya mulai pegal. Punggungnya terasa nyeri. Namun ia tidak berani mengeluh. Karena ini adalah pekerjaan dengan gaji yang cukup besar dibanding pekerjaan paruh waktu yang dia ambil di pagi hari. Mina harus bekerja untuk beberapa pekerjaan karena ayahnya yang sudah berhenti bekerja akibat kecelakaan hingga membuat kedua kaki ayahnya terpaksa diamputasi dan sekarang harus duduk di kursi roda. Sedangkan kakak dan kakak iparnya hanyalah seorang guru honorer dengan gaji yang pas-pasan untuk keluarga nya sendiri. Ibunya saat ini menderita penyakit jantung kronis yang dimana harus dirawat intensif. Keluarganya pun terpaksa terlilit hutang demi mengobati ibunya. PRANG.... Seketika semua tatapan menuju suara barang pecah. Mina melihat seorang tamu duduk di meja bar, tampaknya dia mabuk. Mina segera menghampiri tamu pria itu. Tubuh pria itu berdiri dengan sempoyongan. Mina buru-buru menopang tubuh pria itu. Namun bukan ucapan terima kasih yang didapat, tapi sebuah pelecehan. Tangan pria itu tiba-tiba meremas b****g Mina hingga membuat Mina melompat ke samping dan melepas topangan di tubuh pria itu. Seketika pria itu menabrak kursi bar di depan nya. "Tuan, maaf! Saya tak sengaja!" Mina terpaksa menahan diri, karena dia tahu kalau dia membalas marah pada tamu itu, yang ada dirinya lah yang salah. Manager kafe tak mau kehilangan pelanggan, jadinya setiap tamu yang bertingkah, pegawai lah yang salah. Beberapa mata melihat tindakan tamu itu, mereka mulai menyinyir dan menatap dengan tatapan tak suka. Teman sekerja Mina pun tak menyukai sikap tamu tersebut, namun apa daya mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mina tak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan nya, bahkan mengambil fotonya secara diam-diam. "Nona, kau membuatku terjatuh! Tak bisa kerja ya?" bentak pria itu dengan nada yang sengau dan berat sambil menunjuk ke wajah Mina. "Maaf tuan! Maafkan saya!" ucap Mina lagi sambil membungkukkan tubuh nya. "Kamu tahu siapa saya? Saya ini...hiks...saya ini adalah pelanggan VVIP di kafe ini! Saya juga kenal sama pemilik kafe ini!" bentak pria itu, ucapan nya sudah tak karuan. "Iya, tuan! Maafkan saya!" Sudah tiga kali Mina meminta maaf, bahkan sudah berulang kali dia membungkukkan tubuhnya. "He..he...he... Kamu ternyata cantik juga ya! Malam ini temani saya minum ya?" Tiba-tiba tamu itu menarik tangan Mina dan memaksanya duduk di bangku bar. Mina langsung menarik tangannya dan bergerak mundur menjauh. "Maaf tuan! Saya disini hanya melayani tamu yang datang makan atau minum, bukan menemani tamu." balas Mina dengan nada tegas namun sopan. Sayangnya tamu ini dalam keadaan mabuk, jadi sikapnya pun tak terarah bahkan seakan tak mendengar ucapan mina. Tamu ini tetap memaksa mina untuk menemaninya. Manager kafe melihat situasi Mina. Dia langsung menghampiri Mina. "Maaf tuan! Pegawai kami hanya bertindak melayani bukan menemani. Jika tuan memaksa, kami pun terpaksa meminta anda meninggalkan kafe kami!" Tamu itu langsung terdiam sesaat mendengar ucapan tegas manager kafe. Sambil berjalan sempoyongan, tamu itu pun akhirnya meninggalkan kafe tanpa membuat keributan. Mina sangat lega. Ini pertama kalinya manager kafe membelanya di depan tamu. "Terima kasih pak!" ucap Mina sambil membungkukkan tubuhnya di depan manager kafe. "Lain kali kerja yang bener! Saya tidak akan selalu bisa membela kamu!" balas manager kafe dengan nada sinis, lalu dia pergi meninggalkan Mina. Mina harus menahan perasaan demi pekerjaan ini. Hari sudah semakin larut. Jam sudah menunjuk pukul sembilan malam. Sudah saat nya tutup kafe. Mina dan beberapa pegawai yang lain mulai merapikan kursi dan meja. Setelah selesai, mereka mulai beranjak keluar dari kafe. "Min, mau aku antar pulang?" tanya Betrand, chef di kafe itu sambil berdiri di depan kafe. Mina tersenyum, "Makasih, Ben! Aku bisa naik bis kok! Kita kan gak sejalan?" "Aku kan bawa motor, jadi gak masalah walaupun kita gak sejalan!" "Gak usah, gak apa! Makasih, ya Ben!" "Ok, tapi next kalau kamu butuh bantuan ku, aku akan bantu! Maaf ya kalau tadi aku tidak bisa keluar dari dapur, karena pesanan sedang banyak!" "Gak apa! Ok, aku jalan duluan ya!" Betrand mengangguk, lalu Mina berjalan meninggalkan Betrand. Mina berjalan menuju halte seperti biasa. Pria yang tadi di kafe mengambil foto Mina diam-diam, mengikuti Mina hingga ke halte bis. Mina tak menyadari kalau dirinya diikuti. Sebenarnya sudah beberapa hari ini pria itu diam-diam memperhatikan Mina, hanya malam ini dia mengambil foto Mina lalu mengirimkan nya ke Jonathan. Tak lama kemudian sebuah mobil van hitam berhenti di depan Mina. Mobil van hitam ini awal dari perubahan drastis dalam kehidupan Mina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN