Chapter 5

1269 Kata
Rasanya jantungku terasa mau copot. Apakah Delvin yang akan dijodohkan olehku? Mataku dan mata Delvin bersirobok. Tatapan matanya menatapku dengan penuh tanya. Mungkin dia sama sepertiku bertanya-tanya dalam hati apakah aku dan dia yang bakal dijodohkan. "Nah, itu calon prianya sudah datang, Delvin ayuk duduk di sini dulu," Tante Ani menyambut anaknya pulang dengan suka cita. Kalau aku sih dengan duka cita menyambut kedatangan nih orang. Dan dugaanku benar ternyata, bahwa aku bakal dijodohkan dengan Delvin. Sebagian hati kecilku sangat senang menerima kenyataan bahwa aku dijodohkan sama Delvin. Tetapi sebagian lagi tidak. Ego ku tidak mau menerima kembali Delvin dalam hidupku. Rasa sakit nya walaupun sudah lama tetapi sampai sekarang masih terasa. Delvin duduk di sampingku. Dia tampak tenang saat Oom Dimas --Papa Delvin-- menjelaskan perihal maksud para tetua menjodohkan kami. Niat mereka menjodohkan kami adalah, agar mereka jadi besan dan tentu saja mereka bisa menjadi dekat. Om Dimas menatap kami berdua secara bergantian, tak henti-hentinya mama dan Tante Ani tersenyum bahagia. "Jadi, bagaimana menurut kalian, apakah kalian bersedia kami jodohkan?" tanya Om Dimas pada kami berdua --aku dan Delvin-- Aku menghela napas, sejujurnya aku sangat bersedia apalagi mama sangat antusias jika aku dan Delvin menikah. "Aku bersedia." ujarku mantap. Aku memejamkan mata sebentar, meringankan beban yang ada dibenakku. Semoga keputusan ini benar. Semoga Tuhan merestukan aku dan Delvin nantinya. Sekarang kami semua menunggu jawaban dari mulut Delvin. Jantungku berpacu dengan cepat, berharap jawaban yang keluar dari mulut dia adalah kata 'iya' --Flashback-- Diam-diam aku menatapnya dari kejauhan. Menatapnya yang sedang bermain futsal di lapangan bersama teman futsalnya. Saat tubuhnya basah karena keringat, membuatnya sangat sexy dan kadar kegantengannya bertambah. "Jangan dilihat dari jauh aja dong, ayok tunjukkan keberanian loe kalau loe suka sama dia." Celutuk Syafa sahabatku yang juga ikut nonton pertandingan futsal antar sekolah. Tentu saja seperti biasa, Delvin selalu menjadi kapten futsal. Aku menggeleng tanpa melihat Syafa, "nggak mau ah, aku belum berani bilang begituan sama Delvin." kataku sedikit ciut. Cowok yang aku lihatin terus adalah Delvin. Cowok yang sudah tiga tahun aku suka, dan lebih tepatnya suka dalam diam. Dia terkenal baik di sekolah dan juga sholeh. Aku lebih suka sama dia karena ngajinya yang bagus, suara adzannya yang merdu serta dia sudah khatam Al-Quran. How perfect he is?! Aku kira aku hanya suka karena kagum, tapi kalau aku sukanya karena kagum biasanya aku melupakan pria itu hanya sebentar saja, paling lama seminggu. Tetapi beda halnya dengan Delvin, semakin aku mencoba melupakannya semakin terasa ia menari-nari di benakku. Jadi aku pikir ini bukanlah sekedar kagum tetapi cinta. Terdengar suara decakkan keras dari arah sampingku, "ck, masa ngomong gitu aja gak berani sih? Mau sampai kapan mendam terus? Ini sudah mau berjalan tiga tahun loe suka sama cowok gak peka itu." Kata Syafa sambil melirikku dengan sebal. Memang aku gak berani ngomong begituan sama Delvin, karena aku juga cukup tahu diri juga karena Delvin tidak suka dengan wanita yang agak gemukkan. Yup, dugaan kalian benar aku hanya cewek gendut yang tidak ada menariknya di hadapan pria. Karena sebagian pria memilih wanita yang langsing begitupun Delvin. Karena Delvin juga menyukai wanita yang langsing bukan gemukkan sepertiku. Demi Delvin, aku diet mati-matian, dan aku juga pernah sempat pingsan dan masuk rumah sakit karena tidak makan dari pagi sampai siang. Aku hanya minum air mineral saja untuk mengisi perutku yang kosong dari pagi dampai siang. Katakanlah aku bodoh karena melakukan hal yang se-ekstrim itu sampai pingsan, toh ini juga demi Delvin. Sekarang berat badanku pun sudah menurun tujuh kilo. "Tunggu waktunya aja ya," Syafa menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan, dramatis sekali dia! "Hei! Apa loe masih tidak percaya diri? Sampai kapan sih, apa loe gak capek? Bagi gue nih ya cewek gendut itu manis. Walaupun loe gendut, loe cantik kok dimata gue." Iya dimata dia kalau aku cantik. Kalau dimata Delvin? Pasti dia kejang-kejang karena wanita gendut sepertiku suka dengannya. Hiks. Aku tidak membalas ucapannya, lalu pandanganku masih fokus pada Delvin yang gilirannya menendang bola. ••• Setelah sekian lama aku diet, kini tubuhku lumayan bisa dibilang kurusan, sekarang tubuhku beratnya 50 kg. Benar-benar diluar dugaanku. Dengan senyum bahagia aku datang ke kelas. Dan langsung duduk di samping Syafa. "Fa, aku pikir mungkin hari ini waktu yang pas untuk berbicara langsung pada Delvin." Kataku mantap. Seketika wajah Syafa memandangku dengan kaget, mulutnya menganga lebar. "Lo serius?" tanyanya tak percaya. Aku mengangguk, "lima rius malah," "Wah, jadi kapan loe bilangnya ke dia?" Aku tersenyum misterius, "jam istirahat." Beberapa jam kemudian.... Jam istirahat pun sudah dimulai. Dengan mengumpulkan keberanian aku mencari sosok Delvin di kelasnya. Aku melafadzkan doa agar semuanya berjalan lancar. Dan aku berdiri di depan pintu. Di sampingku Syafa --tentu saja dia ikut-- menenangkanku karena tanpa kusadari keringat dingin bercucuran di pelipisku. "Loe harus berani Fer!" seru Syafa. Aku menghela napas panjang dan memberanikan diriku untuk masuk ke kelas Delvin diikuti oleh Syafa. "Permisi, saya mau mencari Delvin, Delvin nya ada?" Tanyaku sama Roni yang namanya kulihat di name tag. Roni tersenyum simpul, matanya mencari keseluruh ruangan kelas ini. Tentu saja dia mencari Delvin. "Nah, itu Delvin. Masuk aja, Delvinnya lagi baca buku tuh." Aku mengikuti arah tatapan Roni. Disana Delvin sedang sibuk membaca buku. Aku mengumpulkan keberanian lalu masuk ke dalam kelas. Sebelum itu aku tak lupa mengucap terima kasih pada Roni. Syafa bilang padaku kalau dia menunggu di luar, aku mengela napas (lagi). Jantungku berpacu dengan cepat saat selangkah demi selangkah menuju meja Delvin berada. Saat aku tepat berada dihadapannya aku hanya berdiam diri. Dari dekat, aku bisa melihat bulu mata Delvin yang lentik serta alis matanya yang tebal. Mata turquoise yang tajam itu mengalihkan pandangannya padaku. Seketika tubuhku kaku karena Delvin menatapku dengan tajam. Alis tebal sebelahnya terangkat, "ada apa?" tanyanya lalu melipat buku yang tadi ia baca. Aku menggigit ujung bibir bawahku, "eng... a-aku.." Astaga... susah sekali hanya bilang 'aku suka kamu dari dulu' Kenapa tiba-tiba bibirku kelu hanya mengatakan mantra itu pada Delvin. Delvin melipat kedua tangannya, "Aku kenapa?" Aku meremas ujung bajuku, untung saja dikelas ini hanya aku dan Delvin. Kalau tidak aku sangat malu mengakui perasaanku di hadapan teman-temannya. Aku menghela napas panjang entah keberapa kalinya, "aku... su-suka sama kamu." Delvin menatapku dengan santai, "Sejak kapan?" Aku menunduk malu, "sejak tiga tahun." Hening, Delvin tidak ada mengatakan sepatah kata pun. Lalu beberapa menit kemudian suaranya terdengar. Delvin tersenyum sinis, "Suka? Huh, bodoh sekali! Apa kau tidak tahu kalau kau tidak pantas suka dengan orang sepertiku, huh?! Apalagi..." Delvin memberi jeda, matanya meneliti tubuhku dari atas sampai bawah. "...Badanmu yang gendut itu membuat ku... jijik. Jadi pergilah dari hadapanku! Sekarang!" Jelasnya tanpa bisa dibantah. Air mataku nyaris tumpah jika tidak ku tahan. Aku tidak percaya kalau Delvin yang baik itu menjadi sadis karena perkataannya terhadapku. Tanpa mengucap kata sepatah pun aku langsung pergi dari hadapannya dengan perasaan campur aduk antara lega, sesak dan sakit hati. Lega karena aku sudah jujur padanya kalau aku suka pada pria kejam sepertinya. Sesak karena aku di cemooh kalau aku tidak pantas dengannya karena aku gendut. Seharusnya aku berpikir panjang kalau aku itu gendut, tidak pantas dengan pria setampan Delvin. Seharusnya aku sadar diri. Air mata yang kutahan jatuh sudah. Rasanya ada ribuan paku menancap ulu hatiku. Padahal aku mati-matian diet demi dia. Dan aku bertekad tidak akan jatuh cinta untuk kedua kalinya pada Delvin! Tidak akan! --Flashback end-- Bayangan masa lalu itu kembali menari-nari di otakku. Tentu saja kami semua disini menunggu persetujuan dari Delvin seorang. Delvin menatapku dengan mata turquoise-nya yang tajam menatapku dengan senyumnya yang menawan. Jantungku kembali berdetak abnormal. Aku membuang muka saat mata itu menatapku dan bonus senyumnya. Entah apa maksudnya dia menatapku sambil tersenyum. Baru kali ini dia memamerkan senyumnya padaku. "Aku setuju."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN