Chapter 8

1239 Kata
Aku menatap wajahku dengan kaget. Astaga... Wajahku sangat kacau. Rambutku acak-acakkan. Mataku sembab karena sebelum tidur aku menangis. Menangis sepanjang malam. Menangis karena kebodohanku yang baru kusadari bahwa aku belum bisa melupakan sosok Delvin. Hatiku terasa remuk redam saat kutahu bahwa Delvin malah memilih untuk menemani wanitanya kencan daripada memilih ku yang --notabenenya calon istri-- mau fitting baju pernikahan. Padahal dia juga harus fitting. Aku harus tegar menghadapi semua ini. Karena kedepannya kita tidak tahu apakah Delvin nantinya bisa jatuh cinta padaku. Ya Tuhan, kenapa aku bermimpinya jauh sekali?! Itu tidak akan pernah terjadi jika Delvin jatuh cinta padaku. Setelah berdebat dengan pikiranku sendiri, aku langsung bersiap-siap untuk pergi fitting. Aku memoleskan make-up di seluruh wajahku dan menutup wajahku yang kusut karena menangis. Selesai aku bersiap-siap, aku turun ke bawah dimana mama dan papa sudah siap untuk sarapan pagi. Dugaanku benar, mama dan papa sudah menungguku dibawah. Papa sedang membaca Koran paginya sedangkan mama sedang menyiapkan hidangan sarapan di meja makan di bantu dengan si mbok. "Pagi papa, pagi mama." sapaku pada keduanya. Papa melipat Koran paginya. "Pagi sayang, wah, cerah sekali kamu pagi ini." Beuh, tumben papa gak singkat ngomongnya. Biasanya papa itu pelit bicara. Cerah apanya wajahku? Huh, ini hanya topeng. Tidak mungkin bukan aku tidak menutupi kesedihanku pada orangtuaku. Bagaimana pun juga aku harus tetap menampilkan senyuman walau hati ini sedang sedih. "Iyalah cerah, 'kan anak kita mau fitting baju pengantin sama calon suaminya." celutuk mama sambil menyodorkan teh hangat di meja untuk papa. Papa tersenyum, "oh ya? Wah, pantesan wajah kamu terlihat cerah." Aku hanya tersenyum lalu duduk dihadapan papa, tanpa banyak bicara aku langsung memakan sandwich buatan mama. Maklum setiap pagi mama lah yang menyiapkan sarapan pagi untuk aku dan papa. "Jadi, jam berapa Delvin antar kamu ke WO?" Aku mematung, tidak mungkin aku jujur pada mama kalau Delvin tidak bisa mengantarkanku ke WO. Karena Delvin ada urusan. Urusan sama pacarnya dan aku yakin pasti Delvin sama pacarnya sedang sibuk makan siang bersama, nonton bareng, sampai ke toilet pun bersama. Eh yang kalimat terakhir nggak deng, cuma becanda. Aku tersenyum getir membayangkan mereka yang sedang melakukan aktifitas nge-date nya. Membayangkan Delvin bersama wanita itu membuatku dilanda rasa sakit yang menjalar di hatiku. Entah kenapa perasaan ini tidak terima jika Delvin sedang kencan sama wanita lain. Tapi lagi-lagi aku mengingatkan diriku, siapalah aku untuk cemburu pada perasaan ini? Walaupun aku calon istrinya tapi dia tidak menganggapku calon istrinya. Aku tidak berhak untuk cemburu pada Delvin. "Sayang, kok melamun?" Suara mama menyentakkanku, aku menggeleng cepat lalu kembali memakan sandwich ku. Sayangnya aku tidak berselera lagi makan sandwich buatan mama. Entah kenapa selera makanku hilang saat pikiranku melayang jauh. Melayang memikirkan Delvin seorang. "Nggak apa kok ma," aku tersenyum. Senyum kecut yang kuberikan pada mama. Lalu aku menaruh sandwich itu kembali di piring. "Jadi?" Mama menuntut jawaban. Aku pura-pura memasang wajah bingung, "jadi apa?" Mama melotot tajam, "jadi kapan Delvin mengantarkanmu ke WO yang sudah di pesan oleh jeng Ani?" Kata mama dengan sabar. Aku menggigit bibir bawahku, "eng, Ferlyn janjiannya di kantor ma, soalnya Ferlyn harus ke kantor dulu baru fitting." Mama menghela napas, "yasudah, cari gaun yang bagus ya." ••• Sesampainya di kantor, aku langsung bergegas ke meja kantorku. Kulihat Derian mengerling centil padaku. Aku menanggapinya hanya terkekeh geli. "Duh, akhirnya mau nikah bentar lagi sama pujaan hatinya lagi," goda Derian bonus dengan seringaiannya. Kalau di godain nikah karena cinta aku bahagia lahir dan batin. Karena pernikahan ini tanpa cinta godaan yang diberikan Derian padaku rasanya hambar. Biasanya orang yang menikah itu kalau di godain senyum-senyum salah tingkah. Kadang juga wajahnya bersemu merah. Nah, kalau aku sih terasa hambar. Aku mendelik sebal, "udah ah gak usah godain aku," Derian terkekeh, "cie... Sensi amat sih, kenapa? Lagi bad mood?" Aku menggeleng lalu sedetik kemudian mengangguk. Derian berdecak gemas. "Yaudah ah, kita nge-mall yuk. Eh tapi kan kamu harus fitting ya, hehehe.." Aku tersenyum getir, "tidak jadi, Delvin lagi kencan." Astaga... Keceplosan. Derian menatapku dengan tatapan bingung, dalam tatapannya ada tatapan marah yang bergejolak. "Maksud kamu, kamu akan menikah sama pria yang sudah punya kekasih? Astaga Ferlyn, ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan bilang pada mama kamu!" Aku menggeleng cepat, menatapnya memohon, "please Der jangan bilang pada mama, kau tahukan ini mimpiku, mimpi yang akan menjadi kenyataan." Aku memohon pada Derian sambil menangis. Lebih tepatnya menangis bahagia, karena memang aku pernah bermimpi menjadi istrinya Delvin. Dan kini, impianku akan menjadi nyata. Aku tidak mau Derian merusak mimpiku karena hal sepele ini. Derian mendekapku dalam pelukannya, aku menangis tersedu dalam dekapan Derian. Sampai kemejanya basah oleh air mataku. "Maaf, aku tidak akan bilang pada mamamu, aku tidak akan merusak impianmu. Nangislah Fer, agar kau lebih baik." Aku tambah nangis sekencang-kencangnya dalam dekapan Derian. Coba saja saat aku punya banyak masalah Delvin juga bisa memelukku, menenangkanku dalam dekapannya jika kami sudah menikah nanti. Tapi itu tidak mungkin. Karena terkadang Delvin menatapku dengan sorotan tatapan jijik. Benar kata Derian, ternyata sehabis nangis bebanku berkurang sedikit. Derian menghapus air mataku. "Kita jalan-jalan yuk, mumpung sekarang jam kosong." Aku mengangguk menyetujui ajakkannya. "Jadi pakai mobil kamu atau mobil aku?" "Pakai mobil kamu saja, soalnya aku tadi naik taxi." Derian mengangguk, "jadi gimana sama fitting kamu nanti kalau kita malah asik jalan-jalan?" Aku tersenyum menatap Derian. Andai saja Delvin sebaik Derian. Andai saja Delvin bisa semanis Derian. Andai saja.... "Fer, kenapa suka sekali sih kamu melamun? Jadi bagaimana dengan fitting kamu?" "Aku bisa bilang ke mama kalau aku dan Delvin tidak sempat untuk fitting." Derian mengangguk lalu dia menarikku untuk pergi jalan-jalan. ••• Derian mengajakku ke mall di salah satu mall terdekat dari kantor. Mall ini pun tampak ramai. Banyak orang yang berlalu lalang. "Jadi kita mau makan dulu atau nonton?" tanya Derian di saat kami sedang naik escalator. Aku berpikir, menimbang-nimbang kemana dulu aku dan Derian bakal pergi. Mumpung kami lagi di escalator naik lebih baik kami langsung beli tiket untuk nonton. Derian menerima ajakkanku untuk menonton film. Kami menonton film Good People yang diperankan oleh aktor James Franco. Aku dan Derian dari dulu sangat suka film action daripada film romantis atau apalah itu. Setelah menonton, Derian dan aku mencari tempat makan. Tempat makan kami biasanya di D'Cost. Derian dan aku duduk di kursi lalu kami pesan makanan saat pelayan itu datang. Sesaat kami pesan makanan, pelayan itu pergi. Sembari menunggu pesanan datang, aku dan Derian mengobrol santai. Mataku tidak fokus pada mata Derian, tetapi mataku menatap seorang pria dan wanita masuk kedalam restaurant ini. Pria itu merangkul mesra wanita disampingnya. Sesekali mereka diiringi tawa yang membuat hatiku panas. Aku membiarkan Derian mengoceh yang sama sekali tidak kutanggapi bahkan aku tidak mendengarkan apa yang Derian kini bicarakan. Yang aku fokuskan sekarang adalah Delvin benar-benar kencan dengan seorang wanita cantik. Mungkin dibandingkan denganku wanita itu adalah langit sedangkan aku adalah lumpur lapindo. Jaraknya memang jauh. Wanita itu sangat cantik. Apalagi tangannya terus bergelayut di lengan kokoh milik Delvin. Sakit. Aku menatap nanar melihat sejoli itu. Karena merasa di acuhkan, Derian ikut menatap dimana tatapanku terpaku pada zona itu. Air mata merembes jatuh di pipiku. Aku tidak sanggup melihat mereka. Rasanya sangat teramat sakit. Terbesit rasa ingin aku bunuh wanita itu agar wanita itu tidak menempel pada Delvin layaknya cicak nempel di dinding. Aku merasa Derian mengeluarkan uang lembaran rupiah lalu meletakkan uang tersebut di atas meja. "Kita pergi, sekarang!" Derian menarikku ralat maksudku memelukku sambil menjauh dari dua sejoli itu. Aku masih terisak karena disuguhi pandangan yang membuat hatiku terasa di remuk. Aku tidak sanggup!                                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN