BAB 4 : PRINTER NERAKA

1107 Kata
Pagi di kos Bu Rini ramai. Suara motor. Panggilan Bu Rini ke kucing. Aroma kopi dari dapur. Arsya sudah bangun sejak subuh. Berdiri tegang di depan cermin kecil kamar 207. "Lira. Apakah aku terlihat seperti pegawai admin yang kredibel?" Ia meluruskan kaos abu-abu—satu-satunya yang layak. Lira mengamati. Rambut peraknya baru selesai dikepang. "Kakak terlihat manusiawi. Tapi ekspresinya seperti mau perang." "Ini pertempuran. Untuk bertahan hidup tanpa kekuatan dewa." Tok tok tok. Naya di depan pintu. Kaos hitam. Celana jeans. Tas ransel. "Siap?" "Siap." --- Halte bus. Naya menjelaskan singkat. "Kantor kecil. Lima orang. Bosnya baik tapi pelupa. Tugas admin: atur jadwal, input data, print, telepon." Arsya mengangguk serius. Jadwal. Data. Print. Telepon. Seperti tugas kurir dewa pemula. Ia bisa. Naik bus adalah pengalaman traumatis. Arsya tersesak di antara penumpang padat. Wajah pucat saat bus melaju ugal-ugalan. Naya tenang. Mendengarkan musik. "Manusia-manusia ini seperti ikan sarden kalengan," gumam Arsya. "Tapi mereka tahan, Kak. Mungkin ada teknik pernapasan khusus." --- Dua puluh menit kemudian. Gedung perkantoran kecil. Lantai tiga. Kantor sederhana. Lima meja. Dua printer. Tumpukan kertas. Pak Anton—botak, kacamata tebal—tersenyum. "Oh, Naya bawa calon baru? Silakan duduk." Arsya duduk tegak. Lira ikut masuk. Mengaku "adik yang mengantar". "Jadi, Arsya, pernah kerja di bidang admin?" Pak Anton. Arsya berpikir cepat. "Saya berpengalaman dalam pengaturan logistik skala besar dan manajemen informasi strategis." "Wah, hebat. Maksudnya di perusahaan sebelumnya?" "Di… lembaga multidimensi." Tidak sepenuhnya bohong. Pak Anton manggut-manggut. Tidak paham tapi terkesan. "Oke. Coba tes simpel. Ini data absen. Input ke Excel dan buat grafik kehadiran." Kertas penuh tabel. Arsya memandanginya seperti peta harta karun alien. Excel? Grafik? Ia tidak bisa mundur. "Saya akan menyelesaikannya." --- Naya membimbing ke komputer. "Ini Excel. Ketik datanya." Arsya menatap layar kosong. Menekan tombol dengan hati-hati. "Kak, itu angka tanggalnya jadi 1200-01-01?" bisik Lira. "Karena aku masukin tahun menurut kalender dewa," desis Arsya panik. "Coba 2023." Arsya mencoba menghapus. Malah menekan kombinasi tombol aneh. Layar penuh simbol $#%&. "Apa yang terjadi? Komputer ini terkena kutukan?" Naya melihat dari meja sebelah. "Ctrl + Z. Untuk undo." "Apa itu 'Undo'? Mantra pembalik waktu?" "Cuma batalkan perintah. Tekan Ctrl dan Z bersamaan." Arsya menekan. Layar normal. "Luar biasa! Teknologi pembalik kesalahan tanpa izin Dewa Waktu!" Naya mengangkat alis. "Kerjakan saja." --- Setengah jam. Arsya baru input tiga baris data. Kepala pusing. Lira bosan. Mengamati printer. "Kak, mesin ini bisa cetak gambar dari komputer! Juru tulis otomatis!" "Jangan sentuh." Terlambat. Lira menekan tombol hijau. Mesin hidup berisik. Mengeluarkan kertas kosong bertubi-tubi. "Wah, dia melahirkan kertas!" "Itu cuma mencetak kosong!" Lira menekan tombol lain. Printer mulai mencetak dokumen Pak Anton—presentasi "Strategi Pemasaran Sabun Mandi". Kertas memenuhi lantai. "BERHENTI! Bagaimana caranya?!" Naya bergegas. "Tekan tombol merah!" Lira menekan tombol merah. Tombol emergency stop di dinding. Listrik padam. Lampu mati. Komputer mati. Printer mati. Gelap. Suara Pak Anton: "APA YANG TERJADI?!" "Maaf, Pak! Adik saya tidak sengaja!" Lira berbisik, "Tuanku, aku menyebabkan kekacauan lagi!" "JANGAN panggil aku Tuanku DI SINI!" --- Listrik nyala. Ruangan terang. Lantai penuh kertas. Pak Anton menghela napas panjang. "Arsya. Tolong rapikan. Dan jangan biarkan adikmu sentuh printer lagi." Sepanjang sisa wawancara—atau sisa bencana—Arsya merapikan kertas. Lira membantu. Melipat kertas menjadi burung dan kapal. "Ini seni origami, Kak! Mungkin menghibur!" "Mereka butuh data, bukan burung kertas!" --- Akhirnya. Pak Anton memanggil Arsya. "Kerjamu masih kacau. Tapi kamu punya niat baik." Jeda. "Dan Naya bilang kamu butuh kerja." Arsya menahan napas. "Saya kasih probation satu bulan. Gaji tiga juta. Mau?" Tiga juta. Angka yang sangat manusiawi. "MAU, Pak! Terima kasih!" "Tapi adikmu jangan dibawa lagi ke kantor." "Saya janji." --- Di perjalanan pulang. Arsya lelah. Tapi puas. Lira terus minta maaf. "Aku malu, Kak. Hampir hancurkan peluang kerja." "Tidak apa. Kamu belum terbiasa." "Besok aku kerja. Kamu cari kegiatan lain di kos." "Apa yang harus kulakukan?" "Amati manusia. Pelajari budaya." Arsya menatapnya. "Jangan sampai mencurigakan." --- Sore di kos. Bima mendekati Lira yang duduk di teras. "Lira, tadi pagi ke mana?" "Mengantar kakak wawancara." "Kakakmu sudah dapat kerja. Kamu mau kerja apa?" Lira berpikir. "Aku ingin membantu di sini. Mungkin bersih-bersih atau masak." "Kamu bisa masak? Aku ajak belanja ke pasar." Lira tertarik. Pasar! Tempat penuh manusia dan makanan! "Boleh!" --- Pasar kecil dekat kos. Bima sok tahu menjelaskan. "Ini cabai, buat pedas." "Apakah ini senjata rahasia manusia? Bentuknya seperti peluru merah." "Ini tempe, makanan murah." "Wow, padatan kedelai fermentasi! Mirip ransum darurat para dewa!" Bima tertawa. "Kamu lucu. Kayak dari planet lain." Lira kaget. "Apa? Tidak! Aku dari sini! Indonesia Timur!" "Bercanda aja." Lira menghela napas lega. --- Di kamar 207. Arsya mempersiapkan diri untuk hari pertama kerja—besok. Naya mengetuk. Membawa secangkir kopi. "Ini, buat semangat. Jangan bikin printer meledak lagi." Arsya tersenyum. "Terima kasih. Maaf untuk tadi." "Gapapa. Awal kerja aku pernah salah kirim email ke semua klien cuma 'test'. Bos marah." Mereka berbincang sebentar. Arsya nyaman. Naya tidak banyak bertanya. Tidak memaksa. --- Ketenangan terganggu. Rania lewat di lorong. Pakaian santai mencolok. "Arsya, besok pertama kerja? Semangat. Kalau butuh teman makan siang, aku tahu tempat enak." Senyum genit. "Terima kasih. Mungkin aku makan di kantor." Arsya hati-hati. Rania tersenyum. Masuk kamar. Naya melihat itu. "Hati-hati sama dia. Suka ganggu cowok baru." "Kenapa?" "Bosannya kayaknya. Sudah dua kali nikah, sekarang sendirian." Arsya mengangguk. Catatan mental: Rania = potensi gangguan. --- Malam. Bu Rini mengadakan "pertemuan kecil" semua penghuni di ruang tamu. "Ini Arsya dan Lira, adik-kakak baru. Mohon kerja samanya." Bu Rini memandang satu per satu. "Aturan baru: jangan pakai magic com di atas jam sepuluh malam. Dan yang punya tamu, laporkan." Bima acungkan tangan. "Bu, kalau tamu cuma sebentar?" "Tetap lapor. Jangan seperti kemarin, ada yang bawa tamu sampai subuh." Rania tersenyum. "Iya, Bu. Nanti kalau aku ada tamu, aku lapor." Bu Rini mendelik. "Rania, kamu sendiri saja sudah berisik." Semua tertawa. Kecuali Rania. --- Arsya memperhatikan. Bima—terus melirik Lira. Naya—diam, main HP. Rania—sesekali meliriknya. Bu Rini—seperti komandan. Kehidupan manusia kompleks. Bukan hanya uang dan kerja. Tapi hubungan sosial. Aturan tak tertulis. Banyak yang harus dipelajari. --- Sebelum tidur. Lira berbisik. "Kak, aku hari ini belajar: manusia suka bercanda, tapi punya banyak aturan kecil." Jeda. "Dan mereka sensitif dengan listrik." "Ya." Arsya membaringkan tubuh di lantai. "Besok aku harus belajar lebih banyak." "Dan kamu, jangan terlalu dekat dengan Bima. Aku rasa dia punya niat lain." "Niat apa?" "Niat sosial yang berlebihan." Lira tidak paham. Tapi mengangguk. --- Di balik pintu kamar 205. Bima merencanakan cara ajak Lira makan malam. --- Di kamar 206. Rania memikirkan cara "bantu" Arsya beradaptasi. --- Di kamar 204. Naya hanya berpikir. Dua orang baru ini aneh. Tapi lumayan menghibur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN