BAB 1 : PORTAL SALAH,GANG BENAR

867 Kata
Langit di alam dewa berwarna ungu kekuningan. Cahaya selalu berubah—seperti senja yang tak pernah habis. Di depan portal bergelombang, dua sosok berdiri. "Lira. Pastikan koordinatnya 7.7.7." Suara Arsya datar. Tapi matanya gelisah. "Jangan sampai salah lagi. Terakhir kali kita nyaris mendarat di kolam renang bidadari." Jubah putihnya berkibar. Padahal tidak ada angin. "Tenang, Tuan!" Lira menepuk d**a. Rambut perak dua kepang ikut melompat. "Lira sudah triple-check! Portal ini langsung tembus ke gerbang utama Neraka Lapis Tujuh!" "Tunggu." Arsya mengerutkan kening. "Getarannya terlalu stabil. Portal ke alam iblis biasanya lebih agresif." "Tapi warnanya hitam pekat, Tuan! Ada desisan—" "Desisan bisa dari ular taman dewa sebelah." "Tuan, Lira yakin—" "Tidak ada yakin. Aku Dewa Strategi dan Logika. Instingku bilang—" DUT. Letusan kecil dari dalam portal. Lira kaget. Melompat ke belakang. Menabrak bahu Arsya. "Aduh—!" "Wah—!" Dua tubuh kehilangan keseimbangan. Kaki Arsya menginjak pinggiran portal. Licin. Terpeleset. Tangannya meraih—mencengkeram lengan Lira. "LIRA—!" "TUAN—!" Mereka tersedot. Berputar-putar. Teriakan semakin menjauh. --- Sensasi jatuh berhenti. Yang tersisa: lantai keras. Panas. Bau sampah. "Aww..." Arsya membuka mata. Bukan langit api. Bukan Neraka Lapis Tujuh. Langit kelabu. Terhalang kabel listrik kusut. Dinding beton. Corat-coret: Bobby Ganteng. Ia bangkit cepat. "Lira! Status! Lokasi! Ancaman!" Lira sudah berdiri. Mengusap p****t. "Aku... tidak mendeteksi energi kegelapan sama sekali, Tuan." Jeda. "Yang ada... bau minyak goreng. Bau sampah. Dan suara... motor?" Ngeeng... breem... Deru motor bersahutan. Gang sempit. Rumah petak berjejalan. Warung tenda biru di ujung. Bakso Pak Haji. Orang-orang lewat. Melirik heran. "Di... mana kita?" Arsya berbisik. Panik mulai merayap. "Analisis visual dan auditif," Lira serius, "kita kemungkinan besar tidak berada di Alam Iblis." "Itu sudah jelas! Pertanyaannya, kita di mana?!" Seorang ibu lewat. Menggandeng anak. "Dasar anak kos baru. Pake baju tema-temaan." Gumam. Sambil lalu. Arsya mendengar. "Apa itu 'kos'? Apa itu 'tema-temaan'?" "Mungkin bahasa setempat, Tuan." Lira berpikir. "Sepertinya... kita di dunia manusia." Krucukkk... Perut Arsya protes. "Tuan... kita perlu nutrisi." "Dewa bisa tahan lapar berabad—" Krucukk! "Tapi perut Tuan sudah protes." Arsya menghela napas. Bencana. Tersesat. Tanpa persiapan. Lapar. Warung bakso. "Baik. Kita dekati penduduk setempat. Ikuti rencanaku." Ia tegakkan punggung. "Aku pemimpin. Kamu pengikut." "Seperti biasa, Tuan." "Jangan panggil 'Tuan'! Kita harus menyamar!" "Lalu panggil apa?" Arsya ingat kata ibu tadi. Anak kos. "Kakak dan adik. Aku kakakmu. Kamu adikku. Panggil aku 'Kak'!" "Siap, Kak!" --- Langkah gagah. Menuju warung. Penjual—bapak berkopiah—tersenyum. "Mari mas, mbak. Makan bakso? Baru pindah kos ya? Bajunya unik." Arsya mengangguk kaku. "Iya. Kami... baru. Saya... kakak. Ini adik." Ia menunjuk Lira yang sedang terpukau pada panci kuah. "Bakso satu porsi berapa, Pak?" "Sepuluh ribu, Mas." Arsya terdiam. "Sepuluh... ribu?" Angka yang sangat spesifik. Lira berbisik, "Kak! Aku lihat mereka pakai kertas berwarna-warni untuk transaksi!" "Kertas? Bukan emas?" "Sepertinya bukan." Arsya berkeringat dingin. Ia tidak punya kertas berwarna. "Kak..." Lira panik. "Apa yang harus kita lakukan?" "Jangan gunakan kekuatan! Kita tak tahu hukum alam di sini!" "Kita... minta kebaikan hati?" Arsya tarik napas. Lalu menatap penjual. "Pak... kami baru datang. Belum punya... kertas warna. Bisa bayar nanti? Atau ada pekerjaan?" Bapak penjual tertawa. "Gak usah serius-serius amat, Mas! Makan aja dulu. Bayar nanti pas udah punya uang." Lega. Luar biasa lega. "Terima kasih, Pak! Kami akan balas kebaikan Anda!" --- Mereka duduk. Mangkuk bakso panas datang. Lira tidak bisa menahan diri. "Wah! Bola dagingnya mirip bola energi dewa kecil, ya Kak!" Suara keras. Orang menengok. Arsya menendang lembut kaki Lira. "Lira! Jangan komentar aneh!" "Tapi Kak, ada mie putih lentur—mirip ular suci!" "LIRA!" "Dan kuahnya bening, tidak seperti darah naga—" "CUKUP! Makan saja!" Mereka makan. Arsya gagal total dengan sumpit. Lira meniup bakso terlalu keras—kuah muncrat ke hidung Arsya. "Maaf, Kak!" Refleks. Ia membungkuk hampir menyentuh lantai. "Maafkan hamba, Tuan!" "LIRA ELL!" Arsya memerah. "DUDUK! JANGAN PANGGIL AKU TUAN!" Semua mata di warung tertuju. Bapak penjual mengerenyit. "Tuan? Mas ini bangsawan apa gimana?" Otak Arsya berputar kencang. Sangat kencang. "Itu... panggilan kesayangan keluarga! Dari kampung! Di kampung kami, kakak laki-laki dipanggil 'Tuan' sebagai tanda hormat! Ha... ha... ha..." Lira buru-buru mengangguk. "Iya! Kakak saya ini sangat... terhormat!" Penjual menggeleng. Tersenyum. "Anak-anak muda jaman sekarang kreatif." Arsya menarik napas. Menatap Lira dengan mata penuh dendam. Kita akan bicara nanti. Lira menelan ludah. "Iya... Kak." --- Hampir selesai. Seorang perempuan masuk. Rambut pendek. Memesan bakso. Duduk di ujung. Mengambil ponsel. Santai. Cuek. Arsya melirik sekilas. Ada ketenangan di sekelilingnya. Berbeda. Entah kenapa. Jantungnya berdetak sedikit tidak beraturan. Perempuan itu—tanpa sengaja—menoleh. Mata dingin. Bertemu mata Arsya. Arsya cepat menunduk. Efek kelelahan dimensi. Pasti. "Kak." Lira memecah lamunan. "Kita sudah makan. Sekarang ke mana?" Arsya melihat sekeliling. Gang sempit. Berisik. Asing. "Kita perlu cari tempat bernama 'kos'. Dan kita harus pelajari 'kertas warna' yang disebut 'uang'." Lira mengangguk semangat. Mereka bangkit. Berjalan keluar. Meninggalkan Naya yang masih santai dengan baksonya. Ia melirik punggung dua orang aneh itu. Sedikit penasaran. Lalu mengangkat bahu. --- Bab pertama petualangan kacau mereka di Jakarta resmi dimulai. Dan Arsya—Dewa Strategi dan Logika—belum tahu. Bahwa di dunia ini. Logika tidak selalu menang. Dan strategi terbaik kadang adalah. Makan dulu. Pusing belakangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN