02 | Dangerous Woman

1366 Kata
Damian memainkan jam pasir di atas meja kerjanya. Andai buliran pasir di dalamnya memiliki perasaan, mereka pasti akan mengeluh, pusing karena Damian tak hentinya memutar-mutar jam pasir tersebut. Jemarinya memang tengah bermain dengan jam pasir, namun sepasang mata tajam itu tengah bertumpu pada jam dinding yang tidak hentinya berputar. Jarum jam seolah mengejeknya karena ia terus bertemu dengan angka 12 meskipun ia telah melewatinya. Jarum itu selalu kembali dan menemukan asalnya berhenti. Tapi tidak dengannya. Ada yang hilang dalam diri Damian. Sejak dulu, ia mencari. Namun, ia merasa t***l karena dirinya sendiri pun tidak tahu apa yang dicarinya. Damian melempar jam pasir di tangannya ke arah jam dinding di hadapannya. Jam dinding tersebut retak, sementara jam pasir mungil itu hancur berkeping. Bunyi pecahan kaca yang cukup nyaring seolah belum cukup membuat Damian puas. Ia bahkan ingin melempar dirinya sendiri ke dasar laut karena hidup seperti kambing d***u yang tidak punya arah. Lelaki itu melirik jam dinding retak yang rupanya masih bertahan di tempatnya. Pukul 08:00 malam. Mungkin ia perlu mengisi perutnya dahulu kemudian beristirahat. Kekosongan waktu seperti ini membuat Damian terus berpikir hal-hal bodoh yang tidak seharusnya ia pusingkan. Ia telah mendapatkan seluruhnya. Semua dirampasnya tanpa ampun hingga ia bisa seperti sekarang. Damian harus mengakui, kelicikan seseorang dalam diri ternyata sangat perlu dikembangkan. Buktinya adalah Damian sendiri. Tidak perlu bersusah payah, semua kini berada di tangannya. Dalam kuasanya. Dosa? Itu urusan nanti. Ini dunia, bukan akhirat! Lagi pula, siapa pun sepertinya tidak pantas berbicara soal dosa pada iblis sempurna semacam Damian. Lelaki itu memang berlumur dosa sejak lahir. Segala macam dosa telah ia cicipi bahkan saat dirinya masih kecil. Damian yang malang. Damian yang dikasihani. Damian yang tidak diacuhkan dulu, sudah mati. Damian yang dibicarakan saat ini adalah Damian Artadewa. Nama yang menjijikan untuknya karena ia tidak pantas menyandang nama "Dewa". Ia lebih pantas diberi nama devil, Lucifer, satan, atau semacamnya. Damian yang sekarang adalah lelaki berbahaya yang dihormati semua orang. Tidak hormat, maka kau akan bersujud dengan paksa di bawah kaki lelaki itu. Semua orang tahu siapa dirinya, tapi tidak dengan si Damian malang dahulu. *** Sara melahap roti isi yang dibawanya seraya berjalan cepat. Langkah sempitnya membuat perempuan itu gemas sendiri! Pintu lift di seberang terbuka, Sara harus cepat ke sana sebelum lift tertutup dan naik sebelum Sara masuk. Ia memilih menggunakan lift karena lantai tempatnya bekerja cukup melelahkan bila ditempuh dengan anak tangga yang tidak sedikit! Ini adalah hari pertama Sara bekerja. Ia bahkan merias tipis wajahnya agar tidak terlihat begitu buruk di depan para rekan barunya. Pintu lift nyaris tertutup dan membuat Sara menghela napas pasrah. Namun, sebuah tangan dari dalam menahannya hingga pintu tersebut otomatis terbuka kembali. Sara terperangah dengan apa yang didapatinya. Lekaki itu bukan manusia! Batinnya memekik. Bagaimana mungkin ada manusia setampan ini? Lagi, batinnya merutuki pemikirannya sendiri. Sara bahkan terlihat menggeleng kecil, lantas menangkap tatapan tajam tersebut. Lelaki itu menatapnya tidak bersahabat! Atau mungkin jengkel karena Sara yang tidak kunjung masuk ke dalam lift? Sara meringis kecil, nyaris tak kentara kalau saja lelaki itu tidak memerhatikannya. Wajahnya sedikit matang karena malu, tertangkap basah tengah diam-diam mengagumi lelaki yang saat ini berada di satu lift dengannya. Sara menunduk. Entah mengapa saat ini, sepasang flat shoes yang dikenakannya lebih menarik dipandang dari pada melihat objek yang berhasil membuat jantung Sara berdegup cepat. Tidak. Tidak boleh seperti ini! Ia telah menjadi milik Adrian, Sara bahkan begitu mencintai Adrian. Tapi mengapa jantungnya seolah berkhianat? Sekali lagi tidak! Diam-diam Sara menghirup napas dalam-dalam lantas menghembuskannya perlahan. Mungkin karena ia masih memiliki sisi remaja di mana ia masih senang melihat pria-pria tampan seperti ini. Hanya senang. Ya, mungkin seperti itu. Lelaki ini berbahaya baginya. Sara harus menjauhinya! "Lantai berapa?" Pertanyaan itu membuat Sara terkejut. Suara berat yang terdengar seksi bagi para perempuan yang mengidamkannya itu menyadarkan Sara dari lamunannya. Keterkejutan Sara yang begitu terbaca membuat alis tebal lelaki itu terangkat. "Di sini aja," cicit Sara. Ia merutuki suaranya yang keluar. Mengapa terdengar seperti tikus?! Bahkan, Adrian tidak pernah membuatnya gugup seperti ini. Oh! Sara mengerti. Mungkin ia bukan "senang" dengan lelaki ini. Ia hanya merasa terintimidasi dengan tatapan tajam itu sehingga ia menjadi gugup. Ya, seperti itu! "Kamu pikir ini angkutan umum, hm?" Sara meliriknya dari balik bulu mata. "Enam, Pak." Tanpa banyak bicara, lelaki itu menekan tombol 6 pada lift tersebut. Setelahnya, hening menguasai atmosfer ruang keduanya. Hingga denting lift berbunyi, pertanda Sara harus segera keluar dari sana. Sara melangkah keluar. Namun, sebelum pintu lift benar-benar tertutup, suara itu membuatnya tertegun. "Perhatikan langkahmu." Tegas dan tidak terbantah. Itulah yang Sara tangkap dari intonasinya. Sara mengembuskan napasnya. Ia telah sampai di lantai tempatnya bekerja. Pandangannya menyisir. Baru ia sadari bahwa semua orang tertegun menatapnya. Sara mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Ada yang salahkah dengan dirinya? Perempuan itu segera merapikan penampilannya. Mungkin terlihat sedikit berantakan karena ia berangkat terburu-buru tadi, takut terlambat di hari pertamanya bekerja. Tapi tunggu. Bukan Sara yang mereka perhatikan. Melainkan lift di belakangnya yang telah tertutup rapat. Ada apa dengan lift itu? "Hei, kamu karyawan baru, ya?" tanya seorang lelaki dengan secangkir kopi di tangannya. Sara manggut-manggut. Masih tampak jelas raut kebingungan di wajahnya. "Iya. Aku Sara." Lelaki itu tersenyum. "Aku Fandhi. Tempatmu di samping kubikelku. Mari..." Sara tersenyum tipis menerima penawaran bersahabat itu. Ia diantar Fandhi sampai duduk di kursinya, diikuti lelaki itu yang duduk di sebelahnya. "Hei, apa kamu penasaran kenapa seluruh karyawan di sini terkejut saat kamu datang tadi?" tanya Fandhi, nyaris berbisik. Sara menggumam kecil. "Mereka tertegun melihat lift di belakangku tadi..." Fandhi tersenyum geli. Betapa polos perempuan ini, pikirnya. "Mereka tertegun melihatmu Sara. Kamu datang dengan sebuah kejutan." "Maksudnya?" tanya Sara tidak mengerti. Perempuan itu menelengkan kepalanya, menatap Fandhi yang tersenyum misterius. "Kamu nggak tahu siapa laki-laki yang berada di satu lift yang sama denganmu?" Sara menggeleng. Kemudian bibirnya membentuk lingkaran mungil. "Apa laki-laki itu manager kita?" Fandhi menggeleng lantas tersenyum. "Dia pemilik sekaligus CEO perusahaan ini. Dan baru saja kamu masuk ke lift khusus untuknya yang terhubung juga ke sini. Tapi, lift karyawan sesungguhnya adalah di sana," jelas Fandhi lantas menunjuk dua lift yang berada di ujung. "Juga, kenapa mereka tadi, termasuk aku sendiri sempat terkejut, itu karena Pak Damian malah menyuruhmu untuk memerhatikan langkah ketimbang menyemburmu habis-habisan dengan lidah tajamnya." Dan Sara hanya bisa tertegun membalas senyuman jahil teman barunya tersebut. *** Adrian gelisah. Sara tidak kunjung membalas pesannya. Adrian cemas, takut akan keadaan Sara di sana. Pasalnya, ia tengah membiarkan Sara menikmati pekerjaan barunya. Harus ia akui, ia telah melepas Sara ke dalam kandang yang dikuasai sesuatu yang buas. Bukan lagi binatang, sang buas adalah iblis pemangsa bahagia. Adrian terkejut bukan main saat Sara memberikan kabar, di mana perempuannya itu akan bekerja. Adrian mencoba melarang Sara bekerja di sana dengan segala cara, bahkan dengan alasan tidak masuk akal sekalipun. Tapi Sara hanya tersenyum manis dan mengatakan bahwa Adrian tidak perlu takut. Perempuan itu akan selalu ada untuk Adrian kapan pun Adrian butuhkan. Masalahnya, setiap detik sesungguhnya ia membutuhkan Sara. Adrian belum bisa memberitahu alasan sebenarnya. Tidak, bukan belum. Bahkan Adrian tidak pernah berpikir untuk berbagi soal masa lalunya pada siapa pun. Hanya dirinya yang menyimpan semua itu, begitu rapat. Ia tidak ingin mengungkitnya sedikit pun. Terlebih pada Sara, isterinya yang teramat dicintai. Sudah terlambat untuk menyembunyikan bahkan memalsukan identitas Sara di perusahaan itu. Perempuannya memang keras kepala dan jahil, Sara tidak jarang melakukan sesuatu yang Adrian tidak ketahui meskipun setelahnya perempuan itu akan selalu bercerita dan jujur padanya. Demi Tuhan, ia tidak ingin lagi kehilangan. Adrian sudah cukup bahagia, hanya dengan menggenggam Sara dalam kuasanya. Kehadiran Sara tidak lagi membuat Adrian bersedih untuk ketololannya di masa lalu. Kehadiran Sara membuat Adrian semakin kuat dan kembali menjadi dirinya yang dulu. Adrian yang sempurna. Kehilangan Sara adalah kematian baginya. *** Damian mengatupkan rahangnya, memandangi kosong pemandangan kota di luar dinding kaca. Tatapan perempuan itu... Oh ayolah! Damian adalah orang terakhir yang memilih pusing untuk memikirkan lawan jenis! Ia bahkan baru bertemu dengan perempuan itu sekali dan itupun hanya sementara, bagaimana bayang-bayang mungil itu masih betah mengitari benaknya?! Damian meneguk sampanye di tangannya dengan sekali tandas. Itu adalah gelas ketiganya. Namun, tatapan sepasang mata bundar itu tidak juga menguap dari benaknya! Damian membanting gelas mungil di tangannya hingga hancur berkeping di lantai. Perempuan itu berbahaya. Damian harus menjauhinya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN