Irlac ikut menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke samping, pada raut terkejut Ellina. dan pada tatapan dingin yang penuh peringatan. dia tahu, gadisnya tak menyukai hal yang dia lakukan. tapi, dia tak peduli. Dia hanya tersenyum lalu meletakkan tangannya di pipi Ellina dengan sangat lembut.
"Kau bilang, kau dan ibumu selalu hidup berpindah pindah. Lalu saat kau betemu denganku, kau menangis karena tak mau pindah dan meninggalkanku," ucap irlac melanjutkan kata-katanya. "kita selalu bersama sejak saat itu. dan kau menjadi temanku yang pertama kali."
Ellina masih diam. Dia bagai tersihir. Semua itu, seakan ingatan yang tak pernah dia dapatkan meski dia mencoba mengingat semuanya. Dia ingin mendengar lebih banyak. Jadi dia membiarkan tangan Irlac menyentuh pipinya hangat. meski merasa semua salah dan dia belum yakin dengan hal yang irlac ucapkan, tapi dia ingin tahu lebih banyak.
"Kita akan main bersama setiap hari. Karena aku tak memiliki teman, kau mengatakan bahwa akan menemaniku seumur hidupmu. Kau mengatakan akan menjadi istriku dan saat kita besar, kita akan menikah."
Irlac tertawa kecil mengingat itu semua. Kenangan manis itu tiba-tiba menyesak di depan matanya dan dia ditarik untuk bernostalgia. Tak bisa dipungkiri. Dia rindu masa itu. Dia rindu dan ingin meminta semua janji kecil itu. dan perasaan itu membawa kenagan tersendiri di sudut hatinya. dia merasa seluruh ingatannya hanya berputar pada saat puluhan tahun silam. dimana dia dan istri kecilnya tampak riang dan bahagia.
Ellina mengernyitkan keningnya. Dia mencoba mengingat semua hal yang Irlac katakan. Tapi tak ada kenangan yang bisa dia temukan. Dia beralih menatap manik coklat mata Irlac. Dan menemukan riak kerinduan dalam di mata pria tersebut. Bahkan mata indah sayu itu terlihat merah karena menahan air yang telah menggenang. membuatnya hanyut dan terlena. sekan dia lupa untk memberontak dan menanyakan semua kata-kata yang dia dengar.
"Aku rindu masa itu," ucap Irlac kemudian. Dia menarik tangan Ellina dalam gengaman hangat tangannya. Kembali melangkah bersama dengan pelan dan bahagia.
"Aku--" sela Ellina merasa tak dapat mengingat apapun. dia mencoba menarik tangannya dan berpikir untuk pulang karena merasa irlac kian aneh."kurasa kau semakin aneh. sudah kukatakan, aku bukan istri kecilmu, dan kau salah orang. aku tak pernag memiliki kenangan apapun seprti yang kau ceritakan. aku--"
"Sshhhtttt," Irlac menghentikan langkahnya tiba-tiba. Jari telunjuknya bergerak menutup bibir Ellina. "Kau tak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya. Itu akan menyakiti dirimu. Aku tahu, kau kehilangan ingatan kecilmu."
Dan mendengar itu mata Ellina terbelalak. Sebenarnya, seberapa banyak yang pria ini ketahui tentangnya. Dia mundur sedikit dan mulai waspada. Dia menjadi mulai takut karena merasa pria ini telah menyelidiki semua tentangnya.
Melihat itu, Irlac sangat mengerti. Untuk saat ini, kepercayaan Ellina adalah hal utama yang harus dimilikinya. Dan dia harus berusaha untuk mendapatkan itu semua. Dia mendekat, meraih tangan Ellina kembali dalam genggamannya. Semua hal yang dia lakukan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Kau tak perlu takut padaku. Aku benar-benar mengatakan semua hal yang aku ketahui. Aku akan membantumu untuk mengingat itu semua. Kita bisa mengunjungi rumah masa kecilmu dulu, dan memulai semua dari awal lagi."
Dan Ellina kembali menatap tak percaya pada pendengarannya. Dia menatap lurus mata Irlac, "Ka-kau, bahkan tahu dimana aku tinggal saat aku masih kecil? Kau benar-benar tak membohongiku?"
Mendapati pertanyaan penuh minat itu Irlac mengangguk lalu menggeleng. "Aku tahu semua tentang dirimu. Aku benar-benar kekasih masa kecilmu. Kau bisa percaya padaku,"
tapi hal itu tak membuat ellina percaya begitu saja. akan terlihat sangat bodoh jika dia dapat ditipu karena masa lalu yang tak dapat diingatnya. "jangan bercanda. kau pasti hanya main-mainkarena bosan. tapi aku bukan orang yang bisa mengikuti cerita bodohmu. silahkan temukan wanita lain. aku tak berminat. dasar,"
ellina membalikkan tubuhnya dan akan melangkah sebelum suara irlac menghentikan langkahnya.
"Delvina Livia. istri dari tuan Aldric Rexton."
Jantung Ellina bagai teremas saat Irlac menyebutkan nama ibunya. Dia membalikkan tubuhnya cepat dengan mata menahan amarah. Kenapa? Kenapa pria ini bisa tahu tentang ibunya? Kenapa pria ini tahu semua tentangnya dengan mudah? Sedangkan dia tidak tahu apa-apa.
Tangan Ellina bergerak cepat meremas jas Irlac. Tatapannya berganti menjadi penuh harapan dan beberapa air mata menggantung di ujung matanya. Jantungnya berdegup kencang. Dia sangat terkejut hingga tak dapat mengekspresikan emosinya.
"Kau benar-benar tahu ibuku?"
Irlac menatap dua manik dengan kilatan emosi yang saling berhubungan. Marah, kesal, putus asa tapi penuh dengan kerinduan. Dia mengangguk pelan. "Aku tahu semua hal tentang masa kecilmu. Rumahmu, wajah ibumu, hingga semua hal tentang dirimu."
Remasan di jas Irlac semakin kuat. Kilatan ingin tahu Ellina menguar hingga tanpa sadar dia mendekatkan tubuhnya merapat pada tubuh Irlac. "Tuan, bawa aku kesana. Bawa aku kerumah masa kecilku. Aku membutuhkannya untuk membangkitkan ingatanku. Aku harus tahu semua tentang ibuku. Aku, aku, akan-- tuan,"
Irlac menatap manik mata Ellina yang penuh harapan. Kejutan terjadi di matanya. Dia jelas melihat ada riak kerinduan yang dalam di mata gadisnya. Tapi itu penuh dengan putus asa. Dia mengerti hal itu. Lalu dia dengan lembut mengusap pipi Ellina lembut.
"Aku akan membantumu. Karena itu, aku meminta kau mulai mengenal diriku. Aku Irlac Fallon Agate. Teman masa kecil dan suami masa kecilmu. Apakah kau bisa berjanji untuk tidak melupakan aku lagi?"
Mendengar itu Ellina mengangguk cepat. Air matanya baru saja lolos. Dia benar-benar merasakan menemukan orang yamg tepat untuk membuka ingatannya yang terkunci. "Aku akan mengingatnya. Aku akan berusaha mengingat dirimu. Tuan, aku janji, aku akan--"
"Irlac." potong Irlac menyebutkan namanya. "Dulu, kau selalu memanggil namaku dengan penuh senyum dan sesekali memanggilku dengan sebutan 'Suamiku'. Tapi sekarang, aku mau kau benar-benar menyebut namaku."
Ellina tertegun. Dia menangis dan menganggukkan kepalanya tanda sadar. Tak peduli hal apa yang Irlac inginkan, dia hanya butuh ingatan masa kecilnya. "Irlac," panggilnya lirih. "Ceritakan tentang masa kecilku. Dan ibuku, apakah kau juga mengenalnya dengan baik? Apakah kau pernah bertemu dengannya? Seperti apa dirinya?"
Irlac tersenyum dan mengelus puncak kepala Ellina berkali-kali. Dia mengangguk pasti. "Tentu saja, aku mengenal ibumu. Sudah kukatakan untuk kesekian kali, aku benar-benar kekasih masa kecilmu. Apakah kini kau percaya padaku?"
Ellina mengangguk tanpa sadar. Saat ini dia hanya butuh ingatan masa kecilnya, juga informasi tentang ibunya. "Aku percaya padamu. Jadi, bawa aku kesana. Ceritakan semua hal yang kau tahu tentang ibuku. Aku tak dapat mengingatnya. Irlac, aku tak dapat mengingat kenanganku bersama ibuku,"
Dan kau juga tak dapat mengingat tentang diriku. Tentang kita dan seluruh janji manis kita. sela Irlac dalam hati. Tapi dia tak mengatakan itu semua.
Dan tangisan Ellina pun pecah. Irlac memeluk tubuh Ellina erat. Menenangkan Ellina dengan penuh kasih sayang. Dia membawa Ellina memasuki sebuah cafe. Mendegarkan tangisan Ellina hingga gadis itu usai. Dia menatap mata bengkak itu, dengan tulus tangannya terulur menyentuh pipi halus itu.
"Lain kali, kau tak boleh menangis. Aku tak suka melihatmu menangis. Lalu, Ibumu juga tak akan senang melihat itu,"
Ellina tersenyum malu. Saat ini dia mulai menguasai emosinya dan seluruh rasa ingin tahunya. Dia bisa berpikir lebih normal dan menatap pria di sampingnya dengan penuh ketelitian. Untuk persekian detik jiwa wanitanya berlonjak kaget. Pria ini, benar-benar tampan dan memiliki daya tarik yang kuat. Tapi dia tak akan menyebutkan itu. Dia hanya butuh cerita tentang masa kecilnya.
"Irlac, ceritakan padaku. Tentang semua yang kau tahu."
Awalnya Irlac tersenyum tapi kemudian dia cemberut. "Aku akan menceritakan semuanya padamu. Secara pelan. Tapi semua tak semudah itu,"
Mendengar itu Ellina menyadari maksud Irlac. Dia melihat itu dalam batas kewajaran. "Apa syaratnya? Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Aku bisa membayarmu untuk semua informasi yang kau tahu," ucapnya memburu. Dia takut kehilangan semua informasi penting.
Mata Irlac menyipit. Tatapannya berubah sendu. "Apa kau pikir aku meminta sesuatu padamu? Aku bukan pencuri atau perampok. Aku juga tak kekurangan uang. Aku sangat kaya,"
Ellina mulai bingung, dia mengigit bibir bawahnya tanpa sadar. "Lalu, apa yang kau inginkan?"
"Itu mudah," ucap Irlac dengan tersenyum. Dia tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di pundak Ellina. "Kau hanya harus menemaniku setiap hari."
Ellina terkejut, saat tiba-tiba kepala Irlac bersandar di pundaknya. Aroma lembut pohon pinus, musk dan sedikit manis menyapa indera penciumannya. Itu sangat berbeda dari aroma Kenzie. Dan dia tak terbiasa. Terlebih telinganya sangat jelas mendengar permintaan Irlac.
"Setiap hari? Itu, sedikit sulit. Aku harus bekerja."
"Jika begitu, kau hanya perlu menjadi istriku. Kau tak perlu bekerja dan aku akan memanjakanmu,"
Ellina tertawa kecil mendengar rayuan itu. "Jangan becanda. Kau tahu aku tak ingat apapun. Tapi kau selalu menyebutkan istri kecil setiap waktu. Benar-benar konyol."
Kepala Irlac bangun, dan matanya menatap mata Ellina. "Dua jam setiap hari. Dan aku akan memberikan satu informasi dari kenangan masa kecilmu. Kau setuju?"
Ellina diam dan menimbamg.
"Lalu, aku mau kau selalu menemani sarapan pagiku,"
Ellina menoleh saat melihat Irlac menambah permintaan. "Bukankah itu terlalu banyak?"
"Baiklah, lupakan semuanya," ujar Irlac membalas dengan berdiri tiba-tiba. Dia sengaja melirik jam di pergelangan tangannya dan berujar. "Aku lupa, bahwa mungkin selama aku disini, aku akan sangat sibuk. Aku tak memiliki waktu untuk menemanimu bermain main,"
Dengan itu tangan Ellina meraih ujung baju lengan Irlac. Matanya berair dengan tatapan kesedihan. Bibir bawahnya menumpuk sedikit di bibir atasnya. Dia menatap sendu. "Kau akan pergi?"
Melihat tatapan itu hati Irlac tak bisa menahan rasa geli. Dia telah bermain dan bertemu dengan banyak wanita saat ini, tapi gadis di depannya ini begitu imut dan menggemaskan. Dia melunakkan sikapnya. Tapi tetap menarik ulur untuk mendapatkan kemauannya.
Melihat tak ada tanggapan, Ellina semakin melihat dengan tatapan memohon. Kepalanya mengangguk pelan , ujung bibirnya terbuka membuat suara. "Baiklah aku akan menemanimu sarapan setiap pagi."
Mata Irlac berbinar, dia segera kembali duduk dan tersenyum. "Gadis yang baik, maka aku akan membantumu mengingat semuanya."
Melihat Irlac menyerah begitu mudah, sesuatu yang asam serasa naik di bibir Ellina. Dia menatap kesal karena merasa telah di tipu. Pria ini dengan mudah menarik dirinya untuk berada di lingkaran hidupnya. Dia bahkan tak memiliki waktu berpikir apalagi menolak. Sepertinya, dia harus berhati hati saat dekat dengan pria sepertinya.