"Suami kepedesan malah diledekin. Bantu tiupin!"
"Hah? Tiupin apanya?"
Mulut kepedesan minta dibantu tiupin. Apa yang ditiupin? Ada-ada saja.
"Nih tiupin mulutku!" Duh, ampun ah. Kalau bukan suami, kalau bukan karena ingin hidup enak dan serba kecukupan, malas sekali meniupkan mulut Damian yang memerah itu. Aku menarik kursi, agar berada di depannya.
"Deketan sini! Biar aku tiupin."
Damian menarik kursi yang diduduki agar lebih kedepan mendekatiku. Sesuai perintah Damian, aku meniup mulut Damian.
"Mas, ini teh manisnya."
Untung saja Uda Faisal cepat datang. Damian menghabiskan es teh manis, setelahnya bernapas lega.
"Masih pedes gak?"
"Udah lebih baik. Kamu habiskan makananmu, habis itu kita pulang."
"Pulang ke kota?" Aku tak bisa meninggalkan bapak sendirian di klinik. Khawatir Juragan Norman kembali lagi menemui bapak dan menyakitinya.
"Memangnya di sini mau berapa hari?"
Ternyata benar kalau Damian ingin kami pulang ke kota sekarang. Bapak harus ikut bersamaku ke kota.
"Dam, apa kamu tega ninggalin bapak yang sakit sendirian di sini?" tanyaku sambil berharap Damian mau bersabar menunggu bapak kembali sehat.
"Di sini bapakmu memang sendirian. Sekarang masalahnya apa? Aku gak mau tau, hari ini juga kita pulang ke Jakarta."
Bibirku mengerucut mendengar perintah Damian. Lelaki itu mengeluarkan dua lembar uang nominal tertinggi, lalu keluar warung nasi padang. Aku terdiam, tidak ingin beranjak. Memikirkan keadaan bapak yang masih sakit hidup sendirian di kampung ini. Belum lagi, aku takut Juragan Norman mencelakai bapak lagi.
"Salsa, ini uang kembalian suamimu." Sangat hati-hati, Uda Faisal menyodorkan uang kembalian Damian. Aku melirik pada lembaran uang itu, lalu menyodorkan kembali pada Uda Faisal.
"Gak usah dikembaliin, Uda. Uang suamiku banyak."
Mungkin sebelum aku dinikahi Damian, uang dua ribu perak saja sangat berharga. Tetapi, sekarang tidak ada apa-apanya. Sejak menjadi istri seorang Damian, aku selalu meminta uang padanya hampir tiap bulan apalagi sekarang aku sedang hamil. Harus lebih pandai memanfaatkan momentum. Bukan aku ingin memanfaatkan Damian, tetapi tidak ada salahnya jika meminta uang berapapun pada suami sendiri. Yang penting, tidak minta uang pada suami orang lain.
"Wah, makasih banyak, Salsa. Kayaknya suami kamu orang kaya banget ya, Sal? Hebat bener."
Aku tersenyum tipis mendengar pujian uda Faisal.
"Bukan banget lagi, Da. Banget, banget, banget. Ya udah, aku pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Berjalan ke arah mobil, di dalam sana sudah ada Damian yang duduk nyaman di balik kemudi. Keterlaluan sekali. Istri lagi ngambek bukannya dihibur malah dianggurin.
Kendaraan yang kami tumpangi melaju, kembali ke klinik. Perutku masih terasa lapar. Melihat Damian yang kepedesan, selera makan langsung hilang. Melirik ke belakang, ada Miau yang duduk manis. Tuh Kucing semakin hari semakin cantik saja.
"Tadi kenapa makan sedikit? Katanya lapar?" tanya Damian. Aku menoleh kesal.
"Emang lapar. Sekarang aja masih lapar. Aku makan sedikit gara-gara kamu. Badan kekar, muka sangar, tapi kepedesan sambel, langsung teriak. Bikin orang panik. Udah hilang pedesnya, langsung ngajakin pergi. Coba kamu pikir, gimana aku bisa makan banyak?" Cerocosku kesal.
Aneh memang, cuma perkara sambal, dia langsung pergi dari tempat itu.
"Kamu sendiri yang salah. Kenapa pesen menu yang ada sambalnya? Udah tau, aku kurang suka pedes."
Dasar egois. Sudah salah, menyalahkan. Aku terdiam, malas menanggapi perdebatan yang ujungnya pasti aku yang disuruh minta maaf .
"Memangnya s**u ibu hamil enggak dibawa?"
Aku menggelengkan kepala, tanpa ingin mengeluarkan kata-kata.
"Jadi seharian ini kamu belum minum s**u ibu hamil?"
Intonasi suara Damian semakin meninggi. Aku menghela napas berat. Lagi, menggelengkan kepala.
"Kamu itu sangat ceroboh. Bisa gak kamu jaga calon bayiku? Aku udah bayar mahal, dan kamu malah kayak gitu. Eh, aku bayar rahimmu enggak murah, mahal. Hampir 400 jutaan. Kamu pikir, uang segitu gampang dapetinnya? Tiap hari aku cari uang dengan mentaruhkan nyawa. Kamu denger gak?"
Kedua air mataku tanpa terasa menetes. Kalau sudah begini, ingin rasanya mengembalikan uang Damian. Tapi, aku tidak mau. Dia memang suka marah-marah. Kata-katanya sering menyakitkan hati. Aku harus tahan, paling tidak sampai anak ini lahir. Setelah itu, aku akan keluar kota atau luar negeri, menjauhi Damian sejauh-jauhnya.
"Aku minta maaf."
Lebih baik mengalah. Lebih baik minta maaf. Lebih baik sudahi pertengkaran ini. Terdengar helaan napas berat Damian. Aku masih enggan menoleh, memandang keluar jendela agar tangisanku tidak terlihat.
Sampai di klinik, Damian turun dari mobil lebih dulu. Aku menarik napas panjang, menetralisir perasaan kecewa. Menyeka lelehan air mata, setelah itu barulah turun. Kulihat Bi Sanah datang tergopoh-gopoh menghampiri.
"Non, Mas Damian lagi ngobrol sama dokter. Dia minta bapak diizinkan pulang sore ini." Aku terkejut mendengar ucapan Bi Sanah.
"Serius, Bi?"
"Iya."
Astaghfirullah, apa sih yang ada di dalam pikiran Damian? Bapakku baru dirawat beberapa jam lalu. Sekarang ingin dibawa pulang.
"Damian!" Ternyata benar, Damian sedang berbicara dengan dokter Eli. Aku berjalan cepat menghampirinya.
"Salsa, saya minta maaf gak bisa izinkan Bapak kamu pulang sekarang."
Dokter Eli langsung berbicara. Aku menoleh padanya, Damian justru membuang wajah.
"Iya, dok. Enggak apa-apa. Masalah bapak kapan diperbolehkan pulang kapan, itu terserah dokter. Maafin suami saya ya, dok."
"Iya enggak apa-apa. Mas Damian, saya bener-bener minta maaf. Belum bisa izinkan pasien pulang hari ini. Kalau mau, besok sore saja."
"Iya, dok. Enggak apa-apa." Aku yang menimpali, Damian tetap bergeming dan diam.
"Kalau begitu saya tinggal dulu."
"Iya, dok."
Dokter Eli pergi, kutarik lengan Damian agar duduk di kursi panjang. Mengitari sekeliling, untung saja tidak ada pasien lain. Hanya ada aku dan Damian.
"Damian, aku enggak pernah nyuruh kamu datang ke sini. Aku juga enggak pernah nyuruh kamu nunggu di sini. Kalau kamu pulang, pulang saja. Tapi, aku minta pengertianmu. Tolong izinkan aku di sini temenin bapak. Kalau bapak udah diizinkan pulang, aku pasti ke kota lagi. Aku enggak akan kabur. Aku tau, kamu udah banyak mengeluarkan uang demi bisa punya anak. Aku tau."
Kali ini aku harus berbicara. Bukan aku tidak menghargai Damian sebagai suami. Tapi, bukankan aku juga punya kewajiban menghargai orang tua?
"Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Aku bisa jaga diri, bisa jaga calon anakmu."
Kutinggalkan Damian sendirian. Aku masuk ke dalam ruangan bapak. Terlihat lelaki yang sudah banyak uban di rambutnya tertidur pulas. Luka memar di wajahnya masih terlihat.
Duduk di kursi samping ranjang pasien, memerhatikan wajah bapak yang sudah mulai mengeriput.
"Salsa, kamu udah kembali?" Suara bapak terdengar parau. Aku memaksakan bibir tersenyum. Tidak ingin bapak tahu kalau aku dan Damian baru saja bertengkar.
"Udah, Pak. Maaf, aku jadi ganggu tidur Bapak. Sekarang Bapak tidur lagi ya?" kataku menarikkan selimut sampai d**a bapak.
"Salsa, Bapak minta maaf. Gara-gara Bapak kamu dan suamimu jadi repot. Nak, sebaiknya kamu pulang saja ke kota. Bapak di sini enggak apa-apa. Nanti kalau Bapak udah diizinkan pulang, Bapak akan menyusulmu ke sana. Kasihan Damian, dia pasti enggak nyaman tinggal di kampung."