Bab 4. Di Atas Pangkuan

1069 Kata
"Jangan ngomong sembarangan kau, Dam!" teriak Ferdi marah besar. Tetapi, Damian tetap tenang, tidak tersulut emosi. Kalau memang benar apa yang dikatakan Damian, kurang ajar sekali. Berani mengkhianati cinta Jenny. Sikap Chika jadi salah tingkah. Aku sudah dapat menerka kalau yang dikatakan Damian kemungkinan besar adalah benar. "Kamu gak perlu marah begitu kalau enggak merasa," timpal Damian sangat santai. "Mas, apa benar yang dikatakan Damian? Kalau kamu dan Chika pernah selingkuh? Jujur, Mas!" Jenny, istri Ferdi langsung bertanya. Sedangkan Chika hanya berdiam diri, tidak bertingkah lagi. "Enggak benar, Sayang. Damian bohong. Mana mungkin aku ... a-aku sama Chika." "Iya, benar, Jenny. Aku sama ... sama Ferdi gak pernah ada hubungan khusus, enggak ada, Jen." Chika menjelaskan, menghampiri mereka. Berusaha meyakinkan Jenny. Damian menggenggam telapak tanganku, berjalan ke luar rumah, tidak pedulikan keluarganya lagi. Masuk ke dalam mobil, Damian langsung melajukan kendaraannya. Keberadaan Damian tampaknya sudah tidak dianggap lagi. Dia selalu disisihkan padahal aku tahu kalau Damian anak kandung keluarga Adiwiguna. Sedangkan Ferdi, hanya anak tiri dari pernikahan ibu mertua dengan suami pertamanya. Memandang Damian dari samping. Baru aku sadari kalau dia cukup tampan dan berwibawa. Seketika, teringat anak yang tengah aku kandung. Mengusap perut, dalam hati aku berharap kehadiran anak ini membuat Damian lebih dihargai atau dianggap ada keluarganya. Terpenting lagi, dapat mengubah kehidupan Damian dari dunia hitam. Sampai di rumah, Damian masih bergemig. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Lelaki itu langsung masuk kamar, mengganti pakaian lalu keluar kamar lagi. "Mau kemana dia?" Pertanyaan itu tidak aku ucapkan. Aku hanya melirik, membiarkan Damian keluar kamar. Mengganti pakaian, lalu beranjak ke atas tempat tidur. Kalau ingat perlakuan sikap keluarga Damian membuat sesak napas, darah tinggi dan vertigo. Semua jenis penyakit yang berkaitan dengan emosi sudah pasti dialami. Baru saja merebahkan diri, Damian kembali masuk, membawa nampan berisi sepiring nasi dan lauk pauk serta s**u ibu hamil. "Kamu makan dulu. Bayi yang ada di dalam kandunganmu harus sehat. Nanti, kalau dia udah lahir, kita kuasai rumah itu," ucap Damian tegas, duduk di sisi ranjang. Aku duduk bersandar. "Buka mulutmu! Aku pengen nyuapin kamu. Cepat, buka!" Aku menganggukkan kepala, menuruti perintahnya. Damian terdiam lagi, tidak ada ucapan yang keluar dari mulutnya. Perlahan-lahan Damian menyuapiku. Pandanganku tak lepas memandang lelaki yang sudah sah menjadi suamiku. Melihat Damian tampak menahan emosi yang ingin diluapkan. "Sudah makannya. Udah kenyang," kataku menolak suapan Damian. Aku mengambil segelas s**u, meneguknya hingga tandas. "Obatmu disimpan di mana? Kamu harus minum obat yang dari dokter itu." Aku mengangguk, beranjak turun dari ranjang, mengambil obat yang kusimpan di dalam laci meja rias. "Aku mau ambil air dulu, ya?" "Jangan!" Terkejut, mendengar Damian mecegah. Lelaki tegap itu menghampiri. "Kamu duduk aja. Biar aku yang ambilin airnya," ucap Damian, membawa nampan berisi piring dan gelas, lalu keluar kamar. Kalau sikap dia begini terus, aku akan betah tinggal di sini. Tidak marah-marah atau tidak seenaknya memerintah. Tidak berselang lama, Damian masuk ke dalam kamar lagi. Ia membawa segelas air, menyodorkannya padaku. "Selama kamu hamil, enggak boleh sering-sering keluar kamar. Kalau butuh sesuatu, kamu tinggal telepon bibi, suruh dia ke kamarmu." Menganggukkan kepala, tanpa ingin menyanggah. Damian benar-benar menginginkan anak ini. Aku harus bisa menjaganya dengan baik. "Dam, aku boleh tanya enggak?" tanyaku setelah minum obat pemerian dokter. "Kamu tenang aja, aku akan transfer uang ke rekeningmu karena kamu sudah mau berakting mesra di depan mereka." Perkataan DAmian membuatku terkejut. Dia berpikir aku minta uang karena tadi berhasil akting di depan keluarga besarnya padahal bukan itu. "Udah aku transfer. Kamu sekarang istirahat, aku mau pergi dulu." "Kemana?" "Bukan urusanmu." Astaghfirullah, kumat lagi sangarnya. Tak banyak tanya lagi, kubiarkan Damian pergi keluar kamar, entah mau kemana. Aku beranjak naik ke atas tempat tidur. Menarik selimut, bersiap istirahat. Semoga saja setelah bangun tidur, ada kebahagiaan yang kualami. *** Aku mengerjap, mendengar suara orang yang mengaduh kesakitan. Membuka kedua mata, aku terkejut setengah mati melihat keadaan Damian yang bahunya bersimbah darah. "Ya Allah, Dam. Tanganmu kenapa berdarah begini?" tanyaku panik. Duduk di sampingnya. Damian menutupi luka dengan handuk kecil. Wajah suami kontrakku itu sangat pucat. "To-tolong ambilin pisau." Suara Damian bergetar. Aku menggelengkan kepala berulang kali, tidak mau menuruti perintahnya. Pisau buat apa? Apa jangan-jangan dia akan membunuhku? "Aku mohon, tolong ambilin pisau. A-aku harus mengeluarkan pelurunya." Kedua mataku semakin melebar. Peluru? Apa luka di bahu Damian akibat tembakan? Ya ampun, sebenarnya orang ini dari mana sih? "Kita ke rumah sakit aja. Ayok, aku anter." Damian menggelengkan kepala lemah. "Jangan. Kalau aku ke rumah sakit, nanti mereka curiga. Sudahlah, cepat kamu ambilin pisau." Suara Damian semakin lemah. Mau tidak mau, aku keluar kamar, setengah berlari menuruni anak tangga, mengambil pisau. Setelah itu, kembali ke kamar lagi. "I-ini ...." Jujur saja, tanganku bergetar menyerahkan benda tajam ke depan Damian. Lelaki itu membuka bajunya, aku membantu hingga ia hanya mengenakan kaos oblos. "Dam, ka-kamu mau ngapain?" tanyaku cemas, melihat Damian mengarahkan pisau pada bahunya. "Mau keluarin pelurunya." "Ya Allah, Dam. Jangan!" "Jangan berisik!" Bentakan Damian membuatku terdiam. Sesaat, kulihat ia berusaha mencokel sesuatu dibahunya. Aku tak tahan melihat hal mengerikan itu. Keluar kamar, mengambil kotak pengobatan dan wadah berisi air serta handuk kecil. Masuk ke dalam kamar lagi, Damian sudah terkulai lemas. Tak jauh dari kakinya, terlihat peluru. Aku menelan saliva, berjalan mendekati. "U-udah keluar itunya?" tanyaku terbata-bata. Damian menganggukkan kepala. Wajahnya terlihat sangat pucat. Ia terkulai lemas, kepalanya bersandar ke sofa. "Dam, a-aku bersihin dulu lukamu, ya?" Sumpah, aku takut sekali hal buruk terjadi padanya. Damian menganggukkan kepala lemah. Kuambil handuk kecil yang berada di dalam wadah berisi air, lalu membersihkan darah dari bahu Damian. Hampir setengah jam membersihkan luka. Sebenarnya baru kali ini aku melihat orang bersimbah darah secara langsung. Meski kepala agak pusing melihat darah Damian yang tak kunjung berhenti keluar, aku tetap memaksakan diri mengobati lukanya. Biar bagaimana pun, saat ini Damian suamiku dan dia ayah biologis atas janin yang ada di dalam rahimku. Aku bernapas lega selesai mengobati lukanya. Saat hendak beranjak, Damian menarik lenganku. "Jangan pergi, duduklah di sini! "Suara Damian sangat lemah. Mengurungkan niat menyimpan wadah dan kotak obat-obatan. Kembali duduk di samping Damian. Lalu tiba-tiba lelaki berambut gondrong itu, meletakkan kepalanya di atas pangkuanku. Sontak, aku terkejut. Sebelumnya tidak pernah Damian melakukan hal ini. "Dam, kalau mau istirahat jangan di sini. Di kasur aja," kataku hati-hati, takut Damian marah. Tetapi, lelaki itu tetap bergeming, memejamkan kedua matanya. Aku menghela napas berat, melirik jam dinding kamar, baru menunjukkan pukul 3 dini hari. Sampai kapan Damian tidur di atas pangkuanku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN