PERTEMUAN DI EGYPTIAN MUSEUM

389 Kata
  Abdullah Breck                 Hossam, Said, Zayeed, dan Abdullah baru saja tiba di Kempinski Nile Hotel, Garden City, salah satu hotel berbintang yang berdiri  tepat di depan hamparan aliran Sungai Nil yang terkenal. Mereka sedang Check-In kamar yang sebelumnya sudah dilakukan reservasi.Yusuf sudah memesan kan 2 kamar Twin Bed untuk mereka. Kareem tidak ikut serta karena ada satu urusan keluarga yang harus diselesaikannya. Entahlah, Kareem memilih tidak terbuka kepada mereka tentang urusannya yang satu ini.                 Setelah selesai dengan urusan administratif, mereka diantar seorang staff hotel pria ke kamar masing-masing. Kamar mereka berdampingan di lantai 3. Abdullah breck satu kamar dengan Hossam, Dan Said bersama Zayeed. Mereka memasuki kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak untuk melepas lelah.                 Abdullah berdecak kagum dengan interior kamar hotel ini. “ Ternyata bang Yusuf ga main-main mesenin hotel.” Gumam Abdullah. “ Hotel ini salah satu Hotel Bintang Lima Terbaik di seluruh Kairo, harga juga lumayan. Tapi, kurasa bukan masalah untuk kantong Bang Yusuf mu.” Sahut Hossam. “ Oh iya, selama kalian masih di sini, aku akan menemani kalian, anggap saja aku Tour guide kalian di sini. Aku sudah punya beberapa rencana yang bersarang dalam otakku.” Lanjut Hossam lagi.                 “ Oke. Kita kan berpetualang dalam beberapa hari ini. Dan sebaiknya, kau siapkan mentalmu untuk trip kita kali ini...” ujar Abdullah dengan seringainya. “ Hahahah, Aku harap kita memilih waktu yang tepat untulk berpetualang di Kairo. Kau tahu, jika kita salah waktu, bisa-bisa kita bukan menikmati kisah sejarah Mesir, tapi akan menghadapi Badai Pasir khamsin... Mudah-mudahan kita tidak bertemu dengan badai itu, ga bakal asik.” Sahut Hossam lagi. “Aku yakin kita datang di waktu yang benar Hossam... ini  juga karena rekomendasimu sebagai warga negara Mesir bukan?!” balas Abdullah. “ Baiklah Breck,aku selalu ga bisa menang jika berargumentasi denganmu. Sekarang aku sangat lelah dan ingin beristirahat Breck, kita harus menghemat tenaga untuk petualangan kita.... Hoaaamzzzz, ini sudah hampir maghrib, bangunkan aku setengah jam lagi ok...” ujar Hossam lagi.” Okay... “ balas Abdullah. Mereka pun kemudian berbaring di bed King Size kamar itu. Sementara kedua teman mereak yang lain tak bergeming, sepertinya merekapun merehatkan tubuhnya. Hari baru beranjak senja, matahari masih belum tenggelam, Abdullah menyingkap gorden tipis yang menjuntai di pintu keluar balkon. Dia bisa melihat hamparan Sungai Nil di depan sana. Sementara di sisi lain kamar, di abisa memandang hamparan kota Kairo yang padat. Jantungnya berdegup kencang. Entah perasaan apa ini. Abdullah mulai gelisah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN