Akhirnya aku berada disini, rasanya masih terasa mimpi. Ini awal hariku bekerja dirumah bu bidan. Semoga bu bidan berkenan dengan hasil kerjaku dan aku bisa kerja disini sampai terkumpul biaya sekolah yang kubutuhkan. Semalam aku sudah bertemu bu bidan dan suaminya. Beliau ngasih gambaran tugas yang akan kukerjakan diesok hari. Sebelum tidur aku juga sudah berpesan pada simbok untuk membangunkanku. Dan alhamdulillah saat suara terdengar suara orang mengaji dari kejauhan aku langsung terbangun. Simbok juga sudah bangun. Simbok mandi dulu sebelum melaksanakan sholat shubuh. Setelah simbok selesai mandi, aku juga mandi. Kata simbok biar badan terasa segar dan akan menimbulkan semangat beraktifitas.
Pagi ini aku bantu mbok jinem memasak. Mbok jinem mengeluarkan bahan bahan yang akan dimasak dari dalam kulkas. Nasi goreng menu sarapan yang akan mbok jinem buat karna melihat ada sisa nasi kemaren. Mbok jinem memilah bahan dan bumbu nasi goreng, menyuruhku untuk mengupas dan menguleknya menggunakan cobek batu. Sementara mbok jinem menyiapkan bahan campuran nasi goreng.
Bu bidan masuk kedapur mengambil air minum dan melihat aktifitas kami didapur. Bu bidan memesan menu untuk nanti siang sekalian menu untuk makan malam. Kata mbok jinem kalo bapak kerja, mbok cuma masak buat menu sarapan dan makan malam. Bu bidan menyuruhku, nanti setelah sarapan untuk bersih bersih wilayah klinik yang meliputi ruang periksa dan kamar bersalin. Beliau juga bilang untuk memilah obat obat yang sudah kadaluarsa dilakukan nanti sore aja sepulang beliau dari kerja. Bu bidan menyeduh s**u dan membuat kopi untuk suaminya setelah itu berlalu dari dapur.
Nasi goreng buatan mbok jinem sudah jadi, beliau menyuruhku untuk membersihkan meja makan. Sebenarnya meja makannya masih terlihat bersih sih, tapi mbok jinem tetap menyuruhku untuk mengelapnya dan memastikan mejanya benar benar bersih. Beliau menyuruhku mengambilkan wadah dan dan perlengkapan makan yang ada dikabinet dapur. Aku menata peralatan makan dimeja makan. Wadah yang berisi nasi goreng juga sudah kuletakan dimeja, tidak lupa dengan lalapannya juga.
Kami lanjut menyiapkan bahan untuk buat menu siang dan malam. Seletahnya menyimpannya didalam lemari pendingin. Kami membersihkan area dapur. Bu bidan kedapur sudah terlihat cantik dan wangi. Beliau meletakkan gelas dan cangkir yang suďah kotor dibak cucian piring sambil mengajak kami sarapan bersama. Kami memang sarapan bersama tapi dengan tempat yang berbeda. Bu bidan dan suami sarapan dimeja makan sementara kami dimeja dapur. Kata mbok jinem sungkan sarapan semeja dengan bapak.
Mbok jinem bercerita kalo bapak gak dirumah biasanya bu bidan kalo makan minta ditemani. Bu bidan jarang makan sendiri. Karna mbok merasa sungkan makan dimeja makan maka bu bidan yang memilih makan djmeja dapur. Kata bu bidan lebih senang dan nikmat kalo makan ada temannya.
Selesai mereka sarapan kami beres beres meja makan dan bersih bersih rumah. Bu bidan dan pak harun berangkat kerja menggunakan mobil. Melihat mereka rasanya hatiku nyaman. Walau saat ketemu pertama kali kulihat wajah pak harun seperti menyeramkan, namun kulihat beliau orangnya baik. Kulihat pak harun sangat perhatian dan menyayangi bu bidan. Tadi sebelum berangkat bu bidan pesen ke
mbok jinem, untuk menyiapkan makan siang, karna kemungkinan suaminya akan pulang dan makan siang dirumah.
Sesuai arahannya bu bidan setelah selesai membantu mbok jinem beraktifitas didapur, aku membersihkan ruangan klinik. Aku mengelap semua peralatan yang ada diklinik. Kotornya karena berdebu. Tak sampai satu jam, pekerjaanku sudah beres. Lalu aku kembali kerumah utama, mbok jinem juga sudah selesai. Mbok jinem menyuruhku untuk mengunci pintu garasi, karna aku mau diajak berkebun dibelakang rumah. Aku baru tau kalo dibelakang tembok ini ada areal kebun yang tak begitu luas. Ada banyak tanaman sayur yang berbeda beda. Ada kangkung, bayam, terong, kacang panjang, kemangi, pucuk ubi, ubi kayu dan cabe, ada tomat juga. Mbok jinem sudah bawa keranjang, gunting potong dan sabit. Beliau juga memberiku kaos tangan. Katanya kalo pake sarung tangan, setidaknya tangannya gak mudah kapalan dan kasar.
Kegiatan berkebun mengingatkanku akan desa tempat kelahiranku. Aku ingat ibuku yang bekerja sebagai buruh tani. Mbok jinem menyentuh tanganku sambil menyodorkan gunting potong ketanganku. Dia menyuruhku untuk memetik terong dan cabai rawit juga cabe merah, sementara mbok jinem membersihkan rumput yang ada disela sela tanaman denga sabitnya.
"kangkung, kacang panjang dan bayam tidak dipetik juga mbok" tanyaku.
" besok lagi aja nduk, emm ambil kangkung aja, sekitar dua ikat untuk buat tumis " perintahnya. Selesai ambil sayuran dan cabe sesuai pesanan, aku membantu simbok ikut mencabuti rumput dengan tanganku. Perlahan sinar matahari mulai terasa panas, keringat keluar mulai terasa membasahi punggungku. Mbok jinem mengajakku usai. Dilanjutkan besok lagi katanya.
Seminggu sudah aku bekerja ditempat bu bidan. Selama aku disini, aku masih bisa ketemu bude sum. Kami saling bertukar kabar. Aku merasa nyaman disini. Bekerja serasa tidak bekerja, pekerjaannya lebih ringan daripada yang kubayangkan. Rutinitas harian rumah yang biasa kulakukan seperti masih ikut orang tuaku. Bedanya rumah didesaku masih sangat sederhana sekali, makan seadanya. Lauk ikan juga tidak mesti seminggu sekali kecuali kalo bapak mancing dapat ikan. Lauk daging ayam juga kalo lagi ada acara tertentu semisal selamatan atau yang lainnya. Bulan karna ibuku pelit, tapi memang karna kondisi ekonomi yang sulit. Kedua orang tuaku hanyalah buruh tani yang tidak setiap hari tenaganya dibutuhkan. Bapak memang bekerja, tapi bapak perokok kuat. Hasil kerja bapak lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan rokoknya sendiri. Sementara penghasilan ibuku untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarganya. Kadang juga terjadi pertengkaran saat bapak gak dapat kerjaan dan minta uang rokok sama ibu. Ibu lebih mementingkan untuk kebutuhan kami ketimbang bapak.
Dulu saat aku masih dirumah, aku tidak dekat sama bapak. Bahkan tidak pernah ada moment duduk bersama saling bertukar cerita tentang aktifitas masing masing. Makanya saat aku meninggalkan rumah, hatiku merasa biasa aja, tidak ada keinginan untuk cepat cepat pulang kedesa.
Malam ini setelah selesai makan malam bu bidan memanggilku. Hatiku gelisah tak menentu, ketakutan membayangiku. Aku duduk diruang makan, disitu sudah ada bu bidan dan pak harun.
" gimana perasaan lila selama seminggu tinggal disini" tanya bu bidan. Tiba tiba degub jantungku berdebar debar, iramanya jedug jedug gak karuan. Aku takut diberhentikan.
" Alhamdulillah senang bu' jawabku sambil menunduk. Tanganku tiba tiba terasa gemetar. Aku benar benar merasa takut.
" masih ada keinginan lanjut sekolah " tanyanya
" masih bu " jawabku sambil mengangguk.
" begini, ibu sama bapak sepakat mau membantu biayamu masuk sekolah, tapi sekolah yang terdekat sini aja, jadi lila masih bisa tinggal disini dan masih bisa bekerja disini " jelasnya
" Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, alhamdulillah ya Allah, makasih bu, makasih pak " sahutku sambil menangis haru
" kami tetap menggajimu lima ratus sebulan, bapak akan bantu bayar biaya sekolahmu dan ibu akan ngasih uang sakumu tiga ratus sebulan sudah termasuk uang transport " jelas bu bidan. " kalo lila mau sekolah harus belajar prihatin, biar gak boros kalo kesekolah bawa bekal dari rumah, jadi gak banyak jajan " lanjutnya lagi.
" oh ya, dokumen sekolah ada dibawa kan? biar besok hari rabu diantar bapak mendaftar " jelas bu bidan sambil menyodorkan kertas yang berisi persyaratan masuk sekolah.
Malam ini bagaikan mimpi, rasanya tak percaya jika akhirnya aku akan masuk sekolah dalam waktu secepat ini. Aku sampe menyuruh mbok jinem mencubit pipiku, kupeluk mbok jinem penuh suka cita. Beliau juga mengucapkan selamat dan rasa syukur kepadaku.
Akhirnya hari rabu yang kutunggu datang juga. Sesuai dengan janji bu bidan, pagi ini aku didampingi pak harun daftar kesekolah. SMA budi asih yang jadi tujuan kami. Dalam seumur hidupku baru kali ini aku merasakan naik mobil bagus. Aku duduk dibelakang kemudi. begitu masuk mobil suasananya luar biasa. Harap dimaklumi dengan kekatrok'an tingkahku. Aura dingin dan tegang kurasakan. Pak harun orangnya minim kata. Beliau lebih banyak diamnya. Beliau menanyakan kelengkapan syarat syaratnya. Sebenarnya sekolahnya dekat, mungkin sekitar dua puluh menit jalan kaki sudah sampai. Karna pak harun mengantarku menggunakan mobil, terpaksa rute jalannya muter. Sekitar sepuluh menit kami sampai digerbang sekolah. Aku diajak menuju kekantor kepala sekolah. Rupanya pak harun sudah ada janji temu dengan kepala sekolah. Pak harun mengenalkanku sebagai anak angkatnya dan beliau bertindak sebagai waliku. Pak kepala sekolah memanggil admin sekolah yang bertanggung jawab terhadap siswa baru. Beliau mengambil berkas berkas persyaratan masuk yang aku bawa. Tak berapa lama orang yang tadi mengambil berkasku datang menyerahkan tas yang berisi bahan seragam dan kwitansi. Setelah itu pak harun pamit dan mengajakku pulang. Sebelum pulang pak harun meminta maaf ke pak kepala sekolah kalo aku akan terlambat masuk sekolah karna harus menunggu seragamku selesai dijahit.
" nanti tanya ibu, penjahit yang bisa cepat jahitnya biar kamu gak kelamaan nunggunya," pesen pak harun.
" iya pak " jawabku.
Sebenarnya sudah tiga hari yang lalu sudah mulai masuk sekolah. Awal awal masuk sekolah pasti belum belajar karna masih dalam masa pengenalan sekolah.
Malamnya saat sudah selesai makan malam, aku menemui bu bidan diruang keluarga. Mereka duduk berdampingan sedang menonton televisi.
" permisi bu" ucapku
" eh iya sampe lupa, gimana tadi? sudah jadi daftar kan?" tanyanya
" iya papi sampe lupa cerita ke mami, tadi dapat paket bahan seragam yang harus dijahit, mami kan yang lebih paham penjahit mana yang bisa cepat nyleseinnya, soalnya dah hari senin kemaren anak anak mulai masuk sekolah" jelas pak harun ke bu bidan.
" ya udah, sana ambil bahan yang mau dijahit, kita berangkat sekarang aja " sahut bu bidan sambil beranjak.
Aku pun kembali kekamar untuk mengambil bahan seragamnya sekalian aku pamit ke mbok jinem.
Kami pergi berdua menggunakan motor, tak sampai lima menit kami sampai ketempat tujuan. Penjahit barokah tulisan yang aku baca dipapan reklame depan rumahnya. Rupanya tempat ini merupakan langganan bu bidan menjahitkan baju. Bu susi nama penjahitnya, menyambut kami dengan ramah. Bu bidan menyampaikan maksud dan tujuannya datang kemari. Aku tidak tau ada kesepakatan apa antara bu bidan dan suaminya. Selain pak harun, bu bidan juga mengenalkanku sebagai anak angkatnya. Ada rasa bahagia yang membuncah saat mendengar mereka mengenalkanku sebagai anak angkatnya, walaupun kenyataannya dirumah mereka statusku hanyalah pekerja.
Aku dipanggil oleh bu susi untuk masuk ke ruang jahitnya, mau diukur rupanya. Model seragam sudah ditentukan oleh pihak sekolah, karna gambarnya terlampir didalam tas. Bu susi hanya mengukur badanku sesuai yang dibutuhkan. Sekilas ruang jahit ini lumayan rapi, selain ada etalase yang memajang pakaian yang sudah selesai dijahit dan belum diambil pemiliknya, ada juga lemari bahan yang sedang antri untuk dikerjakan. Setelah selesai kami pun pulang, sebelum pulang bu bidan berpesan untuk diselesaikan secepatnya, karna mau dipake sekolah. Bu susi menyanggupi hari minggu sudah bisa diambil. Kupikir kami akan langsung pulang, rupanya bu bidan mengajakku mampir ke toko sepatu dan tas, beliau memilihkan tiga model dan menawarkanku model mana yang kusukai. Ketiga model tersebut berwarna hitam. Kupilih model yang simpel, setidaknya bisa sebagai sepatu harian bisa juga sebagai sepatu olah raga. Bu bidan juga menyuruhku memilih tas sekolah. Begitu selesai dengan pilihanku kami menuju kasir, sampai dikasir aku terkejut luar biasa karna ternyata dua barang tersebut harganya hampir lima ratus ribu. Langsung terbayang uang gajiku, mungkinkah ini diambil dari uang gajiku gumamku dalam hati.
Selesai dari toko tas dan sepatu bu bidan mengajakku mampir ke toko alat tulis. Disini beliau langsung memilihkan buku dan perlengkapannya. Tidak lupa pula beliau menanyakan apa yang kuinginkan. Menurutku ini semua sudah cukup. Habis beli semua kebutuhan sekolahku, bu bidan mampir ke gerobak martabak, beliau menanyakan rasa kesukaanku dan memesannya untuk dibawa pulang.
Subhanallah, hari ini kurasakan luar biasa, Allah melimpahkan banyak nikmat untukku. Tak terasa air mataku mengalir, tiba tiba aku ingat ibuku. Mungkin dengan cara ini Allah sedang mengabulkan doa ibuku. Ya Allah lindungilah kedua orang tuaku dan adikku, berkahilah umur mereka dan rizki mereka, aamiin. Selalu kupanjatkan doa untuk kebaikan mereka. Percayalah Allah akan selalu mengabulkan setiap doamu, Dia akan memberikan diwaktu yang tepat. Banyak jalan dan banyak pintu bagi Allah untuk mengabulkannya, bahkan dengan jalan yang tak pernah kita duga.
Ada sebait doa tulus yang kuucapkan, smoga Allah lancarkan dan mudahkan segala urusan keluarga bu bidan dengan ridhoNya. Allah telah menunjukkan keajaibannya padaku hari ini. Bu bidan adalah orang lain tapi tidak disangka beliau sangat peduli akan masa depanku. Tak henti hentinya kuucapkan rasa syukur yang berlipat lipat. Rasanya sudah tak sabar untuk menanti esok hari, aku mau mengabarkan ke ibu kalo aku sudah daftar sekolah. Harap dimaklumi kalo ibuku tak punya hape. Kalo mau berkabar dengan ibu, aku harus titip pesan dulu ke tetangga. Kapan waktunya aku akan telepon, dengan begitu baru aku bisa berkabar dengan ibu.