(9) 8- His Appearance

1342 Kata
Kemang Medical Center, 7.30 pagi Selama ini tak ada yang pernah tahu wajah Adrian Natawiryawan, anak tunggal pendiri KMC yang sejak lulus sekolah menengah pertama memutuskan untuk mengambil sekolah lanjutan hingga kuliah di negeri kincir angin, Belanda. Tapi sejak kedatangan Adrian bersama Amanda waktu itu barulah semua orang tahu bahwa lelaki berkulit sawo matang yang nampak kharismatik itu adalah anak dari dr. Nadia dan dr. Irzha yang di gadang-gadang akan menjadi penerus dr. Irzha setelah mengambil spesialis nantinya. "You ready?" tanya dr. Irzha pada Adrian sebelum mereka turun dari dalam mobil yang sudah berhenti di lobby. Adrian mengangguk mantap tanpa mengucapkan apapun sambil merapikan kemejanya. "Oke, ayo turun." ajak dr. Irzha, Adrian mengikutinya keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit setelah menjawab sapaan para staff keamanan rumah sakit yang menyapa mereka. Seperti gerakan lambat saat Adrian menegakkan kepalanya, ia melihat sosok perempuan yang sudah membuat dirinya salah paham akan statusnya hari itu. Adrian melihatnya tengah menenangkan seorang anak kecil yang sedang menangis di gendongan ibunya tak ingin masuk ke ruang periksa. Tanpa sadar Adrian tersenyum melihat hal itu dan ketika itu juga mata mereka saling bersapaan satu sama lainnya dan perempuan tadi otomatis tersenyum sekilas saat melihat Adrian dan Adrian melakukan hal yang sama sambil menganggukkan kepalanya sebelum menghilang masuk ke dalam lift. "Lihat siapa, Dri?" tanya dr. Irzha saat melihat perubahan pada wajah putranya itu. "Oh nggak, itu teman Adri, Pa." jawabnya biasa. "Itu anaknya dr. Mai, for your information." tambah dr. Irzha. "Ya, saya tahu, Pa. Beberapa hari lalu sempat ketemu sama adiknya juga di daycare." sahut Adrian lagi, dr. Irzha mengangguk. "She's a good person, a good doctor too.." ujarnya lalu melangkah keluar setelah pintu lift terbuka. Adrian mengerutkan dahinya, mencoba untuk mencerna perkataan Papanya barusan. Apakah itu hanya sebatas pujian atau beliau mencoba untuk membuat Adrian semakin tertarik dengan Aliya? . . . . "Hari ini, resmi saya kenalkan putra tunggal saya, Adrian Natawiryawan yang akan memulai praktiknya hari ini di poli umum menggantikan salah satu dokter yang mengambil kuliah spesialis." ujar dr. Irzha dengan lantangnya. Adrian mengangguk dan membungkuk sejenak untuk menghormati para senior juga staff di rumah sakit ini. Saat ia tersenyum bahkan suara riuh anak-anak koas yang nampaknya terpesona beradu dengan riuh tepuk tangan memenuhi ruang auditorium yang biasa di gunakan untuk acara-acara tertentu itu. "Mohon bantuannya semua." ujar Adrian sembari tersenyum. Sementara di antara kerumunan itu ada Aliya dan Izza yang sedang memperhatikan dari jauh. "Itu yang ngira lo udah punya anak, Al?" bisik Izza. "Iya. For a hundred times. Entah orang ke berapa yang bilang begitu." jawab Aliya setengah berbisik juga. Izza cekikkan kemudian. "Sing sabar yo mbaknya. Maklum ya karena punya adek masih kecil jadi gitu ya, terus lu nggak protes tuh?"  lanjut Izza. "Ngapain juga protes? Biarin aja." jawab Aliya sambil ikutan tepuk tangan walau tak paham apa yang di sampaikan. "Cakep tuh, Al. Shikat lah..." canda Izza saat akan membubarkan diri. "Rese deh, nggak usah mulai-mulai kenapa..." jawab Aliya malas, Izza ini suka sekali menjodoh-jodohkan Aliya dengan dokter tampan yang sekiranya pantas untuk Aliya. "Lu mah gitu sih, Al. Tuh kan tuh kan dia ke sini kan..." Izza bergumam hampir berteriak saat melihat Adrian menghampiri mereka yang berhenti di depan pintu auditorium karena menunggu antrean untuk keluar dari sana. Adrian tersenyum ke arah Aliya. "Hai, how's the patients?" Aliya nampak mengerutkan dahinya sebentar sebelum ia akhirnya ingat bahwa ada anak kecil yang tak ingin diperiksa.  "Ah, ya akhirnya dia mau diperiksa tapi di luar, ruang tunggu tadi itu." jawab Aliya ramah. "Kasihan kalau dipaksa, nanti dia trauma." tambahnya. Adrian mengangguk membenarkan ucapan Aliya sambil mereka menuju keluar dari area auditorium, sementara Izza hanya menahan tawanya di sebelah Aliya. "Benar, kasihan juga masih kecil ya. Oh by the way biasa lunch di mana?" "Hmm kode..." batin Aliya. "Di kantin aja, kalau jauh-jauh macet." jawab Aliya. "Oke, kalau gitu saya bareng ya. Masih nggak tahu makanan yang enak di sini yang mana?" "Tuh kan." batin Aliya lagi. "Tapi ajak Izza ya? Nggak enak kalau cuma berdua." tambah Aliya. Izza yang ada di samping Aliya membulatkan matanya. "Ehh nggak nggak, gue mau ke Abuba kok nanti siang sama Mas Angga. Lu berdua aja." tolak Izza membuat Aliya mengulum senyumnya karena kesal dengan sahabatnya itu. "Oke, nanti siang ya dokter Adri. Saya duluan," Aliya menganggukkan kepalanya berpamitan lalu menyeret Izza ke arah ruangannya juga. "See you at lunch." pekik Adrian. Aliya hanya menoleh dan tersenyum padanya. "Lu kenapa nggak mau gue ajak sih, Za?" omel Aliya saat berjalan menuju poli. "Nggak ah. Nggak mau merusak moment, lagian gue juga mau pacaran sama Mas Angga. Nanti aja kalau lu udah jadian sama Dokter Adri, baru kita double date, yak!" Aliya mencubit pinggang Izza sampai sahabatnya itu mengaduh kesakitan. "Aduduuh..., pedes banget sih cubitan lu! Ih!" protesnya sambil mengusap-usap bekas cubitan Aliya tadi. "Makanya kalau ngomong jangan sembarangan!" cerocosnya lalu menghilang masuk ke ruangannya sementara Izza tertawa melihat wajah Aliya yang memerah. "Nanti juga lu klepek-klepek, Al.. Al..." gumam Izza dan berlalu dari depan poli.  .  .  .  . Adrian masih menerka perasaan apa yang timbul saat ia melihat Aliya tadi pagi. Ia masih belum begitu mengenal Aliya tapi sekilas yang ia tahu dari dr. Irzha, memang Aliya is a good person. Adrian bisa menangkap hal itu sejak bertemu di daycare dan barusan juga. "i don't know what it is..." gumam Adrian. Hari ini Adrian masih santai karena belum ada pasien, ia masih bisa pergi ke mana saja yang ia mau di dalam rumah sakit ini tapi ia memilih untuk stay di ruangannya, mengobrol bersama para susternya yang sengaja ia minta tak inginkan yang muda, ia mau yang seumur dengan Mamanya saja alias Suster senior. Adrian menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan segala pikiran yang berkeliaran sejak tadi lalu melepas snellinya dan keluar dari ruangan. Banyak pasang mata yang melihat ke arah Adrian saat dirinya nampak di keramaian rumah sakit siang ini, tak jarang Adrian juga membalas sapaan para staff atau sesama dokter lainnya. Meski semua nampak baik-baik saja, namun ada juga mulut nyinyir para dokter yang iri dengan Adrian yang kini sudah menetap di polinya tapi Adrian tidak ambil pusing, toh bukan dirinya juga yang menentukan. Suasana kantin sudah cukup ramai, kursi - kursi sudah mulai penuh terisi. Adrian memilih untuk duduk di dekat jendela, ia waktu itu pernah melihat Aliya duduk di kursi yang sama. Mata Adrian tak henti melihat sekeliling menunggu Aliya nampak di kantin sampai akhirnya yang di tunggu pun datang. Otak Adrian langsung memerintah untuk tersenyum dan melambaikan tangannya agar Aliya tahu keberadaannya. "Udah lama?" tanya Aliya saat sudah duduk. "Nggak kok, baru aja. Tahu gitu saya samperin ya?" kekeh Adrian kemudian. "Hahaha nggak lah, biarin di sini aja nggak apa-apa kok. Sama aja." jawab Aliya. "Kamu biasa makan apa?" tanya Adrian, sepertinya perut Adrian mulai keroncongan. "Saya sih biasa beli nasi campur itu, enak deh." Aliya menunjuk stand nasi campur langganannya. "Oke, saya pesenin ya." Adrian lantas bangun dan meninggalkan Aliya sebelum menjawab apapun. Aliya hanya mampu geleng kepala melihat kelakuan Adrian yang begitu semangat seperti ini. Dan benar saja dugaannya, beberapa dokter koas menghampiri Adrian dan mengajaknya berkenalan. "Ini yang paling bikin saya males." ujar Adrian saat kembali ke meja. "Kenapa?" "Tadi kamu lihat kan?" Aliya menahan tawanya sebisa mungkin. "Sabar ya, stok dokter cowok single udah berkurang soalnya." ujar Aliya bercanda lalu menyeruput es teh manisnya. Saat Aliya dan Adrian tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba sesuatu menginterupsi mereka. Aliya menoleh ke sebelahnya ada dokter perempuan yang tengah berdiri membawa nampan makanan. "Hai, boleh gabung?" tanyanya sok ramah pada Adrian, bukan pada Aliya. Ergh. Inesia. Aliya hate her. Aliya hanya bisa memutar matanya dengan jengah saat perempuan itu duduk di sampingnya tanpa permisi pada Aliya dan menganggap dirinya seolah tak ada. Adrian memandang Aliya bingung dan Aliya hanya bisa menghela napas berat dan menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia juga tak suka. Tbc Hai, halloooo ku kembali. Maaf ya kemarin libur, gak kuattt ternyata masih berusaha mengembalikan stamina setelah tepar, ditambah cuaca yang labil. Stay healthy everyone. Hujani aku dengan bintang dan komen kalian yaa #dahgituaja #awastypo Dudui Danke, Ifa        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN