Part 27

1101 Kata
Persiapan pernikahan masih terus Camila dan Bara lakukan. Termasuk memilih cincin perkawinan mereka serta gaun yang akan Camila kenakan di resepsi pernikahannya nanti. Camila memilih gaun sederhana dengan punggung terbuka lebar berwarna putih gading. Terlihat simpel tapi elegan. Bara pun setuju dengan pilihan Camila. Apalagi saat fitting gaunnya, Camila tampak begitu sempurna dengan gaun pilihannya. Lekukan tubuh gadis itu tercetak sempurna dengan kulit putihnya yang mulus. Sejak orangtua Camila sudah menyetujui pernikahan mereka, Bara semakin giat menyiapkan pernikahannya. Meski pernikahan pria itu pernah gagal sebelumnya, dan juga meski Camila mengalami kegagalan dalam pernikahannya, mereka tetap menyiapkan yang terbaik untuk pernikahan mereka kali ini. Bagi mereka menikah adalah moment terpenting seumur hidup yang harus dipersiapkan sesempurna mungkin. Apalagi bagi pria perfectionis seperti Bara. Semua terlihat begitu sempurna. Bahkan orang-orang di kantor tampak senang dengan berita soal rencana pernikahan Camila dan Bara. Pada akhirnya bos mereka bisa membuka hati dan membuka dirinya untuk menjalin hubungan serius dengan wanita lain setelah sebelumnya dikecewakan oleh mantan kekasihnya tepat di hari pernikahannya dulu. Maka, berita rencana pernikahan Bara jelas menjadi berita baik bagi mereka. "Gila! Baru sebentar aja kamu sudah akan menjadi nyonya besar perusahaan ini. Gimana kalo dari dulu ya? Mungkin Pak Bara akan cepat move on kalo ada kamu dari dulu." Emi yang paling bersemangat sejak berita rencana pernikahan Camila dengan bosnya itu meruak sampai di seluruh kantor. "Apa sih? Kalo takdirnya baru dipertemukan hari ini, bagaimana? Masa mau mendahului takdir." Camila menepuk lengan Emi dengan gemas. "Iya sih. Tapi lucu aja ngelihat pak Bara dulu galau banget setelah ditinggal pacarnya. Sampai Anne yang deketin pak Bara pun nggak ngaruh sama sekali. Tapi kamu hebat." Emi mengacungkan jempolnya. "Lebay deh. Ya udah balik yuk. Jam makan siang udah mau habis." "Iya deh. Aku mau bikin kopi juga di pantry. Kamu mau?" tanya Emi ketika mereka berdua berjalan menuju lift untuk kembali ke ruangan mereka setelah selesai makan siang dan mengobrol sejenak di lobby. "Nggak deh. Aku kan nggak suka kopi. Lagipula udah kenyang banget." Camila memegangi perutnya yang memang terasa sangat kenyang setelah menyantap sepiring nasi lengkap dengan ayam geprek dan es teh manis hangat. Setelah kembali ke mejanya lagi, Camila kembali melanjutkan pekerjaannya. Gadis itu semakin cekatan dalam mengerjakan pekerjaannya. Hal itu karena ia memiliki banyak pengalaman dari kantornya dulu. Ia beruntung, karena pekerjaannya dulu membuatnya banyak belajar dan berkembang sehingga ia bisa mencapai posisi ini saat ini. Walau sekarang bosnya sendiri adalah calon suaminya, tapi sebelum mencapai posisi ini, ia sama sekali tidak mengenal Bara. Jadi semua pencapaiannya saat ini adalah hasil kerja kerasnya. Terkadang ketika seseorang menyakitimu dan membuatmu terpuruk, hal yang harus kamu lakukan adalah bangkit dan berusaha lebih keras lagi. Bukan malah meratapi kemalangan yang kamu derita. Bahkan sesuatu yang pernah membuatmu jatuh, justru akan membuatmu bangkit dengan kekuatan baru yang jauh lebih besar. Sehingga kamu bisa membuktikan pada orang yang menyakitimu dulu, jika kamu bisa hidup jauh lebih baik tanpa mereka. "Mil." suara Bara membuat fokus Camila terpecah. Gadis itu menoleh pada pria berjas abu-abu yang kini berdiri di sampingnya. "Iya, Pak?" "Nanti sore saya ada keperluan dengan client. Kamu pulang sendiri dulu, nggak apa-apa, kan?" "Client?" Camila mengerutkan keningnya. Seingatnya hari ini Bara tidak punya jadwal apa-apa lagi dengan client mana pun. Sebagai sekretaris pribadi pria itu, Camila jelas sangat tahu semua jadwal Bara. Apalagi mereka tinggal dalam satu rumah. "Aku tidak perlu ikut?" Ia menunjuk dirinya sendiri. Bara tersenyum kecil dan menggeleng pelan. "Tidak perlu. Client ini memang belum masuk ke dalam jadwal kita. Aku berencana mengajaknya kerja sama karena dia dari produser film. Siapa tahu buku dari penulis kita mau dibuat film layar lebar. Dia meminta rekomendasi novel yang bagus dariku. Ini bukan meeting resmi. Dia hanya senior di kampusku dulu," ucapnya menjelaskan. Camila mengangguk mengerti. "Baiklah. Aku akan pulang sendiri nanti." "Oke. Silahkan kembali bekerja." Bara kemudian berbalik dan masuk kembali ke dalam ruangannya. Meninggalkan Camila dengan segala tanda tanya di dalam benak gadis itu. Saat jam pulang kerja, Camila melihat Bara keluar dari ruangannya jam empat tepat. Pria itu hanya melirik sekilas ke arahnya lalu berjalan menuju lift tanpa mengatakan apapun. Camila hanya menghela nafas sembari membereskan pekerjaannya yang sedikit lagi selesai. Di kantor, Bara memang bersikap agak dingin pada Camila. Apalagi di depan para karyawan lain. Mungkin pria itu hanya berusaha untuk bersikap profesional. Toh Camila juga tidak keberatan. Dibanding ia harus mengumbar hubungannya dengan Bara sampai harus bermesra-mesraan di depan teman-temannya, rasanya sungguh tidak nyaman. Namun sikap dingin Bara barusan sedikit melukainya. Setidaknya dia bisa walau hanya sekedar pamit sebentar, kan? Atau mengatakan sampai bertemu di rumah. "Yuk! Pulang, Mil. Atau mau nongkrong dulu, nggak? Aku sama yang lain mau makan all you can eat nih." Emi sudah berdiri di depan meja Camila sembari menenteng tasnya. "Eh?" Camila tampak berpikir. Dibanding ia jenuh menunggu Bara pulang yang entah kapan, lebih baik ia menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Mungkin saat ia pulang nanti, Bara juga sudah pulang. "Oke deh." "Nah gitu dong! Jangan ngapel sama pak Bara terus. Kalian kan bentar lagi menikah, nanti mah bisa sama-sama terus deh." Emi mengedipkan sebelah matanya. Gadis itu memang tidak tahu jika Camila tinggal satu rumah dengan Bara. Tentu saja karena Emi tidak pernah bertanya atau main ke kos-kosannya. Lagipula jika dia tahu atau teman-teman yang lain tahu, mereka pasti akan semakin berpikiran buruk pada Camila. Akhirnya Camila, Emi dan beberapa teman yang lain pun pergi ke sebuah restoran all you can eat di salah satu pusat perbelanjaan yang menyatu dengan apartemen dan tidak jauh dari kantor mereka. Hanya memakan waktu lima belas menit, mereka sudah berada di wilayah pusat perbelanjaan. Sembari menunggu lapar, mereka berjalan-jalan dan membeli beberapa barang. Camila melirik sebuah g-string berwarna hitam yang terlihat sangat bagus. Pipinya tiba-tiba memanas saat ingat jika Bara bilang dia suka jika dirinya memakai g-string dengan model seperti itu. Kalo soal warna, Bara suka semuanya sepertinya. Ia buru-buru menghampiri teman-temannya yang lain dibanding pikirannya jadi berkelana kemana-mana. Entah kenapa otaknya malah jadi m***m sejak berhubungan dengan Bara. Camila menoleh keluar dari butik dan sekilas pandangannya menangkap sosok Bara yang sedang berjalan di lobby mall. Gadis itu menyipitkan matanya demi memfokuskan pandangannya. Sayangnya pria yang mirip Bara itu sudah berbelok ke sudut lain, membuatnya tidak bisa melihatnya lagi. "Apa dia bertemu clientnya di sini? Atau aku salah lihat?" Tiba-tiba saja perasaan Camila menjadi gelisah, tapi gadis itu segera menghilangkan berbagai pikiran buruk yang melintas di dalam kepalanya. Ini bisa saja menjadi ujian menjelang pernikahannya, ketika ia mulai mencurigai calon suaminya sendiri dan membuatnya ragu untuk melanjutkan pernikahan. Tidak. Ia tidak boleh terus- terusan memikirkan hal buruk. Bukankah semakin dipikirkan, maka kejadian buruk itu malah benar- benar bisa terjadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN