Part 14

1151 Kata
Setelah patah hati karena penolakan Bara untuk ke sekian kalinya juga fakta jika pria itu akan menikah dengan Camila, Anne merasa begitu hancur. Gadis yang berumur dua puluh tiga tahun itu kembali mampir ke sebuah Bar tempat biasa ia menghabiskan malamnya. Anne tidak ingin pulang ke rumah dalam keadaan hancur begini. Ia memesan minuman dan menghabiskannya perlahan, tanpa memperdulikan para pria yang berusaha menggodanya atau suara musik yang sangat bising. "Hei! Lo kenapa?" suara pria yang sangat Anne kenal, menghampiri gadis itu dan memegang bahunya yang terekspos. Ia adalah Gilang. Sahabat yang sudah sangat dekat dengan Anne. Ia juga sering ke bar bersama sahabatnya itu. Sayangnya, hari ini ia kehilangan kontak dengan Anne. Karena Anne sering ke sini, maka ia pun memutuskan untuk kesini. Dan ternyata benar.  Anne yang terlihat kacau hanya menatap sahabatnya sembari tersenyum. Bau alkohol jelas tercium dari nafasnya. "Semua cowok itu b******k, Lang. Lihat aja. Gue akan bikin dia hancur. Lo harus bantuin gue pokoknya. Lo kan sahabat gue. Iya, kan?" Ia menepuk-nepuk pundak Gilang sebelum akhirnya kesadarannya hilang di dalam pelukan sahabatnya. Gilang terdiam sembari menahan tubuh Anne. Ia tahu jika sahabatnya ini menyukai seorang pria, Bara. Walau setahunya pria itu selalu menolaknya. Tapi seingatnya, Anne dan Bara tampak jauh lebih dekat akhir-akhir ini. Ia memang belum sempat berkenalan dengannya karena akhir akhir ini ia sibuk dan hanya ke Bar setelah lewat tengah malam untuk menemani sekaligus mengantar Anne pulang. Bara sepertinya selalu pulang lebih dulu, jadi ia tidak pernah bertemu dengannya. Lalu apa yang Bara lakukan hingga sahabatnya sekacau ini? .................. Anne merasa kepalanya sangat pusing saat ia mencoba membuka matanya. Cahaya matahari yang masuk begitu mengganggu tidur nyenyaknya. Ia tidak terlalu ingat apa yang ia lakukan. Yang ia ingat, Bara baru saja melukainya dengan rencana pernikahannya dengan Camila. Lalu ia ke Bar dan bertemu Gilang seperti biasa. "Bagus ya kamu. Mabuk-mabukan setiap hari. Mau jadi apa kamu?" suara berat itu membuat Anne menoleh ke sumber suara. Ayahnya tengah menatapnya dengan garang sementara ibunya menatap kecewa ke arahnya.  "Kamu kami bebaskan tapi malah semakin liar. Kamu nggak tahu seburuk apa omongan orang-orang di luar sana soal kamu yang selalu pulang pagi bersama sahabatmu itu?" kali ini Mery- ibu Anne angkat bicara. Anne hanya memutar bola matanya dengan malas. Biasanya kedua orangtuanya sudah pergi pagi-pagi begini untuk mengajar di universitas milik mereka. Mereka jarang sekali memberi perhatian pada Anne sehingga menyebabkannya tumbuh menjadi gadis yang haus akan perhatian dan kasih sayang. "Tumben masih di rumah jam segini," ucapnya dengan ketus. "Kamu tuh dibilangin malah ngelunjak." Doni tampak kesal dengan sikap anak perempuannya itu. "Katanya mau menikah sama Bara tapi kamu malah liar begini. Orang juga mikir kalo mencari wanita untuk dijadikan istri." Pria tua itu ingat bagaimana Anne dengan semangat bercerita jika dia dan cucu dari perusahaan penerbit tempatnya menulis sedang dekat dengannya. Anne merasa moodnya semakin jelek saat mendengar nama Bara disebut. "Aku mau ayah tarik saham kita dari perusahaan Bara! Titik." "Heh! Apa maksudmu hah? Memangnya ada masalah apa?" Doni benar-benar kehabisan kesabaran. "Dia mengkhianatiku. Dia akan menikah dengan wanita lain yang tidak sebanding denganku. Aku mau kalian membuat perusahaannya bangkrut. Tarik saja saham kita. Bisa apa mereka tanpa saham kita?" Anne terlihat berapi-api mengatakannya. "Kita? Itu saham ayah dan ibumu. Bukan sahammu!" Ucapan Doni membuat Anne tersentak kaget. Ia pikir orangtuanya akan kembali menuruti permintaannya. Bukan malah balik membentaknya seperti ini. "Kalian senang jika anak kalian dikhianati pria?" Ia menaikkan nada suaranya. Doni menghela nafas panjang. "Kami tidak suka jika kamu terluka tapi sifatmu yang kekanakan jelas tidak akan bisa menarik perhatian Bara. Biarkan dia menikah dengan wanita pilihannya dan jangan sesekali membicarakan soal saham yang sudah kami taruh di perusahaan itu! Tugasmu hanyalah bekerja dan menjadi perempuan baik-baik. Ingat itu!" "Kalian tidak sayang padaku." Anne malah terisak di tempatnya. Namun Doni dan Mery sama sekali tidak tersentuh meski Anne menangis sekeras apapun. Mereka sadar jika mereka terlalu memanjakan anak mereka sehingga Anne tumbuh menjadi gadis egois yang ingin semua keinginannya harus terpenuhi.  Tidak lagi. Mereka sudah lelah menuruti semua keinginan Anne. Mereka ingin Anne tumbuh menjadi gadis dewasa dan bisa memperbaiki dirinya. Mereka juga tidak menyalahkan Bara yang tidak pernah bisa menerima anak gadis mereka karena Doni dan Mery sadar jika pria seperti Bara yang dewasa pasti punya kriteria tersendiri untuk calon istrinya. Jelas bukan yang manja dan kekanakan seperti Anne. "Sial! Kalo begini, aku harus memikirkan cara lain untuk menghancurkan mereka!" ............ "Anne sudah resmi membatalkan kontrak secara sepihak dengan penerbitan kita. Dia berani bayar puluhan juta untuk pinaltinya." Emi memulai pembicaraan mereka saat sedang di cafe kantor. Ia sudah memesan vanilla latte sementara Camila hanya memesan Green tea karena dia tidak bisa minum kopi. Camila tidak kaget lagi mendengar berita itu. Ia sudah dengar lebih dulu dari Bara. Tapi ia tidak menyangka jika Anne akan membatalkan kontraknya secepat itu. Ia pikir Anne tidak akan mudah menyerah. Sejak seminggu setelah pertengkaran hebat antara Bara dan Anne di depan para karyawan di lantai lima, Anne seperti hilang ditelan bumi.  Tadinya Camila pikir jika Anne akan terus mengganggunya atau pun Bara. Sepertinya Anne bukan tipe gadis yang akan terima begitu saja dengan hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Jadi, menghilangnya Anne sampai semua sosial medianya ditutup pun, membuat Camila justru semakin khawatir. Jika ketenangan Anne nantinya hanya akan demi mempersiapkan ombak yang jauh lebih besar lagi hingga menghancurkan apapun yang dilewatinya. "Kamu benar akan menikah dengan pak Bara?" tanya Emi yang mendengar kabar burung dari beberapa karyawan. Entah darimana berita itu menyebar awalnya. Namun katanya ada yang mendengar pembicaraan Bara dan Anne di cafe ini dan Bara jelas mengatakan jika dia akan menikahi Camila.  Camila menghela nafas. Tidak tahu harus menjawab apa. Kuku-kuku lentiknya diketuk-ketukkan ke cangkir tehnya. "Semua terlalu mendadak, sampai membuat aku bingung untuk menjawabnya." Emi tampak terkejut. Jadi berita simpang siur itu benar. "Wah!" Emi malah bertepuk tangan dengan wajah seolah menunjukkan rasa bangga terhadap partner barunya itu. "Kamu tahu? Selama ini Bara tidak pernah dekat dengan wanita mana pun sejak pernikahannya batal. Kamu wanita pertama yang akhirnya membuat pria dingin itu membuka hati lagi, bahkan sampai mau menikahimu. Hebat!" Wajah Camila memanas seketika. Jadi berita soal kegagalan pernikahan yang Bara alami pun sudah tersebar di perusahaan ini. Lantas bagaimana cara Bara menghadapi setiap pembicaraan tentangnya? Sekuat apa pria itu? Walau pasti orang-orang akan membicarakan di belakangnya, tetap saja pembicaraan itu pasti akan bisa dia dengar.  Camila mendadak prihatin dengan apa yang Bara alami. Jika ia menjadi Bara, mungkin ia akan pindah dibanding menjadi bahan omongan orang-orang di kantor. Ya, seperti yang ia lakukan tempo hari ketika berita soal pernikahannya yang batal dan digantikan wanita lain menyebar di kantor. Tentu saja mereka tidak membicarakannya secara langsung di depannya, akan tetapi tatapan-tatapan iba itu jelas mereka tunjukan, seakan ia adalah wanita paling menyedihkan di dunia ini. Mereka tidak tahu saja, batalnya sebuah pernikahan karena sebuah pengkhianatan yang terbongkar bukanlah hal buruk dan patut dikasihani. Justru Camila seharusnya bersyukur saat mengetahui semuanya sebelum ia dan Fahri menjadi suami istri. Jika ia mengetahuinya setelah menikah dengan Fahri, lalu pernikahannya berantakan, justru itu akan menjadi aib yang lebih buruk lagi bagi ia dan keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN