Part 30

1044 Kata
Setelah pesta pernikahannya selesai, Bara dan Camila hanya beristirahat di hotel yang tidak jauh dari tempat Camila tinggal. Mereka memang belum berencana untuk bulan madu karena kesibukan mereka ditambah mereka sudah mengambil banyak jatah cuti untuk persiapan pernikahan ini. Belum lagi resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan di Jakarta bersama rekan-rekan kerja mereka.  "Lelah sekali ya tiga hari ini," ucap Camila sembari merebahkan dirinya di atas ranjang yang terasa begitu empuk dan nyaman. Ia sudah membersihkan dirinya di rumah sebelum berangkat ke hotel karena banyak sekali aksesoris yang harus ia lepaskan dan tidak mungkin bisa ia lakukan sendiri. "Iya. Aku juga lelah sekali. Tidak kusangka pernikahannya akan serumit itu." Bara berbaring di samping Camila dan memiringkan tubuhnya mengarah pada istrinya itu. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap helaian rambut yang menempel di pipi Camila. Hanya sekecil perlakuan dari Bara, cukup membuat wajah Camila memerah. Padahal seharusnya ia sudah terbiasa dengan Bara apalagi saat tidur berdua seperti ini. Namun rasanya berbeda ketika ia sadar dengan statusnya kini yang telah menjadi seorang istri. Camila juga sedikit merasa lega setelah pernikahannya tidak mengalami kegagalan untuk yang kedua kalinya. Beberapa tetangganya yang sempat membicarakannya bahkan seketika terdiam setelah tahu siapa mempelai pria yang mendampinginya. Jelas sangat jauh lebih baik dari mantan kekasihnya. Bahkan mantan kekasih Camila dan istrinya pun sempat datang meski hanya sebentar. Terlihat sekali istri dari mantannya itu sedang hamil besar. Seperti berita yang telah beredar beberapa bulan yang lalu jika wanita itu dihamili oleh mantannya.  Sungguh b******k. "Tapi aku mau mandi lagi. Badanku rasanya lengket sekali." Bara tampak membuka kemeja yang ia kenakan dan meletakkannya di rak gantung pakaian yang terdapat di dalam kamar hotel itu. "Kamu mau ikut?" tanyanya dengan tatapan mata yang dapat Camila artikan. Seketika wajah gadis itu memerah. Padahal ini bukanlah malam pertama yang sebenarnya, melainkan malam ke sekian untuk mereka berdua. Hanya saja jantungnya berdegup begitu cepat saat ini. Seakan ini pertama kali untuknya. Camila menelan ludahnya ketika Bara semakin mendekat ke tubuhnya. "Mau, kan? Ini akan menjadi mandi bersama pertama kita setelah menjadi suami istri yang sah." Bara mengedipkan sebelah matanya ke arah Camila, membuat gadis itu semakin tersipu malu. Camila hanya menganggukkan kepalanya lalu Bara langsung melumat bibir gadis yang baru menjadi istrinya itu dengan ganas sembari membawa gadis itu dalam gendongannya. Tubuh Bara yang jauh lebih besar dari tubuh Camila dengan mudah mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke kamar mandi tanpa melepaskan ciuman panas mereka. Begitu masuk ke dalam kamar mandi, Bara melepaskan pakaian yang Camila kenakan dengan cepat dan mendudukkan gadis itu di wastafel. Tubuh Camila yang terekspos sempurna pun membuat sesuatu di bawah sana menegang. Walau ini bukan yang pertama, tapi rasa untuk menjamah setiap inchi kulit Camila selalu membuat Bara bergetar. Pria itu langsung meremas kedua gundukan milik istrinya dengan tetap melumat bibirnya. Nafas mereka memburu. Mereka terus b******u menikmati malam pertama mereka sebagai pengantin baru. ........... "Jadi, kamu menikmati malam pertamamu?" tanya Rene ketika ia sedang menemui Bara di sebuah cafe yang berada di pusat kota Malang. Cukup jauh dari lokasi hotel tempat Bara dan Camila menginap. Tentu saja Bara berbohong pada Camila. Ia mengatakan akan menemui temannya yang kebetulan berada di Malang, selagi itu adalah hari terakhir mereka di sana sebelum kembali ke aktifitas mereka seperti biasa. "Biasa saja." Pria itu mengaduk-aduk secangkir kopi dengan asap yang mengepul di depannya. Rene hanya tersenyum tipis. Ia tahu Bara berbohong. Tentu saja pria itu menikmatinya. Dari sini ia bisa melihat tanda-tanda merah di sekitar leher pria itu, meski Bara sudah mengenakan sweeter tapi tanda kissmark itu masih dapat terlihat. Jelas itu bukan kissmark darinya karena mereka baru bertemu lagi hari ini. Tepatnya setelah Bara sibuk dengan segala adat dalam pesta pernikahannya. Wanita itu mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Bara dengan erat. "Lebih enak main denganku atau dengan istrimu?" Bara membulatkan matanya sekilas. Lalu berusaha mengendalikan dirinya lagi. Bibirnya mengulas senyum tipis. Ia membalas genggaman tangan dari Rene. "Tentu saja denganmu, sayang. Kamu jauh lebih ganas di atas ranjang." Ia mengedipkan sebelah matanya. Rene tersenyum lebih lebar kali ini. "Tentu saja. Jadi, bagaimana kalo hari ini kita menginap? Toh kamu akan kembali besok siang. Bagaimana?" "Tapi aku bilang ke Camila jika aku akan pulang malam ini." Rene memutar bola matanya dengan malas. "Jadi sekarang kamu lebih mementingkan istrimu dibanding kekasihmu?" "Apa suamimu tidak mencarimu?" Bara malah mengalihkan pembicaraan. "Sudah kubilang, dia tidak peduli lagi denganku." Rene membuang wajahnya, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Lalu ia balik menatap Bara lagi. "Makanya aku kesepian. Aku butuh kamu." Ia mengulurkan tangannya yang lain ke bawah dan mengusap paha Bara dengan lembut. Ia pun sengaja membuka sweeternya yang memperlihatkan baju yang begitu terbuka dibaliknya. Bara menelan ludahnya sendiri. Sebenarnya ia sudah lelah untuk bercinta lagi karena dua hari kemarin ia benar-benar habiskan waktunya bersama Camila di kamar hotel. Bahkan Camila sekarang sedang kelelahan dan hanya bisa berdiam di kamar hotel sendirian. Namun apa yang terpampang di depannya tidak bisa ia tolak. "Baiklah. Mari kita menginap bersama," ucapnya yang membuat wanita di depannya tersenyum lebar. Sangat mudah. Dari dulu menaklukanmu itu sangat mudah, Bara. Rene membatin. Tak jauh dari tempat Rene dan Bara, Gilang tengah memperhatikan gerak gerik dan mendengarkan pembicaraan di antara mereka berdua. Andai ia punya sedikit kuasa saja untuk menggagalkan pernikahan Bara dan Camila, pasti sudah ia lakukan. Sayangnya ia bukan siapa-siapa dan hanya suruhan Anne. Ia belum bisa melindungi Camila seperti yang ia inginkan. Bahkan Camila tidak mengenal dirinya yang membuat Gilang semakin tidak berdaya. "Dasar pria b******k. Kau hanya pria rakus yang menginginkan banyak wanita." Gilang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. ............. Camila menatap ke luar jendela yang memperlihatkan pemandangan kebun teh yang sangat luas. Cuaca di sekitarnya sangat cerah, meski begitu suhu di sini masih terasa dingin. Wanita itu memeluk dirinya sendiri. Rasanya bagian bawah tubuhnya masih terasa sakit dan perih akibat permainan bersama Bara dua hari kemarin. Mereka benar-benar menikmati masa-masa pengantin baru mereka meski hal itu bukan yang pertama bagi mereka. "Kemana Mas Bara? Kenapa jam segini belum pulang? Apa dia sedang senang-senang dengan temannya?" Camila menatap ponsel di tangannya yang tidak terdapat satupun notif dari suaminya. Ponsel itu tampak membisu di tangannya. "Mungkin dia akan pulang besok. Toh kami akan ke Jakarta bersama." Ia berusaha positif thinking dan tidak mau terlalu mengekang apalagi mengganggu kesenangan suaminya yang sedang bersama teman-temannya. Ia ingin membuat Bara nyaman bersamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN