Langit sudah malam, para tamu undangan juga telah hadir memeriahkan acara yang di selenggarakan oleh kaisar. Namun kini seorang pria berjubah putih yang terlihat sangat memancarkan aura elegan, berkarisma, dan juga dingin di sekitarnya itu, masih menatap tajam para tamu / hadirin yang datang.
Kemana gadis itu? Pikirnya.
Menelisik seluruh kerumunan para gadis yang saat ini sedang menatapnya, tetapi tak ada sekalipun ia melihat sosok gadis yang ia nanti-nanti untuk mengagumi dirinya seperti yang di lakukan para gadis di depannya saat ini.
"Sedang apa kau disini?" Tanya ayahnya yang tiba-tiba mengagetkannya dari belakang.
Mike, pria itu menoleh sejenak, lalu memalingkan pandangannya, tak menghiraukan ayahnya yang bertanya padanya.
Ini adegan tidak mendidik ya gais mohon jangan ditiru.
Ayahnya menghembuskan nafasnya kesal, lelah dengan sifat anaknya yang jauh lebih dingin darinya, "Apa kau sedang menunggu gadis itu?" Tanya ayahanya lagi yang sama sekali tidak mendapat respon dari Mike.
Kembali, ayahnya memutar bola matanya malas, dengan segelas minuman di tangannya, kaisar itu berucap, "Terus saja kau cari gadis itu, dia tak akan datang," Ujar ayahnya sembari menyiup minuman di gelas yang ia bawa, "Jelas-jelas gadis itu membiarkan surat undangannya diberi pada orang lain," Jeda ayahnya, yang kali ini memandang punggung anaknya, "Sudahlah nak, kau sudah di tolak, tak ada harap lagi untuk kau mendekatinya," Lanjut ayahnya yang kali ini menepuk pundak anaknya prihatin.
Mike, dirinya masih terdiam tak merespon ucapan ayahnya, membuat ayahnya yang merasa terkacangi menggeplak kepala anaknya, "Sudah tak ada gunanya kau merenung, sana kau pilih saja para gadis dari berbagai kerajaan yang ku undang itu, tak ada gunanya kau menanti orang yang tak mau denganmu, heh aku kasihan padamu." Setelah mengatakan hal itu, Ayahnya dengan santainya pergi meninggalkan Mike yang termenung sendirian.
Dirinya mengusap bekas geplakan yang memang tak terasa terlalu sakit di kepalanya, sembari merenung.
Ditolak? Tak ada harapan? Heh kata apa itu? Dirinya sama sekali tak pernah di tolak oleh seorang gadis dan sampaikapanpun tak akan. "Lihat saja, akan ku bakar rumahmu nanti." Ujar Mike menatap nanar tamu undangan.
****
"Lalu apa tak apa bila yang datang itu bukan kau?" Tanya Cesario melihat adiknya yang kini sibuk memakan kacang.
Queen mengedikkan bahunya acuh, saat ini mereka masih berada di ruang tengah, ditemani oleh semangkuk buah berry dan juga kacang. Jujur, Queen tak peduli mau boleh atau tidaknya bila kedatangannya di wakilkan, dia sedang malas mencari masalah untuk saat ini pren.
Austin ikut mengambil kacang yang ada di mangkuk, "Memang apa pentingnya itu? Lagi pangeran itu kesini karena paksaan orang tuanya yang ingin menjodohkannya bukan? Jadi logikanya dia sama sekali tidak mau dengan mu," Tunjun Austin ke Queen, "Untung kau menolak mau menikah dengannya, kalo sampai kau mau, habis sudah masa depan pangeran itu." Lanjut Austin yang kini mulai memakan kacangnya yang tadi ia kupas.
Queen mentap kesal kakanya dengan mata tajam, "Maksud kau apa hah?" Tanyanya tak nyelow.
"Kenapa masa depan orang itu akan habis bila bersama ku? Memangnya aku kurang apa? Cantik woah jelas aku cant--"
"Kau kurang di sifat!" Potong Austin cepat, "Mana ada gadis seperti dirimu bertingkah blak-blakan, tak tau sopan-santun, dan bukannya dulu kau sangat menjunjung tinggi sopan santun? Kenapa baru kepalamu yang di bentur langsung berubah semua sifatmu?" Celetuk Austin panjang lebar.
Cesario meneguk ludahnya, kenapa kedua manusia ini selalu bertengkan epribadi.
Brak.
"LALU KENAPA? KAU TAK SUKA HAH?" Tanya Queen menggebrak meja sembari berdiri.
"IYA AKU TAK SUKA KENAPA?" Jawab Austin yang kembali ikut berdiri.
"KENAPA KAU SELALU MENCARI MASALAH DENGAN KUUUU," Teriakkun frustasi.
"Aku tak pernah mencari masalah denganmu, kau saja yang terlalu terbawa perasaan!" Jawab Austin santai.
Sedangkan Queen, kupingnya sudah panas sedari tadi mendengan ejekan Alyca dan sekarang dirinya malah di ejek oleh kakanya, langsung saja ia jambak rambut Austin kesal.
"APA YANG KAU LAKUKAN BABI!" Teriak Austin pada Queen yang menjambak rambutnya, "HENTIKAN RAMBUT HALUSKU TERNODAI KARENAMU!" Lanjutnya yang masih tak di hiraukan sodarinya.
Suasana semakin ricuh dan Cesario hanya bisa menyikan dan mojok di pojokan, tolong dong, dirinya hanya ingin menikmati waktu dengan keadaan damai untuk semalam saja, walau biasanya dia ikut juga dalam perkelahian ini, tapi lama-lama cape juga gais.. "Kurasa aku harus membentur kepala dua orang ini agar pikirannya terbuka," Ujar Cesario menghembuskan nafasnya.
Yah begitulah malam yang penuh akan percekcokan.
****
Alyca, gadis itu bak anak hilang saat ini. Bagaimana tidak? Dirinya sama sekali tidak tahu-menahu mengapa dirinya di usir dari pesta. Ya dirinya di usir!
"Apa yang para penjaga itu lakukan? Apa mereka tak melihat putri monely ini ingin masuk ke dalam pesta?" Tanyanya pada diri sendiri.
Dirinya menghentakkan kakinya kesal. Mari kita jelaskan kronologinya mengapa dirinya bisa terusir.
Flash back on.
Alyca turun dari kereta kudang yang di tumpanginya dengan anggun, senyumnya merekah kala melihat istana yang ahh besar sekali, langsung saja ia berjalan masuk ke dalam dengan tampang songong andalannya.
Sampai di sana dirinya di hentikan oleh pengawal istana.
"Bisa berikan surat undanganmu nona?" Tanya penjaga itu yang diangguki malas olehnya.
Alyca menyodorkan suratnya ke arah pengawal itu, yang langsung mendapat tatapan terkejut dari keduanya.
"Maaf nona telah lancang, silakan masuk," Ujar pengawal itu yang langsung berlagak sopan dalam seketika.
Alyca tentu senang, di pikirnya pangeran sengaja meminta dirinya di perlakukan spesial di pesta ini, ah dirinya sudah gede rasa bahwa ia akan menikah dengan pangeran ini.
Namun baru saja sampai di altar, dirinya kembali di hadang oleh para pengawal tadi, "Maaf nona ternyata kami salah orang, silkan pergi." Titah pengawal itu seketika yang langsung menyeret dirinya keluar dari sana.
Flash back off.
"Kenapa bisa jadi seperti ini?!" Tanya Alyca mengacak rambutnya kesal, dirinya benar-benar tak habis thingking dengan jalan pikiran kedua pengawal itu, "Apa mereka tidak tahu bahawa aku adalah calon permaisuri masa depan disini?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Kembali di hentak-hentakkan kakinya kesal, "Sekarang bagaimana aku bisa kembali ketempat itu?"
Ya.. tadi dengan sombongnya Alyca mengusir orang yang mengantarnya, dengan embel-embel bahwa ia pasti akan di tawari menginap disini. Tapi lihat sekarang! Dirinya malah di usir dari istana, masuk saja belum! Jangankan masuk nyicipin makanannya aja belum! Aish sunggung terlalu.
"Bagaimana ini???" Tanyanya yang berjongkok dan menangis meratapi nasib.
Ya dirinya memang di perlakukan istimewa kala menyerahkan surat undahang tadi, namun sayangnya ia lupa bahwa surat itu di peruntukkan untuk Queen, pantas saja dirinya di usir saar ini. Mengsedih.