Duality II

1692 Kata
“Putri... Dewa... ngapain kalian-“ Nakula yang baru saja membuka pintu rumahnya langsung kaget melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini. Ia lantas langsung saja berlari ke arah istrinya yang baru saja di dudukan oleh Dewa yang sebelumnya telah memangku tubuh Putri itu. “Putri kenapa?” “Jatoh... istri lo nakal sih, nyusahin tau gak” Putri langsung menyirit, padahal jelas-jelas sebelumnya Dewa yang memaksa ingin menggendongnya. “Sayang, sakit kakinya? Kok bisa jatoh sih? Kenapa Ehm?” Rama langsung memeriksa pergelangan kaki istrinya yang tampak lebih bengkak salah satunya itu. “Bisa lah orang istri lo itu nakal, lari-larian tadi, untung ada gue...” “Oh my God... manipulative banget sih ya ampun, Mas tadi tuh Dewa mau kejar aku, tapi-“ “Lo mau jatoh dan gue tolongin... benerkan?” Putri sampai tak bisa di buat berkata-kata lagi, karenan part yang di ceritakan Dewa itu benar adanya. Tapi entah kenapa ia di buat kesal sekali pada Dewa yang sedari tadi sudah mengatainya nakal itu. “Sayang... jangan lari-lari, kamu ini...” “Ahh... kenapa jadi aku yang salah sih...” Putri yang jadi merasa tersudutkan sampai ia bergerutu demikian. “Lo juga, selametin tuh yang bener... kenapa Putri sampe ke kilir gini coba...” Nakula juga tak luput menyalahkan saudara kembarnya itu. “Dih, dia sampe kaya gitu karena nungguin Lo yang gak pulang-pulang tau” Nakula jadi menatap istrinya mencari kebenaran atas ucapan Dewa baru saja itu. “Bener? Kamu tungguin Mas di luar tadi?” “Ehm, gitu deh Mas...” Balas Putri sambil menunduk. “Tuh kan, makanya jangan di tingalin mulu tu istri Lo, jadi gabut, lari-larian deh, jadi jatoh kan...” Dewa terus saja melontarkan kalimat-kalimat yang tak meng-enakan pada sepasang suami istri yang tengah duduk berhadapan itu. “Sayang, Mas kan udah bilang sama kamu hari ini Mas ada simulasi pengobatan terapi baru...” Putri baru ingat dan benar-benar melupakan soal yang satu itu, padahal sebelumnya Nakula sudah memberitahunya dan tak mungkin baginya untuk memegang handphonenya selama simulasi itu berlangsung. “Ah iya Mas, aku lupa...” Ucapnya sambil menatap suaminya dengan raut bersalahnya. “Huuuh dasar...” Dewa lagi-lagi memanaskan keadaan saat ini, sampai sampai Putri jadi mendelik padanya, sudah terlampau kesal dengan semua perkataannya itu. “Dewa lama-lama aku tendang kamu loh” “Tchh, emang bisa?? itu kekilir... Na, kompresin tuh kakinya, terus pakein-“ “Iyaaa... Lo lupa ya kalo gue ini dokter...” Balas Nakula, ia pun sepertinya tengah sama kesalnya sampai memotong ucapan kembarannya seperti itu. “Bagus deh kalo gitu... gue balik dulu, bye...” Ucapnya sambil langsung pergi begitu saja meinggalkan Putri dan Nakula, menyisakan dua raut wajah yang di buat keheranan dengan sikap Dewa yang seolah seenaknya itu. “Mas... Dewa kenapa sih... kok aku bingung ya sama sikapnya, kadang baik, kadang nyebelin juga gitu...” Tanya Putri yang sampai terheran-heran pada saudara kembar suaminya itu. “Apa dia punya kepribadian ganda ya?” Terkanya dan itu berhasil membuat Nakula sampai tertawa lepas karenanya “Sayang masa iya kembaran Mas itu kena personality disorder sih, ada-ada aja kamu...” “Ya abisnya... dia-nya kaya gitu, bikin bingung, sebentar kaya orang baik, eh sebentar lagi kaya orang jahat banget yang gak punya hati...” “Istilah yang lebih tepat buat Dewa itu kayanya duality, atau emang dia orangnya moody gitu sih...” *(Duality, mempunyai dua arti sisi atau konsep yang saling bertolak belakang) Jelas Nakula pada istrinya yang tak pernah absen ribut dengan saudara kembarnya itu. “Ya mungkin kamu harus pertimbangin sifatnya yang jadi kaya gitu, akibat nyeri neuropatik atau efek samping dari cederanya itu yang pasti kasih dampak yang besar banget buat keseluruhan hidup penderitanya, mulai dari nyerinya terus juga sifatnya gak kenal lelah itu, atau continue... banyak dari penderita SPI atau cedera saraf tulang belakang itu mengalami perubahan kepribadian sampai ke psikologisnya sayang...” Tambah Nakula panjang pada istrinya itu. “Psikologis? Kejiawaannya? itu... itu berarti Dewa juga...” “Dewa memang jalanin pendampingan psikologis, dia bener-bener sempet berada di titik terendah hidupnya waktu itu, saking putus asanya sama nyeri yang terus ada tanpa henti itu, dia sampe berpikir mungkin nyeri itu akan hilang kalau nyawanya melayang... dia sempet mau akhirin hidupnya waktu itu...” Putri terdiam mendengar cerita kelam yang di alami Dewa dari suaminya itu. “Sampe separah itu?” “Iya... apalagi waktu dia punya pacar yang dia sayang banget sampe dia mau-“ “Mau? Mau apa?” Putri bertanya demikian, jadi sangat penasaran dengan perkataan Nakula yang menggantung itu. “Ehmm... gak baik ah gosipin dia...” “Iiih Mas aku udah terlanjur penasaran, Dewa mau apa?” Putri sampai gereget sekali kini pada suaminya yang hanya setengah bercerita dan malah mengakhiri pada bagian pentingnya itu. “Kamu ini, nanti telinga dosen kamu itu panas kamu gosipin kaya sekarang ini sayang...” “Udah nanggung, ayo kasih tau ajaaa... Dewa udah punya pacar? Terus dia sampe mau apa?” Putri sepertinya sudah penasaran hingga keubun-ubunnya sekarang ini, ia bahkan mendekatkan dirinya pada Dewa, duduk tegap ingin mendengarkan cerita lengkap dari orang yang selalu ribut dengannya itu. “Hhh, Mas nyesel deh jadinya...” “Ayo Mas, kenapa? Nanti aku gak bisa tidur loh mikirin ini” Ucap Putri pada suaminya itu. “Kamu tau SPI-nya Dewa itu paraplegia?” *(Paraplegia adalah kategori kelumpuhan yang mempengaruhi anggota gerak bawah dan organ panggul) Putri mengangguk, ia jelas tahu karena ia pun mengambil fakultas kedokteran, sudah jadi makanannya soal seputar kesehatan itu. “Kamu tau dampaknya apa?” Tanya Nakula kembali “Ehmmm... gangguan keseimbangan tubuh, kelumpuhan, mati rasa, kesulitan bernapas, kehilangan kendali terhadap proses tubuh yang berkaitan dengan usus dan kandung kemih kaya sulit menahan buang air kecil atau buang air besar...” “Tunggu, apa karena itu... apa jangan-jangan pacarnya putusin Dewa yang harus alamin semua itu waktu itu??? Karena dia gak mau punya pacar yang cacat?? Dewa... dia ditinggalin pacarnya ya?” Putri jadi menebak-nebak apa yang telah terjadi pada Dawa dan kekasih masa lalunya itu. “Engga sayang, justru Dewa yang mundur... Dewa yang pilih buat gak mau nyusahin perempuan yang dia sayang banget waktu itu...” “Dan lagi, selain dari semua yang kamu sebutin itu... penderita cedera sumsum tulang belakang paraplegia itu, kemungkinan besar mengalami perubahan dalam aktifitas seksual, fungsi seksual, gak bisa ereksi, sampai... fertilitas atau tidak bisa memberikan keturunan...” Putri terperanga, ia melupakan soal yang satu itu. “Jadi... Dewa- dia...“ Ia sampai kehilangan kata-katanya saat ini. Kepalanya stuck, ia tak bisa membayangkan betapa sulitnya menjadi seorang Dewa, memikirkan kerusakan yang terjadi menyebabkan dampak sakit yang continue dan pasti sangat menyiksa saja sudah amat berat baginya, di tambah lagi ia juga sampai harus melepas cintanya karena cederanya itu. “Apa Dewa sembunyiin semua sakitnya itu sama semua sikap dingin, galak terus nyebelinnya itu Mas?” Terka Putri, ia sedikitnya ingin mencoba memahami Dewa yang ternyata memiliki sisi menyakitkan dari hidupnya itu. “Ehmm bisa jadi... Karena kadang katanya beberapa orang bisa mengekspresikan perasaannya itu dengan cara yang beda-beda...” “Hhhh...” Mendadak Putri jadi mellow memikirkan kembaran suaminya itu. “Aww... sakit Mas...” “Abisnya kok malah jadi ngelamun gitu sih...” Nakula jahil menekan pergelangan Putri yang terkilir itu, untuk mengaburkan lamunan istrinya. “Mas....” “Ehm?” “Obatin...” “Iya Mas ambil dulu kantung kompresan sama perban biar kaki kamunya gak bengkak” “Iya Mas...” Nakula langsung berjalan mengambil semua hal yang di butuhkanya untuk meringankan rasa nyeri di kaki Putri karena keseleonya itu. Dan tak butuh waktu lama baginya untuk kembali dengan semua ‘alat-alat perangnya’ itu. “Sini Mas pinjem kakinya” Nakula mengambil kaki istrinya dan menaruhnya di atas pahanya, ia lantas meletakan kompresan yang berisikan es di dalamnya guna untuk mengurangi rasa sakit, pembengkakan, dan peradangan pada otot yang cedera. “Mas... inget pertemuan kita pertama dulu gak?” “Ehm? O-oh itu... kenapa emangnya sayang?” “Mas juga obatin aku kaya gini... waktu itu aku hampir mau jatoh juga tapi Mas yang selamatin, kaki aku jadi kekilir, terus gak bisa jalan deh, sampe akhirnya Mas gendong aku...” Putri jadi bernostalgia soal pertemuannya dengan Nakula saat itu. “Ehmm... tentu Mas inget sayang...” “Hari itu heels aku rusak lagi, terus Mas malah kasih sepatu yang lagi Mas pake ke aku...” “Ehm? Mas? Mas kasih sepatu Mas buat kamu pake?” Tanya Nakula dengan wajah bingungnya saat ini. “Iyaa... masa Mas gak inget sih? Mas jadi telanjang kaki lagi waktu itu... kebetulan hari itu aku lagi ada acara seminar di kampus, makanya Mas langsung lepas sepatu Mas dan pakein itu buat aku...” Ingat Putri pada suaminya soal tahun-tahun pertemuan pertama mereka. “Ah, iya-iyaa... Mas inget, tapi... terus Mas pulang gimana waktu itu?” Nakula malah membalas dengan bertanya begitu, jelas ketahuan sekali kalau ia tak mengingat pertemuan dengan Putri hari itu, sampai Putri jadi mengerutkan dahinya sambil menatap Nakula tajam saat ini. “Iiiihhh... masa Mas gak inget sih, kan waktu itu gendong aku dari gedung kampus depan sampe auditorium, terus Mas pakein sepatu Mas buat aku, abis itu Mas jalan ke parkiran kampus langsung masuk mobil, harus pergi soalnya Mas masih ada jadwal di rumah sakit...” Putri bercerita dengan nadanya yang seperti kesal, karena suaminya yang malah melupakan momen bersejarah saat bersamanya itu. “Waah, Mas kuat juga ya waktu itu gendong kamu sampe auditorium...” Balas Nakula, “Kayanya dulu badan kamunya kecil sih...” “Lah emang sekarang badan aku gimana? Besar?” “Ehmm, besarin...” “Iiiih Mas!!!” “Iya ukuran kamu itu sekarang besarin... apalagi itunya...” Goda Nakula pada Putri, sambil menunjuk bagian terbaik dan menjadi favorit dirinya itu. “Mas ihhh...” Ucap Putri sambil tersipu karena ulah suaminya itu. "Sayang, bentar Mas ketemu Dewa dulu, mau ambil kunci mobil... lama-lama di pinjemin takut kena hak milik" Ucap Nakula pada Putri "Ehmm yaudah..." "Kamu duduk di sini dulu, nanti ke kamarnya biar Mas gendong ya" . . . "Dewa gue mau-" Plippp *(suara layar televisi di matikan) "A-apa?" "Kok... Lo nonton porn sih? emang bisa- itu..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN