Roro sampai kamar secepat kilat, malahan mengalahkan cepatnya pesawat zet. Dia tidak membutuhkan waktu sampai satu detik sudah busa merebahkan tubuh dengan cukup kasar sebab hatinya terasa bergemuruh marah. Hatinya tengah marah, sampai menginginkan melahap atau memecahkan batu supaya semua yang dia rasakan hilang tidak berbekas. Namun apa daya, semua itu tidak mungkin Roro lakukan karena pasti akan menjadi tanda tanya bagi semua orang, apalagi patih Tarata, dia pasti akan bertanya mengapa Roro melakukan kekacauan itu. Roro menarik alis ketika ingatannya tertuju pada Patih Tara yang tengah kawin dengan wanita lain, uh ... itu sangat membuat hatinya marah dan kecewa. “Ya ampuuun! Haruskah aku bertanya pada pelayan ke mana dia pergi? Dan aku cari tahu sendiri?” Roro tersenyum dan menget

