44

1280 Kata

Roro terdiam setelah sang bunda dan ayahandanya pergi, dia masih tidak percaya dengan apa yang mereka katakan barusan. Matanya kembali menatap sanga Patih yang terbaring dengan mata anteng masih tertutup walaupun sudah lebih dari satu atau dua minggu, membuat Roro makin kesal apalagi sekarang sudah menguasai tempat tidurnya. “Hey orang yang mengesalkan! apakah kamu tidak kesal, tidur dan menutup mata seperti itu! Cepat banguuun, dan jelaskan kenapa kamu itu bisa jadi pasanganku? Kalau memang benar, cepat bangun! Aku ingin tahu!” Roro menunjuk-nunjuk pada muka sang Patih yang terlihat mulai bersih. “Pantas saja, Nenek begitu ngotot memintaku untuk menidurkan dirimu di kasurku, ternyata seperti itu. Tapi bagaimana mungkin, kau yang selama ini tidak melakukan apa pun saat ini bisa menjadi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN