Roro tengah membaca gulungan kertas yang waktu pertemuan di berikan Menteri keuangan padanya. Alisnya kadang tergambar naik, turun, mengernyit, sampai menyatu satu dan yang lainnya. Bibirnya kadang maju, meringis, di gigit, naik karena tersenyum, sedih karena kesal, dan masih banyak lagi. Membuat orang yang ada aga jauh dari tempatnya tersenyum simpul melihat kejadian langka ini. Nafasnya pun sama, kadang tersenggak-sengal, keluar dengan satu kali embusan, kadang juga sampai berhenti bernapas. Sampai dia merasakan sesak, barulah Roro sadar kalau dia tengah menahan nafas. Entah karena saking khusuknya membaca gulungan kertas atau karena dia merasa lelah. “Ya Tuhaaan! Aku memang tidak tahu masalah keuangan, tapi kenapa catatan ini begitu kacau! Bagaimana aku bisa mengerti dengan jelas!” Ro

