"Tapi kamu harusnya bisa bicara padaku kan? Ya sekalipun kita bercerai karena bagaimana pun, Rafa itu anakku." Rheina menarik nafas dalam. Bertengkar di lobi apartemen jelas bukan suatu yang bijak. Jadi, ia berupaya untuk menurunkan emosinya. "Akan panjang ceritanya kalau ku jelaskan. Abang pulang lah. Pikirkan lah dulu sebelum bicara soal Rafa." Ia memutuskan untuk membalik badan. Tentu kembali ke apartemen. Ia tak mau melanjutkan adu mulut dengan Reyhan. Ya andai Reyhan tahu bagaimana situasinya saat itu, cowok itu mungkin akan sangat malu kan? Bayangkan. Mari putar ulang ke belakang. Reyhan pergi dan Rheina masih belum tahu kalau ia hamil. Setelah Reyhan pergi, komunikasi mereka memburuk. Gara-gara siapa? Apa gara-gara Rheina? Tentu bukan. Ia mencoba menghubungi suaminya, tapi nomo

