Aku pulang diantar oleh Mbak Nadine, sedangkan sepedaku masih ditinggal di warung makan.
Mayang masih menemani di kamar meski aku sudah menyuruhnya pulang.
“Kamu istirahat aja, Fa. Kata Mbak Nadine, besok kamu tidak usah kerja dulu,” ujar Mayang.
Aku menatapnya lekat. Jangan-jangan gara-gara insiden ini, Mbak Nadine memecatku?Padahal, aku baru mulai bekerja di tempatnya. Dan aku suka kesibukan yang seperti itu. Membuat hariku berjalan lebih cepat.
“Kalau kamu udah sehat betul, baru kasih tahu ke Mbak Nadine aja,” tambah Mayang seolah paham apa yang ada dalam pikiranku.
“Tapi aku merasa sehat, May,” ujarku. Aku sejatinya takut kehilangan kesempatan bekerja di warung milik Mbak Nadine.
Bagiku, ini adalah kesempatan berharga dapat pengalaman bekerja di sini.
“Sudah, jangan dipaksa. Kalau kamu pingsan lagi, yang repot ngga hanya kamu. Tapi, Mbak Nadine juga bisa kena masalah, memperkerjakan kamu,” jelas Mayang.
Aku heran, Mayang tahu banyak hal di sini. Mungkin karena dia supel dan cepat bergaul.
Di Belanda tidak seperti di Indonesia, dapat memaksa-maksa bekerja karena butuh uang. Di sini pemilik kerja bisa terkena undang-undang kalau melanggar hak asasi pekerjanya.
Okelah. Aku mengalah.
“Sebaiknya kamu ke dokter, deh. Siapa tahu kamu punya sakit apa gitu,” tambah Mayang.
“Ya, lihat besok aja. Aku sih merasa sehat tidak punya penyakit apapun,” ujarku lagi.
Mayang hanya mengedikkan bahunya, lalu dia pamit kembali ke kamarnya.
Aku memilih selonjoran di ranjangku. Kakiku benar-benar capek. Padahal baru empat jam bekerja. Gimana kalau tiap hari, ya?
Tadinya aku merasa bekerja dengan gaji 7 euro perjam lumayanlah. Hanya bekerja beberapa jam saja kali berapa hari, bisa nambah tabungan. Tapi, sekarang aku baru paham, ternyata tidak ringan juga bekerja di warung.
Tiba-tiba aku ingat orang-orang di Indonesia yang bekerja di warung makan di Indonesia. Sudah capek seperti ini, gajinya tidak seberapa. Belum lagi tak ada pensiun kalau sewaktu-waktu berhenti kerja ataupun jaminan sosial.
Duh, kenapa aku malah berpikir sampai jauh begini, ya? Mungkin juga karena aku bekerja di lembaga riset bidang sosial yang tiap hari melakukan survey ke masyarakat menengah ke bawah.
--
Sebelum ke kampus, aku mampir ke warungnya Mbak Nadine. Niat hati ingin mengambil sepeda, sekalian memberitahu ke Mbak Nadine, kalau aku sehat-sehat saja. Biasanya warung buka jam 12.00. Jam segini biasanya Mbak Nadine sudah datang untuk siap-siap dan masak.
“Goede morgen!” sapaku sambil masuk ke warung yang pintunya masih tertulis closed itu.
Tapi, mendadak, kepalaku terasa pusing. Perutku terasa teraduk-aduk.
“Apa Mbak bilang. Kamu tuh istirahat dulu. Jangan nekat,” ujar Mbak Nadine mendekatiku sambil membawa segelas air putih.
Baru meminum seteguk, tiba-tiba aku merasa perutku mual bukan kepalang. Segera aku berlari ke toilet dan memuntahkan isi perut.
Mbak Nadine segera memberi minyak angin setelah aku duduk.
Aku melepas jaket yang kupakai. Udara sudah berangsur dingin karena menjelang musim gugur.
“Kamu sepertinya masuk angin. Sudah istirahat saja dulu,” ujar Mbak Nadine lagi.
Untung, belum jam buka toko. Jadi, tidak ada orang yang masuk ke toko kecuali pegawainya Mbak Nadine.
Aku juga heran. Aku hampir tak pernah sakit. Fisikku kuat. Kenapa tiba-tiba aku kemaren pingsan dan hari ini kepalaku menjadi pusing. Padahal, tadi aku merasa sehat-sehat saja.
Aku segera mohon diri setelah pusing di kepalaku berangsur hilang. Tepatnya setelah minum air teh panas.
Terpaksa, sepeda harus kudorong, karena aku takut jatuh jika mendadak pusing menyerang.
“Lho, Mbak Fahira kok didorong sepedanya?” sapa Mbak Desty, istri dari Mas Taufan, salah satu mahasiswa Indonesia juga yang berpapasan sedang mendorong stroller anaknya.
“Iya, Mbak. Kepala saya sedikit pusing, takut jatuh,” sahutku.
“Sakit ya, Mbak? Pucat begitu.” Tangan Mbak Desty refleks memegang dahiku. “Ini sedikit demam kayaknya, Mbak,” lanjutnya. "Sebaiknya istirahat, Mbak."
Mbak Desty melanjutkan memberi nasehat. Kata Mbak Desty, dokter di sini biasanya hanya menyarankan istirahat jika tidak sakit parah.
Aku hanya mengangguk lalu memohon diri karena jalan ke rumah Mbak Desty berbeda dengan arah ke kosanku.
[May, kamu obat sakit kepala nggak? Aku nggak jadi kuliah, kepalaku pusing] Kukirim pesan ke Mayang begitu tiba di kamar.
Mayang memang kuliah di fakultas yang berbeda denganku. Tapi, karena tinggal satu gedung, kami jadi dekat.
Aku dan Mayang udah seperti sandal jepit. Kemana-mana bersama. Hanya jadwal kuliah saja yang membuat kami tidak pergi bersama.
Tet tet Tet.
Baru aku akan merebah karena pusing belum pulih, bel kamar sudah berbunyi. Suara Mayang pun menyusul.
“Kamu masih sakit?” tanya Mayang.
Ternyata dia belum membawa obat pusing yang kutanyakan.
“Aku ke toko obat dulu. Kamu mau nitip apa sekalian?” tawar Mayang.
Dia memang baik sekali. Ringan tangan. Tiap ke supermarket pasti menawarkanku mau nitip apa.
“Eh, kamu kalau pake pembalut merek apa sih? Aku belum nemu yang cocok. Pembalut di sini tipis-tipis. Harganya juga mahal. Kemaren aku coba yang harganya agak miring, ternyata kurang nyaman,” ujar Mayang.
Tiba-tiba aku terdiam, tertegun sejenak dengan pertanyaan Mayang.
“Pembalut? Aku bahkan belum pernah beli selama di sini. Aku bawa dari Indonesia aja masih utuh.” Ujung daguku menunjuk pada rak di samping meja. Di sana terdapat beberapa pak pembalut yang sengaja kubawa dari Indonesia.
“Whatt?! Emang kamu belum mens?” Dahi Mayang berkerut. Bahkan matanya sedikit melotot.
Aku ikut mengerutkan dahi.
Benar juga ya? Sudah dua bulan di sini. Aku belum mens. Padahal biasanya mensku lancar. Bahkan sering maju.
“Palingan stress, May. Namanya juga penyesuaian,” sahutku menghibur diri.
Kata orang, jika stress bisa menyebabkan siklus haid tidak lancar. Bisa jadi juga karena kemaren aku datang ke sini karena masalah yang menumpuk.
“Ya sudah. Aku beli obat dulu ke depan,” ujarnya sambil beranjak dari kamarku.
--
-Pov Author-
Supermarket berada di luar area kampus. Jaraknya hanya sekitar sepuluh menit bersepeda menuju pusat kota.
Mayang hanya membeli barang-barang yang diperlukan saja. Kebetulan, dia sudah terbiasa merencanakan apa yang hendak dibeli. Jadi tak perlu memakan waktu lama. Antrian kasir juga tidak panjang. Pada jam-jam tertentu, jumlah kasir disesuaikan dengan jumlah pengunjung supermarket untuk mengurangi kepadatan di lajur antrian.
Untuk membeli titipan Fahira, Mayang hanya cukup pindah ke toko di sebelah supermarket. Di sana ada toko khusus kosmetik dan obat-obatan. Kalau enggan mencari-cari, tinggal bilang ke petugas untuk ditunjukkan rak display-nya.
Yang paling disukai di toko obat dan kosmetik ini, mereka juga menjual pernak-pernik. Kadang-kadang Mayang menghabiskan berjam-jam untuk melihat barang-barang lucu itu. Namun, hati ini tidak, dia harus bergegas karena sahabatnya menunggu obat sakit kepala.
Tak sampai satu jam, dia sudah tiba kembali ke apartemen dengan sepedanya. Gadis itu lalu memarkir sepeda di deretan parkiran yang ada di depan apartemen. Setelah memastikan aman dan menguncinya dengan rantai, Mayang mengeluarkan belanjaannya dari tas sepeda.
Di Belanda, tingkat pencurian sepeda kayuh terbilang tinggi. Moda transportasi ini wajib dimiliki setiap orang jika ingin berhemat. Naik kendaraan umum seperti bis atau trem memang nyaman, tapi tentu kalau setiap hari, akan terasa ongkosnya. Lagi pula, dengan bersepeda, kita bisa lewat gang kecil dan sampai tepat dititik tujuan. Sementara dengan bis atau trem, kita masih harus jalan dari halte ke tempat tujuan.
Kenyamanan bersepeda ini pula yang membuat permintaan sepeda menjadi tinggi. Imbasnya, dimana-mana rawan pencurian sepeda. Biasanya di parkiran sepeda, kita bisa menggembok dengan besi parkirannya, agar sepeda kita tidak mudah dipindahkan, atau diambil orang.
Dengan menenteng belanjaan, Mayang melangkah menuju pintu apartemennya. Namun, mendadak langkahnya harus terhenti. Suara seseorang menyapa dalam bahasa Indonesia.
Mayang membalikkan badan. Serang lelaki yang sepertinya orang dari Asia menghampirinya. Dari wajahnya, bisa ditaksir usianya tak jauh beda dengan Mayang. Masih sama dengan rata-rata mahasiswa Indonesia yang sedang studi di kampus itu.
“Dari Indonesia?” Pria yang wajahnya masih menunjukkan kelelahan ini bertanya tanpa basa-basi.
Pria yang belum diketahui namanya itu memakai jaket warna hitam dan membawa tas punggung berukuran medium. Mungkin berisi laptop dan beberapa potong baju di dalamnya.
Mata Mayang memindai pria itu. Ada rasa iba sekaligus curiga. Dia tampak bingung mencari informasi. Namun, Mayang merasa harus tetap waspada.
“Iya. Ada yang bisa dibantu?” tanya Mayang.
Kebetulan Mayang punya rasa penasaran yang tinggi. Tiap bertemu orang yang sudah lama mukim di negeri empat musim ini, dia sering banyak bertanya. Kata orang, di negara majupun juga ada juga orang yang statusnya illegal. Biasanya mereka bekerja sebagai pekerja serabutan dan tidak punya ijin tinggal yang sah. Sehingga, dengan penampilan pria di depannya ini, Mayang sedikit merasa takut. Apalagi dia masih mahasiswa baru.
“Saya mencari istri saya.” Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Setelah membuka layar benda pipih itu, dia menunjukkan sebuah foto dari galeri.
Seketika mata Mayang membulat saat melihat foto yang ditampilkan itu.
Dia memindai kembali lelaki itu dengan dahi berkerut. Sungguh, Mayang khawatir kalau ini adalah penipuan.
Istri? Rasanya tak mungkin! batin Mayang.
"Apa anda mengenalnya?" Pria itu menatap Mayang dengan tatapan penuh harap.
Wajah pria itu tampak tak terurus. Jambangnya dibiarkan tumbuh tak beraturan. Sangat meyakinkan kalau Mayang berfikir dia bukan pria baik-baik.
Tidak! Mayang tidak akan mengatakan sesuatu. Dia harus menyelamatkan sahabatnya.
Mayang menggeleng cepat. Mendadak dadanya berdebar tak karuan.
Gadis itu berlalu dari hadapan pria itu dengan langkah cepat. Dia tak peduli apakah pria itu mengikutinya atau tidak.
Beruntung, untuk masuk lift di gedungnya harus menggunakan kode. Jadi, tak sembarangan orang bisa masuk. Sehingga, pria itu tak mungkin mengejarnya.
--
-Pov Fahira-
Meski aku tak jadi masuk kelas karena sakit, aku tetap memaksakan diri untuk belajar mandiri. Aku tak mau tertinggal. Senangnya, materi kuliah bisa dengan mudah diakses. Hanya bedanya, kalau tidak masuk kelas, kita nggak bisa mendengar langsung penjelasan dosen. Kalaupun tidak paham, tak bisa langsung bertanya.
Enaknya lagi, di sini, dosen terbuka. Jika ada yang kurang paham, kita bisa kirim email. Kadang, beliau memberi waktu dan mengijinkan kita datang ke ruangannya, untuk minta dijelaskan hal yang kurang paham.
Kalau bicara tentang sistem pendidikan tinggi, aku yakin cara dosen mengajar dan sistem perkuliahan di sini sudah banyak diadopsi oleh kampus ternama di Indonesia. Fasilitas kampus yang ditawarkan pun sebenarnya sudah mulai banyak ditawarkan di kampus-kampus top di Indonesia.
Sayangnya, memang pendidikan di Indonesia masih kurang merata. Misalnya kampus yang berada di kota besar dan masuk top kampus, akan berbeda kualitasnya dengan kampus daerah dan belum masuk top kampus.
Jadi, kalau aku bicara banyak kemudahan yang ditawarkan oleh kampus, semoga kelak di Indonesia, kampus-kampus kita tak jauh tertinggal dengan situasi di sini.
Aku masih duduk menghadap laptop dan beberapa text book yang aku pinjam dari perpustakaan di depan meja belajar saat bel berbunyi.
Itu pasti Mayang, karena dia memencet bel di depan kamar. Bukan bel di luar gedung.
Bergegas aku beranjak untuk membukakan pintu.
Seperti biasa, Mayang langsung meneyrobot masuk begitu pintu aku buka. Tapi, kali ini ada yang berbeda. Wajahnya terlihat cemas. Tidak seperti saat berangkat tadi. Ada apa?
Aku mengamati gerakan sahabatku yang mengeluarkan obat titipanku dari kantong belanjanya. Bahkan, dia langsung mengambil mug di dapur dan diisinya dengan air dari kran wastafel.
Di Belanda, kita bisa langsung minum tap water, tanpa memasaknya terlebih dahulu. Kecuali kalau butuh air panas, baru dimasak dengan water cooker.
"Buruan, diminum. Sudah makan, kan?" ujar Mayang sembari meletakkan air putih di meja dan obat titipanku.
Tak perlu menunggu dia mengomel, aku langsung meminumnya.
“Berapa?” Sebelum lupa, aku biasa menanyakan harga titipanku.
Kami biasa saling menitip, lalu mengecek harga titipan kami di struk. Setelah itu mentransfer ke rekeningnya. Aku sudah punya nomor rekeningnya, karena kami biasa saling menitip.
Dia sebenarnya tak perlu menjawab, karena aku dengan mudah menemukan besaran hutangku. Aku pun tak perlu menunggu jawaban. Biasanya langsung aku transfer saja dan membagi bukti transfer ke WA agar tidak lupa.
Namanya transaksi keuangan itu sensitif. Kalau dibiarkan mengendap terlalu lama, tak heran akan menimbulkan prasangka. Jadi, sebaiknya segera diselesaikan.
“Coba, kamu cerita padaku. Kamu harus jujur!” Mayang menarik kursi dan duduk di dekatku. Mukanya terlihat serius. Meskipun sejak tadi aku curiga, aku belum sempat bertanya.
“Kenapa, ada apa?” tanyaku mencoba mengerti arah pembicaraannya.
Mayang menarik nafas. Sepertinya ada yang mengganjal. Perasaanku jadi tidak enak.
“Apa kamu meninggalkan masalah serius di Indonesia?” tanya Mayang. Tatapannya sangat tajam mengintimidasi.
Deg, perasaanku semakin tak enak. Dadaku berdebar tak karuan.
Bukannya Mayang habis dari belanja di supermarket? Mengapa tiba-tiba menanyakan masalah? Ada apa ini?
"Masalah? Apa maksudmu?"
Aku mengenal Mayang dengan baik. Dia merupakan pribadi yang sangat care dan perhatian. Selain itu, sifatnya yang mudah bergaul memang membuatnya banyak punya informasi, dibanding aku yang cenderung introvet ini.
Selama ini, kami sering bercerita satu sama lain. Kami terbuka. Dari awal, kami saling cerita tentang siapa kami, aktivitas apa selama di Indonesia, keluarga yang ada di Indonesia.
Hanya saja, aku belum pernah bercerita tentang alasanku ke Belanda. Aku hanya menceritakan semua hal yang menyenangkan tentang keluarga dan pekerjaan.
Tapi, kenapa Mayang mendadak menanyakan masalah? Apakah dia mengetahui sesuatu?