Bayu memasuki halaman rumah Nabila dengan amarah yang menggelora. Gemuruh di dadanya menandakan emosinya sedang memuncak. Napasnya pun tersengal. Wajahnya memerah karena aliran darah terkumpul di sana. Rumah yang sekarang ditinggali Nabila dan kedua orang tuanya serta satu orang ART itu sekarang jauh lebih rapi dari sebelumnya. Sayang, tak mampu menyisakan kedamaian bagi Bayu. Rumah itu tetap saja berbeda dengan rumah yang ditinggali Bayu dengan Fahira. Fahira begitu apik menata rumahnya dengan cinta. Membuat suasana menjadi segar dan semerbak oleh udara yang selalu dibiarkan berganti setiap hari. Membiarkannya jendela dan pintu terbuka di pagi hari dan ventilasi yang terbuka saat mereka pergi bekerja. Kamar yang selalu wangi yang menawarkan cinta dan kenyamanan saat beristirahat.

