Sebenarnya, dua tahun bersamanya, aku sudah mulai ada rasa sayang dengan Fahira, namun kusembunyikan. Gengsi rasanya mengakuinya. Apalagi mama dan papaku sangat yakin kalau suatu hari nanti aku akan mencintai Fahira.
Yang aku heran dari Fahira adalah, mengapa dia tidak jujur saja ke mama kalau aku yang memintanya untuk tidak hamil dulu di awal-awal pernikahan. Pada Fahira aku berdalih, jika dia hamil sebelum aku mencintainya, aku khawatir justru itu akan membuat masalah rumah tangga yang baru. Dan Fahira pun setuju. Hingga akhirnya, setiap kali mama menanyakan tentang program hamil, Fahira hanya menanggapinya dengan senyuman.
Saat aku mengutarakan niatku menikahi Nabila, mama dan papaku menentang dengan keras. Dengan sedikit usaha, aku berhasil meyakinkan keduanya, kalau Fahira kelak akan menerima keputusanku. Apalagi, kedua orang tuaku tahu, Fahira sangat penurut. Dan aku meyakinkan kalau kelak, aku bisa berlaku adil. Toh, diam-diam saat aku bersama Nabila, sikapku pada Fahira tak pernah berubah.
Salah satu alasan yang membuat orang tuaku menyetujui rencanaku adalah, karena kami belum dikaruniai anak. Meski sebenarnya, belum hamilnya Fahira juga atas keinginanku.
Bahkan, saat Fahira merengek untuk berkunjung ke rumah orangtuaku, aku meminta keduanya menyembunyikan rahasia rencanaku ini pada Fahira.
Orang tuaku tak berdaya. Mereka tak bisa menghalangi cintaku dengan Nabila.
Aku, Nabila juga orang tua kami merencanakan pernikahan kami dengan rapi. Semuanya tentu saja tanpa diketahui Fahira.
Hanya satu orang yang tidak menyetujui hubunganku dengan Nabila, yaitu Faisal, teman kantorku sekaligus sepupu jauhku. Dia memang satu-satunya orang yang tahu aku sudah putus dengan Nabila dan menikah dengan Fahira.
Aku sengaja tak mengenalkan Faisal pada Fahira, meski sepupuku itu hadir pada pernikahan kami. Entahlah, aku merasa tidak sreg padanya. Apalagi, dia juga bekerja di kantor yang sama denganku.
Naasnya, Faisal pun tahu kalau aku kembali menjalin hubungan dengan Nabila karena beberapa kali dia memergoki aku diam-diam bertemu dengan mantan kekasihku itu.
Beruntung, saat aku dan Fahira makan malam di luar, dan Faisal memergoki kami, Fahira tidak mengenalinya.
Akhirnya, saat yang ditunggu pun tiba. Aku sudah mengajukan cuti ke kantor jauh-jauh hari agar persiapan pernikahan keduaku tidak terganggu. Aku bilang ke Fahira kalau aku akan keluar kota. Biasanya dia akan percaya saja dan tidak banyak bertanya.
Herannya, di saat yang sama dia merengek mengajakku mengunjungi orang tuanya.
Memang kuakui, kami sudah lama tidak mengunjunginya. Mungkin lebaran terakhir kami ke sana. Dan setiap ke sana pertanyaannya sama dengan pertanyaan mama, kapan Fahira hamil. Padahal, aku memang belum menghendakinya.
Akhirnya aku mengijinkan Fahira pergi sendiri ke rumah orang tuanya karena aku sudah terlanjur menyusun acaraku selama seminggu di luar kota.
Selama aku pergi, aku memang tak menanyakan kabar apapun tentang Fahira. Itu juga sudah menjadi kebiasaan kami berdua. Kami saling percaya. Jika tidak ada yang teramat mendesak, kami tidak saling menghubungi.
Dia hanya sekali menghubungi saat berada di Yogya. Aku yang memintanya agar aku dapat menelpon ayah mertuaku, untuk mengutarakan alasan kenapa aku tak mengantarnya. Untungnya, mertuaku tak bertanya banyak hal. Jadi, konsentrasi persiapanku sama sekali tidak terganggu.
Aku mengira, Nabila masih sama dengan yang aku kenal dahulu. Tapi, mungkin juga dulu aku terlalu dibutakan oleh cinta. Drama itu baru saja dimulai di hari pertama persiapan pernikahanku.
“Bay, kenapa kita tidak beli rumah saja?” tanya Nabila saat kami survey ke salah satu kompleks perumahan, calon tempat tinggal kami nanti.
Mataku langsung membulat.
Apa aku salah dengar? Membeli rumah? Memang aku sekaya itu? Bahkan kalau bisa mengontrak rumah saja yang ukuran kecil karena kami baru berdua. Cicilan rumah yang aku tinggali bersama Fahira saja belum lunas. Mana mungkin membeli rumah baru?
“Kebutuhan kita tidak hanya rumah sayang. Habis itu kita masih harus beli perabot dan kebutuhan lain,” terangku, meski menyisakan sesak di d**a mendengar pertanyaannya barusan.
Mendadak, aku jadi membandingkan dengan Fahira.
Dahulu memang dia tidak minta rumah, karena sebenarnya aku sudah lama mulai mencicil rumah itu sebelum menikah. Saat aku menikah dengan Fahira, kami tinggal mengisi dengan perabot. Dan Fahira pun tak banyak menuntut. Dia malah memintaku menahan untuk tidak buru-buru membeli karena harus disesuaikan dengan prioritas mana yang diperlukan dan mana yang nanti tidak terlalu dibutuhkan.
“Oke, tapi aku mau kita mengontrak di kompleks yang elit. Aku tidak mau kalau hanya di perumahan biasa,” ujar Nabila.
Demi cintaku pada Nabila, akhirnya kuturuti juga apa maunya. Aku tahu dia masih gengsi dengan mantan suaminya juga jika kami tinggal diperumahan biasa. Mantan suaminya adalah orang yang sudah mapan. Tidak seperti aku yang baru saja merangkak meniti karir.
Dalam dua hari, aku benar-benar menguras tabungan. Setelah membayar sewa rumah selama setahun diawal, aku juga harus mengisi furniture dan perabotan lain yang tentu saja tidak murah.
Melihat tabunganku terkuras, tiba-tiba kepalaku menjadi pusing. Padahal, aku baru dapat menabung setelah menikah dengan Fahira.
Dahulu, saat aku pacaran dengan Nabila, aku sangat boros dan tak bisa menabung. Tapi, itu tak pernah kusadari. Setelah menikahi Fahira, aku merasa uang gajiku tak habis-habis. Mungkin karena Fahira tak pernah minta jalan-jalan atau shopping yang menghabiskan uang. Bahkan, membeli barang mahal saja kalau aku bertanya dulu ke Fahira, pasti dia akan menolak.
Hingga menjelang hari H, pikiranku menjadi tidak fokus. Otakku tiba-tiba dipenuhi dengan kebimbangan. Bagaimana aku bisa menjalani hidup ke depan, sedangkan secara materi saja aku masih berfikir dua kali untuk membelanjakannya.
Tapi, aku langkahku sudah terlalu jauh. Orang tua Nabila sangat mengharapkanku. Akupun tak dapat memaksakan Nabila berbuat seperti Fahira karena memang sifatnya dari dulu begitu. Hanya aku saja yang buta oleh cinta yang tak pernah menyadarinya.
Aku lebih banyak murung. Bahkan aku tak berani menghubungi Fahira sekedar menanyakan kabarnya. Padahal jujur saja aku merindukannya. Merindukan hidup yang nyaman tanpa tuntutan.
Tiba-tiba, senyum Fahira menghantui pikiranku. Padahal, sebentar lagi akad nikah akan dilaksanakan.
Karena ini pernikahan keduaku, demikian juga dengan Nabila, maka kami hanya menyelenggarakannya secara sederhana. Tak ada resepsi di gedung. Kami hanya mengundang saudara dekat dan tetangga dekat saja untuk menjadi saksi pernikahan kami.
Usai akad nikah, malam itu, aku merasa sangat lelah setelah seharian menerima tamu. Aku memilih segera mandi dan bersih-bersih.
Keluar dari kamar mandi, mataku membulat saat melihat Nabila memegang ponselku. Lancang sekali dia! Entah sejak kapan, aku merasa privasiku terganggu dengan Nabila memegang benda pribadiku itu.
Segera kuraih ponsel itu dari tangannya.
Mataku semakin membulat saat melihat panggilan tak terjawab dari Fahira sebanyak 20x.
Ada apa dengan Fahira? Apakah ada yang penting sampai dia menelponku sebanyak itu?
Aku buka call history, dan ada percakapan masuk dengan durasi 1 menit beberapa menit lalu.
“Nabila, apa kamu mengangkat panggilan dari Fahira?” tanyaku dengan nada meninggi.
Wanita yang masih memakai baju pengantin itu hanya terdiam. Lalu ia membuang muka.
“Jawab, Nabila!”