BAB 2 : Pekerjaan Baru

1653 Kata
Calla bergerak malas di atas ranjangnya setelah menghubungi ibunya jika dia sudah sampai dan dalam keadaan baik-baik saja, besok adalah hari pertamanya sekolah. Mungkin Calla akan mengambil pekerjaan paruh waktu untuk mengisi waktu luangnya. Calla sudah terbiasa hidup aktif, mungkin dengan bekerja, Calla akan menghasilkan uang dan mengurangi beban pengeluarannya. Tubuh Calla masih terbaring di ranjang besar itu, sangat menakjubkan bisa menyewa apartemen dengan fasilitas yang sudah di lengkap, bahkan Calla tidak perlu membeli peralatan apapun lagi selain piring dan gelas baru. Beruntung Calla memiliki teman yang satu kampus dengannya sekarang, jika tidak, mungkin Calla tidak akan menemukan tempat semenakjubkan ini sekarang. Calla sudah membayar biaya sewa tiga bulan ke depan, dan rupanya uang yang dia keluarkan sangat setimpal dengan apa yang di dapatkannya. Dengan cepat Calla bergerak ke meja belajarnya dan membuka laptop untuk membuka situs lowongan pekerjaan paruh waktu untuk seorang  pelajar. Cukup lama gadis itu berkutat hingga akhirnya menemukan salah satu pekerjaan yang cocok untuknya dan tidak jauh dari tempatnya sekarang. Jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan malam. Tanpa menunggu lama-lama, Calla langsung beranjak untuk berganti pakaian dan membawa beberapaa kertas dokumen identitasnya. Calla berlari keluar apartemennya dan segera pergi. Butuh waktu beberapa blok untuk Calla berjalan menuju tempat yang di tujunya, jarak dari apartemen ke tempat yang di tujunya lebih dari satu kilometer, Calla memilih berjalan kaki karena suasana kota yang ramai. Tidak berapa lama Calla sampai di  sebuah bar yang cukup besar di keramaian kota yang asri dan begitu bersih. Gadis itu tersenyum lebar mendorong pintu dan segera masuk, wajah polos Calla terlihat di penuhi oleh semangat dan kejujuran yang nyaris membuat pegawai bar tidak begitu yakin dengan apa motivasi Calla dalam bekerja karena walau bagaimanapun bar bukanlah tempat bekerja yang benar-benar bersih dan baik.  “Permisi” sapa Calla pada seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk dan memaki lipstick yang cerah. “Kau siapa?” tanya wanita itu dengan pandangan tajam di balik kacamata yang di kenakannya. “I.. itu, disini ada lowongan untuk pelayan. Aku menemukannya di situs” cengir Calla dengan canggung. “Ikuti aku” wanita itu langsung keluar dari tempatnya dan melangkah anggun menuju lantai lantai tiga dan di ikuti oleh Calla. “Namaku Avril, siapa namamu?. Apa pengalamanmu?” Tanya Avril dengan penuh penilaian dari atas sampai bawah memperhatikan penampilan Calla yang cantik dan menarik meski hanya memakai pakaian sederhana. Avril harus memilih wanita cantik dan mempesona untuk menyenangkan  hati pelanggan, namun di sisi lain dia juga harus pandai berbicara dan melayani. “Namaku Calla Adeva, aku masih mahasiswa” Calla memberikan dokumen di tangannya pada Avril, “Aku pernah berkerja menjadi pelayan keluarga Julian Giedon selama setengah tahun, bekerja di pelayanan masyarakat selama beberapa minggu dan pengantar makanan.” Avril membuka pintu ruangannya mempersilahkan Calla masuk. “Kau bisa berbahasa asing?.” “Ya. Aku bisa bahasa Prancis dan Belanda meski tidak begitu lancar.” Avril tersenyum puas mendengarnya, “Kau bisa bekerja empat hari dalam seminggu?.” “Bisa.” “Kenapa kau ingin bekerja di bar?. Kau tahu kan bar bukan tempat yang begitu baik.” “Bekerja sebagai pelayan bar tidak bisa menjadi tolak ukur baik dan buruknya wanita. Dimanapun kita bekerja, selama kita bekerja dengan professional, jujur dan bekerja keras, itu sudah cukup menunjukan diri bahwa kita bekerja dengan cara yang  baik-baik.” Jawab Calla dengan lantang. “Bagus!. Kau di terima” cengir Avril langsung menerima Calla, di ambilnya dokumen di atas meja dan meminta Calla membacanya untuk menandatangani kontrak karena Calla masih berstatus sebagai mahasiswa. “Kau bisa bekerja mulai malam ini, anggap sebagai percobaan selama satu jam.” Ucap Avril penuh semangat, dia suka dengan wanita yang polos dan tidak memiliki tampang dan gesture menggoda, Avril tidak akan mendapatkan masalah lagi. “Benarkah?.” “Iya” Avril mengambil seragam di  dalam laci dan memberikannya pada Calla, “Baca peraturan kerjamu. Ingat, kau bisa menerima berapapun tips dari pelanggan untuk dirimu sendiri, jangan memberikan uang tipsmu kepada siapapun karena itu sudah menjadi milikmu. Namun,  tidak di perbolehkan menggoda dan melayani mereka secara khusus selain berbicara, tidak boleh duduk di meja pelanggan, tidak boleh melayani secara seksual, jika terjadi pelecehan segera laporkan karena cctv ada di setiap penjuru tempat, layani tamu dengan baik. Kau bisa menolak tawaran pelanggan yang membuatmu tidak nyaman namun harus dengan cara yang baik. Kau hanya bekerja mengantar pesanan dan mencatat pesanan mereka saja. Kau paham Calla?.” Calla langsung mengganguk dengan senyuman dan semangat. Rupanya dia memilih tempat bekerja yang sangat tepat. Hal terpentingnya mereka mengutamakan pelayanan professional. Avril bersikap dengan sangat baik dan menjamin keselamatan pekerjanya. “Jam kerjamu di malam hari selama empat jam. Kau harus memakai riasan untuk mempercantik diri. Pakai sepatu heels tinggi, rok selutut. Kau mendapatkan makan malam.” “Terima kasih” Calla membungkuk memberi hormat dan segera pergi di antar oleh salah satu karyawan bar menuju tempat berganti pakaian dan merias diri. Rasa kesal dan sedih Calla karena penolakan ayahnya kini sedikit terobati oleh kesibukan, tinggal di kota Andreas adalah tujuan Calla sementara waktu, tujuan utamanya adalah sekolah ke Belanda dan mengikuti ujian pertukaran pelajar dari Sky University dengan beasiswa penuh. Di depan cermin Calla terdiam sesaat memperhatikan seragam biru dengan lengan setengah lengan, rok pendek di atas lutut dengan celemek dan kantung yang terisi buku catatan dan pulpen. Calla memilih mengikat rambutnya dan mulai merias dirinya sendiri dengan make up seadanya yang dia miliki dan selalu dia bawa di dalam tas. Besok Calla akan menyempatkan diri untuk membeli heels dan alat rias lain agar tidak di tegur.  Dalam beberapa tarikan napas Calla mengatur napasnya dan melihat penampilannya lagi sebelum pergi keluar menemui Avril lagi. Reaksi pertama Avril saat melihat Calla yang sudah berpakaian pelayan adalah kekaguman, dia tidak salah memilih seseorang. Avril langsung memperkenalkan Calla kepada orang-orang yang sama-sama bekerja denganya, mereka sangat ramah dan membuat Calla merasakan kenyamanan yang jarang dia dapatkan dari orang asing. Avril juga segera mengarahkan Calla bagaimana dia harus bekerja dan melakukan tugasnya. Calla yang sudah terbiasa bekerja kasar terlihat sangat teliti dan mudah mengerti. “Calla” panggil Jonathan, Calla langsung beranjak dengan cepat dan menghampirinya. “Ini, antarkan minuman ini ke lantai dua meja nomer Sembilan. Jangan menanyakan tagihan kepada mereka, kau paham?.” “Baik” Calla langsung mengambilnya dan membawanya dengan hati-hati, dia tidak memakai heels dan hanya memakai sepatu biasa. Malam itu terasa ramai di penuhi banyak orang, sudah beberapa kali Calla mengantarkan pesanan dan mencatat pesanan. Sangat menyenangkan untuk Calla saat dia di berikan tips untuk pertama kalinya, meski pekerjaannya di penuhi bau alcohol, rokok, dan keramaian orang yang terkadang mabuk. Rupanya pekerjaan itu tidaklah sulit, dia sudah terbiasa merasakan pekerjaan tersulitnya menjadi pelayan seorang bangsawan, mereka sangat teliti dan sensitif yang membuat Calla mau tidak mau terlatih menjadi lebih teliti dan mengingat banyak hal. Bekerja di bawah orang-orang bangsawan kini terpakai untuk Calla bekerja dimanapun. Beberapa anak tangga telah Calla lalui, pandangannya mengedar hinga akhirnya dia menemukan kursi di ujung yang di isi banyak remaja yang menikmati malam mereka dengan bersenang-senang. Bibir Calla menyunggingkan senyuman lebar, kepalanya tertunduk tiba-tiba ketika menyadari jika salah satu orang di antara mereka adalah pria yang membantunya sore ini. Theodor menyerigai memperhatikan Calla yang membungkuk meletakan pesanan sahabatnya, Theodor cukup terkejut perubahan Calla yang terlihat sangat berbeda dan lebih dewasa dengan pakaian pelayan itu. Kepala Theodor sedikit bergerak merasakan gelayutan manja teman perempuannya. Pria itu melirik ke arah Aric yang tidak mempedulikan apapun dan berciuman panas dengan seorang perempuan. Suara siulan menggoda Treta terdengar keras memperhatikan Calla yang meletakan semua pesanan yang di bawanya dengan cekatan penuh sopan santun, sangat berbanding balik tempat dimana sekarang dia bekerja. Treta membungkuk semakin memperhatikan Calla yang fokus dengan pekerjaannya, kepala Treta  mendekat lebih memperhatikan  hingga wajahnya hanya berjarak beberapa ich dari Calla. Treta menyeringai senang, pria itu menghisap rokoknya dan membuangnya dengan sengaja di depan Calla. “Uhuk” tanpa di duga Calla terbatuk karena tidak sengaja menghisap asap rokok Treta. “Maaf” katanya terlihat malu. Treta langsung menutup mulutnya dengan rapat karena kaget dengan sikap Calla. “Dia anak baru” cekikik Erica seketika menghentikan ciumannya dengan Aric. “Maaf cantik, tidak bermaksud mengganggumu” sesal Treta langsung mematikan rokok yang baru setengah dia hisap. Tangan Calla gemetar merasakan tatapan tajam orang di sekitar, dia kembali bangkit. “Silahkan menikmati” katanya dengan sopan. “Bagaimana dengan kakimu?” Tanya Theodor tanpa terduga. Pandangan Theodor terjatuh ke lutut  Calla yang kini memiliki lebam biru yang jelas meski tidak berdarah. Calla mengangkat wajahnya yang sedikit bersemu, dia menggeleng tanpa suara untuk mengatakan jika dia baik-baik saja.  “Saya permisi” kata Calla segera bergegas pergi. “Hey tunggu” tahan Treta membuat Calla langsung berbalik lagi. “Ada yang bisa saya bantu lagi?” Tanyanya dengan sopan dan sedikit gemetar merasakan seseorang yang masih memperhatikannya. Treta hanya menggeleng kecil dan menyimpan beberapa lembar uang di atas nampan yang Calla pegang. Mata Calla mengerjap berbinar senang, “Terima kasih” ucapnya samar. “Sial” umpat Treta memperhatikann wajah senang Calla yang polos menggoda dan menggelitik hatinya, “Bisakah aku meminta nomermu?.” Tanyanya dengan blak blakan. Tanpa berpikir Calla langsung  menggeleng menolak, “Mohon maaf, saya tidak memiliki kewenangan itu” jawabnya dengan senyuman menekan dan segera kembali pergi. “Dia menolakku” keluh Treta tidak percaya, namun ekspresi di wajahnya tidak menunjukan kekecewaan selain senyuman lebar. “Mulai malam ini, aku hanya akan memanggilnya.” Putusnya dengan cepat. Theodor terkekeh geli, “Dia tidak seperti yang kau bayangkan” ucapnya sedikit memperingatkan, Thedor sudah terbiasa menemukan beberapa jenis dan karakter wanita. Dan Calla adalah jenis wanita yang berada dalam warna abu-abu. Dia bisa mudah di perdaya, bisa juga sangat sulit di dapatkan karena memiliki pikiran logis. “Kau mengenalnya?” Tanya Aric yang mulai angkat bicara, pria yang sejak awal diam itu sedikit memperhatikan kepergian Calla yang berlari menuju tangga. Theodor menyeringai dengan kedikan bahunya tanpa memberikan jawaban apapun. To Be Continue . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN