Suasana hening ruangan terasa senyap dan dingin, Calla masih tertidur meringkuk di atas ranjang dengan beberapa lebam yang menghiasi wajahya. Ada sebuah goresan merah yang terlukis di permukaan lehernya. Sebuah siluet indah terlihat di balik layar gorden, Aric duduk di sisi ranjang menatap kosong sebuah cermin yang berdiri di sudut ruangan. Suara erangan kesakitan terdengar samar, Calla bergerak lembut di bawah selimut. Gadis itu meringis dan menangis membuat Aric langsung bergeser melihat Calla yang gelisah kesakitan dalam tidurnya. “Hikss..” Calla menangis dalam kepanikan karena terbayang wajah seseorang yang sudah memukulinya. Tanganya yang gemetar dan mata terpejam kuat mengekspresikan ketakutannya yang sangat kuat. “Hey, tenanglah. Kau sudah aman.” Bisik Aric mengusap rambut Calla

