‘City of Love’, 1918 Suara tepuk tangan yang keras menggema di setiap sudut panggung. Mary menatap cahaya lampu yang disorot ke wajahnya kemudian tersenyum lebar. Sorakan dari puluhan orang di depan panggung yang baru saja menyaksikan pertunjukkan nya mendengung di telinganya bahkan ketika Mary akhirnya meninggalkan panggung pertunjukan itu. Dengan perasaan yang menggebu-gebu Mary berlari menuju ruangan sempit yang menempati salah satu tempat di gedung teater. Ruangan dengan satu jendela itu hanya berisi properti panggung yang sudah tidak terpakai, sudah lama tidak digunakan dan tempatnya berdebu. Sejak dua bulan berada di sana, lolos audisi hingga mendapatkan peran di salah satu panggung teater besar di pusat kota, Mary sering menyendiri di dalam ruangan itu. Bukan hanya karena ingin m
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


