Perjalanan menuju ‘The City of Love’, 1918 Mary tersenyum lebar ketika memejamkan matanya. Sementara kedua telapak tangannya terbuka di atas meja. Ia menunggu sembari menebak-nebak benda apa yang akan diletakkan John disana. Sementara itu, percakapan penumpang lain di gerbong yang sama berdengung di telinganya. Kereta bergerak teratur di atas rel panjang menuju pemberhentian akhir. Mary bisa merasakannya hanya dengan menghirup udara segar pengunungan. Kebisingan kota yang biasa di jumpainya tertinggal di belakang. Kini sebuah tempat terpencil di kaki bukit yang disebut sebagai ‘kota cinta’ menunggu di hadapannya. Pada menit-menit akhir pemberhentian, Mary dan John memutuskan untuk meninggalkan taman kota dan kembali ke stasiun. Berlomba dengan waktu yang sudah tipis, mereka akhirnya har

