Rahasia Yang Terungkap

1295 Kata
POV Venus Malam ini, aku belajar satu hal, bahwa rumah yang paling kita percaya sekalipun, bisa runtuh hanya dalam hitungan detik. Aku sudah menikah dengan Aji selama sembilan tahun, dan dikaruniai satu orang putri yang sangat cantik. Selama ini, aku selalu percaya hidupku baik-baik saja. Punya suami yang terlihat sempurna di mata banyak orang. Pekerja keras, bertanggung jawab, dan selalu tahu bagaimana memperlakukan keluarganya dengan baik. Dia bahkan terlihat sangat mencintaiku dan Neptuna—anak kami, dan tidak pernah membiarkan kami merasa sedih. Dulu, sebelum semua ini, aku juga punya diriku sendiri. Aku punya karier, kesibukan, dan mimpi yang perlahan kubangun dari nol. Aku mencintai pekerjaanku, menikmati setiap prosesnya, dan merasa bangga karena bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Lalu aku menikah. Dan seperti banyak perempuan lain yang percaya bahwa cinta bisa menjadi rumah paling aman, aku memilih melepaskan semuanya. Terlebih Aji memintaku berhenti bekerja. Katanya, ia ingin aku fokus pada keluarga. Katanya, ia ingin aku hidup lebih tenang tanpa tekanan pekerjaan. Katanya, ia ingin menjagaku. Dan aku percaya semua omong kosong itu. Aku pikir, mungkin beginilah bentuk cinta setelah menikah—tentang kompromi, tentang pengorbanan, tentang memilih keluarga di atas segalanya. Aku tidak pernah menyesalinya. Setidaknya… sampai malam ini. Sampai aku menemukan alat tes kehamilan itu di saku jasnya. Aku masih berbaring membelakangi Aji, pura-pura tertidur di balik selimut tebal, sementara pikiranku berisik sendiri. Kalimat yang barusan kudengar itu terus berputar di kepalaku, tidak mau pergi. Di belakangku, Aji mulai bergerak. Suara kasur sedikit berderit saat ia berbaring. Biasanya, setelah lampu dimatikan, dia akan mengajakku mengobrol sebentar, entah itu membicarakan tentang pekerjaan, tentang Neptuna, atau sekadar hal-hal kecil yang tidak penting. Tapi malam ini tidak ada obrolan hangat itu. Juga tidak ada kecupan hangat di kening. Hanya suara napas panjang… lalu hening. Beberapa menit kemudian, napasnya berubah teratur. Dia sudah tertidur. Sementara aku… bahkan tidak tahu harus merasa apa. Aku menatap gelap di depanku, mencoba menenangkan diri. Tapi semakin aku mencoba, semakin kuat rasa ingin tahuku menggerogoti. Aku butuh tahu. Pelan-pelan aku bangkit, berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. Aku melirik ke belakang, memastikan Aji benar-benar sudah tertidur pulas. Langkahku pelan saat mendekati nakas di sisi tempat tidurnya. Ponselnya ada di sana. Tanganku sempat berhenti di udara. Aku benci ini. Aku benci harus melakukan hal seperti ini. Selama sembilan tahun menikah, aku tidak pernah sekalipun menyentuh ponselnya tanpa izin karena aku percaya… karena aku yakin padanya. Tapi malam ini… kepercayaan itu sudah retak. Aku mengambil ponselnya, dan layar menyala. Tapi… dahiku langsung mengernyit. ‘Password-nya berubah?’ Aku terdiam beberapa detik. Biasanya dia pakai tanggal lahir Neptuna. Sekarang tidak lagi. Aku mencoba beberapa kombinasi angka untuk membuka kunci layarnya. Dimulai dari tanggal pernikahan kami, tanggal lahirnya, bahkan tanggal pernikahan kami. Dan semuanya gagal. Napas aku mulai tidak teratur. Sampai akhirnya… aku mencoba satu tanggal yang bahkan membuatku sendiri merasa bodoh. Tanggal pembukaan galeri seni miliknya. Dan… klik. Terbuka. Dadaku langsung terasa kosong. Wallpaper-nya masih foto Neptuna. Senyuman anak kami yang begitu polos, seolah tidak ada yang salah dengan dunia ini. Ironis. “Pikiran kamu ternyata gampang banget ditebak, Mas…” gumamku pelan. Jariku langsung membuka aplikasi pesan. Dan di situlah semuanya benar-benar runtuh. Satu kontak di bagian atas langsung menarik perhatianku. Tidak ada yang mencurigakan. Hanya nama seorang pria yang jika aku tidak membukanya ruang obrolan mereka, mungkin aku tidak akan mencurigainya. [Pak Yoka] Pak Yoka : Mas Aji, aku bener-bener takut. Anda : Gak ada yang mesti kamu takuti. Aku siap bertanggung jawab atas anak dalam kandungan kamu. Pak Yoka : Tapi aku gak mau dimadu, Mas. Aku gak mau jadi istri kedua. Aku gak mau berbagi perhatian dan cintanya Mas sama siapa pun. Apalagi Venus. Anda : Sayang, jangan egois. Tolong ngerti posisi aku saat ini. Pak Yoka : Aku harus ngerti posisi Mas, tapi Mas juga harus ngerti posisi aku dong. Jangan cuma mikirin perasaan istri Mas aja. Aku juga mau dingertiin! Anda : Aku capek, Man. Kita bicarakan lagi nanti ya. Tolong kasih aku waktu buat mikir. Karena semua ini menyangkut rumah tangga aku dan Venus. Pak Yoka : Sampai kapan? Sampai anak kita lahir? Gitu? Anda : Secepatnya. Anda : Sekarang kamu istirahat, ya. Besok aku anar ke rumah sakit buat cek bayi kita. Aku tidak tahu mana yang lebih sakit—kata “bertanggung jawab” itu, atau fakta bahwa perempuan itu sedang mengandung anak suamiku. Ini bukan sebatas dugaan lagi, aku juga tidak bisa menyebutnya salah paham. Dia bahkan membawa namaku dalam percakapan mereka. Dan yang paling menyakitkan, Aji terang-terangan menyebut ‘bayi kita’. Dengan tangan gemetar, aku mengambil ponselku sendiri lalu memotret semua chat itu. Satu per satu. Tidak boleh ada yang terlewat. Aku butuh bukti. Karena aku tahu… laki-laki yang bersalah sering kali lebih pintar berbohong. Setelah selesai, aku cepat-cepat mengembalikan ponsel Aji ke tempat semula, memastikan posisinya sama seperti tadi. Lalu aku kembali ke tempat tidur… membelakanginya lagi. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi kali ini, sungguh… rasanya sudah tidak sama. Hatiku sudah sangat hancur. ‘Gimana nasib rumah tanggaku setelah ini? Apa aku sanggup hidup tanpa Aji? Gimana aku harus menjelaskan semuanya tanpa membuat Una membenci ayahnya sendiri?’ Air mataku akhirnya jatuh juga. Tanpa suara. Aku membuka galeri ponselku, melihat hasil foto tadi. Lalu mataku berhenti pada satu pesan lama yang baru saja kusadari. Bulan dan tahunnya ikut terfoto tanpa sengaja. Dan itu dua tahun yang lalu. Tanganku melemas. “Ternyata… kalian sudah selama ini membohongiku…” bisikku pelan. *** Aku tidak bisa tidur semalaman. Tapi pagi tetap datang tanpa peduli apa yang sedang terjadi dalam hidupku. Aku segera turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Aku berdiri di dapur, memotong bahan makanan untuk sarapan, menyeduh kopi untuk Aji, menyiapkan bekal Neptuna—semuanya kulakukan seperti hari-hari sebelumnya, seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Aku memakai topeng Bahagiaku. Padahal di dalam hatiku… semuanya berantakan. Kami bertiga pun duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Neptuna begitu antusias bercerita tentang kegiatan dan teman-teman di sekolahnya. Sementara Aji menanggapi sambil sesekali tertawa. Aku hanya ikut tersenyum. Sesekali, aku melirik Aji dan memperhaikan setiap gerak-geriknya. Pria itu terlihat biasa saja. Tenang. Seakan tidak sedang menyimpan rahasia sebesar ini. “Sayang, hari ini aku pulang larut malam,” katanya sambil berdiri dan membantu Neptuna memakai tas. “Kamu gak apa-apa, kan, belanja bulanan berdua sama Una aja?” Aku menatapnya sebentar. ‘Pulang larut malam karena kamu dan selingkuhanmu itu mau pergi USG calon bayi kalian, kan?’ Ingin rasanya aku mengatakan hal itu. Tapi nyatanya… aku kembali menelan semuanya. “Gak apa-apa, Mas. Aku juga lagi pingin quality time sama Una,” jawabku pada akhirnya. Aji tersenyum lega. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. “Ya udah, aku sama Una berangkat sekarang, ya. Takut macet di jalan.” Aku mengangguk, lalu mengantar mereka sampai depan pintu. Dan setelah melihat mobil itu pergi, senyum di wajahku pun langsung hilang. Aku berjalan cepat ke kamar, membuka laci, lalu mengambil ponselku. Satu nama langsung kucari. Aku pun mengetik cepat. [Saga] Anda : Aku pingin ketemu. Jam sepuluh nanti, kamu bisa luangin waktu, nggak? Ada yang mau aku ceritain. Saga : Berani bayar berapa nih buat jadi psikolog dadakan? Anda : Duda sialan. Udah banyak duit, masih aja malakin cewek beban suami kayak aku. Saga : Beban suami yang tabungan rahasianya miliaran? Beban apaan itu? Anda : Ssst. Gak usah dibahas. Intinya, kamu bisa gak ketemu hari ini? Saga : Bisa. Mau ketemu di mana? Asal jangan di tempat dugem aja. Anda : Tempat biasa aja. Aku lagi pingin nenangin diri. Saga : Oke. Aku siap-siap sekarang. Aku menurunkan ponselku perlahan. Setidaknya… hari ini aku tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Aku menatap cermin di depanku. Mata sembab. Wajah lelah. Dan seorang perempuan yang sedang berusaha tetap berdiri di tengah hidupnya yang perlahan runtuh. “Ayah pasti nangis kalau tahu anaknya sehancur ini.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN