Mbrebes mili, kalau kata orang Jawa. Kemuning hanya bisa pasrah sembari menangis tanpa suara di dalam kamarnya. Ia betul-betul tidak mau jika harus hidup di bawah atap yang sama dengan ibu mertuanya yang bermulut jahat itu. Namun apa daya, keputusan Arendra sudah sangat bulat dan kemungkinan tidak dapat diganggu gugat. Rumah besar milik Mirah Gantari pun sudah masuk ke dalam daftar di forum penjualan properti. Membuat Kemuning semakin terjerat di dalam situasi yang sesungguhnya tidak ia inginkan sama sekali.
Kemuning tahu bahwa Arendra adalah anak semata wayang Mirah, dan hal itulah yang pasti membuat Arendra tidak bisa menolak permintaan sang bunda. Namun sebagai seorang menantu yang selama ini selalu dijauhi, bahkan beberapa saat yang lalu, justru dibully secara terang-terangan, tentu Kemuning merasa kehadiran Mirah hanya akan membuat keadaan rumahnya menjadi tidak nyaman. Sayangnya, ia belum memiliki kekuatan untuk menepis kenyataan yang akan menjadi kehidupan barunya sebagai menantu yang dianggap buruk rupa.
“Sakit tahu, sakit banget. Aku tahu aku enggak seharusnya seperti ini, di saat suamiku ingin hidup bersama orang tua satu-satunya. Tapi, setelah dianggap begitu hina, perasaanku benar-benar hancur. Apa aku yang memang sudah terlalu berlebihan? Apa aku sudah berbuat kejahatan ketika tidak menyukai kehadiran ibu mertuaku sendiri?” ucap Kemuning merintih dengan suara yang sangat lirih.
Perasaannya memang sebingung itu. Terlepas dari rasa sakitnya, ada pula perasaan bersalah yang telah bersarang di dalam hatinya. Kemuning masih takut akan dosa karena sudah durhaka pada orang tua. Namun ucapan Mirah yang melarang Arendra untuk memiliki anak dengan Kemuning, sampai bagaimana Mirah menghina fisik Kemuning, terus saja terngiang di telinga Kemuning.
Belum lagi ketika harus mengingat usia pernikahan yang baru seumur jagung, dan Jasmine—sang anak sambung—yang masih membutuhkan keberadaannya, membuat Kemuning menjadi serba salah. Tak mungkin Kemuning meminta sebuah perceraian, hanya karena ungkapan Mirah yang baru ia dengar belum lama ini. Ia hanya akan menjadi wanita pengecut dan menyedihkan jika langsung menyerah. Lagi pula, yang namanya pernikahan pasti tidak hanya sekadar mengandung cinta dan kebahagiaan. Karena pada dasarnya, kehidupan pernikahan memang tidak bisa dilalui dengan semudah membalikkan telapak tangan.
Kalau sudah menyerah pada masalah yang masih terbilang ringan, lantas bagaimana Kemuning akan mengatasi setiap masalah yang akan datang ke depannya?
Kemuning menghela napas dan memejamkan matanya. Ia harus tenang agar tidak terlalu berlebihan, bahkan sebelum pintu neraka yang sebenarnya terbuka lebar. Jika ia memperlihatkan sisi kelemahannya yang lain, Mirah pasti akan semakin kurang ajar.
“Aku harus mengurus Jasmine,” gumam Kemuning sembari membuka matanya lagi. Detik berikutnya, ia memutuskan untuk berdiri setelah meringkuk di lantai kamar sejak tadi.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Itu artinya Kemuning harus memastikan putri tiri yang sangat ia sayangi sudah berada di dalam kamar. Meskipun tidak memiliki pengalaman sebagai ibu, dan bahkan hidup selama dua puluh tahun tanpa ibu sejak ibunya kabur kala ia berusia tujuh tahun, tak lantas membuat Kemuning kesulitan dalam mengurus Jasmine. Bahkan baginya, gadis cilik berusia lima tahun itu semacam obat penawar ketika dirinya sedang lelah. Meskipun ketika dirinya masih dalam keadaan bekerja, Jasmine lebih sering bersama Heni—asisten rumah tangga—hubungannya dengan Jasmine masih begitu dekat.
Suasana rumah berlantai dua itu sudah cukup sepi. Ketika diharuskan untuk menyelesaikan naskah, Arendra memang kerap berada di ruang kerja yang dibangun di bawah tanah. Bahkan tak jarang pria itu menghabiskan beberapa hari di tempat itu tanpa keluar, selain hanya untuk makan dan minum, serta keperluan biologis sebagai seorang manusia.
Kemuning tidak keberatan dengan kesibukan Arendra, yang meskipun masih berada di bawah atap yang sama, pria itu tak jarang sulit ditemui. Kemuning sendiri adalah orang yang sibuk mengingat jabatannya yang tak main-main di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, meskipun sudah pasti ia tak separah Arendra yang sampai sulit ditemui.
“Jasmine?” ucap Kemuning sembari membuka pintu kamar Jasmine. Sebuah kamar anak-anak yang didominasi warna merah muda serta banyaknya boneka.
Namun baru saja membuka pintu itu, Kemuning harus dibuat terkejut oleh keberadaan Mirah yang sibuk memeluk Jasmine di atas tempat tidur. Kemuning menelan saliva dengan susah-payah. Sudah berusaha untuk menepis perasaan sedihnya, kini si sumber kesedihan justru terpampang nyata di depan matanya.
“Mau ngapain kamu malam-malam datang ke sini?!” ucap Mirah tegas dan keras sesaat setelah mendudukkan diri di atas ranjang itu.
“Mamaaa!” pekik Jasmine yang ternyata belum tidur.
Namun ketika Jasmine hendak turun dari ranjang bersama rencana kecilnya untuk menghampiri Kemuning, Mirah justru langsung menarik tubuh kecilnya secara paksa.
“Nenek! Jasmine mau tidur sama Mama Ening!” ucap Jasmine. “Jasmine enggak mau sama nenek! Nenek enggak mau bacain buku dongeng buat Jasmine. Nenek juga nggak lucu.”
“Jasmine sudah jam sembilan malam, kamu harus tidur, besok sekolah! Bukan malah baca dongeng! Dongeng itu hanya kebohongan, kamu enggak bakal jadi pintar!” ucap Mirah yang berusaha untuk memperlembut suaranya, meskipun tetap terdengar galak bagi cucunya. “Kamu jangan mencontoh apa yang dilakukan wanita itu dong, Nak. Kamu tahu, ‘kan, kalau orang itu bukan ibu kandungmu? Mulai sekarang Nenek yang bakal tidur sama kamu!”
Mirah melesatkan tatapannya pada Kemuning yang masih terpaku diam di ambang pintu kamar. Detik berikutnya, Mirah berkata, “Ngapain kamu masih di situ? Apa kamu enggak dengar kalau mulai saat ini saya yang akan tidur dengan cucu saya?!”
“Iiih, enggak mau! Jasmine maunya sama Mama Ening!” tukas Jasmine dan mulai menangis.
Kemuning menghela napas. Sekarang, setelah membuat keputusan untuk tinggal bersama tanpa membicarakannya terlebih dahulu, apalagi sampai sudah menjual rumah tanpa berdiskusi dengan Arendra, Mirah ingin memonopoli Jasmine secara sepenuhnya? Memang benar bahwa Jasmine adalah cucu kandungnya, dan Kemuning hanya orang lain bagi Jasmine jika tidak menikah dengan Arendra, tetapi saat ini keadaan sudah berbeda. Yang Jasmine inginkan adalah ibu sambungnya bukan nenek kandungnya!
Setelah berpikir demikian, Kemuning langsung mengambil langkah cepat. Namun bukan untuk meninggalkan kamar itu, melainkan segera berjalan masuk. Keputusannya tentu saja membuat Mirah kaget dan semakin kesal.
“Daripada darah tinggi Ibu semakin meningkat, lebih baik Ibu segera tidur dan serahkan Jasmine pada saya, Bu! Jangan malah memaksa anak kecil, terlebih sampai berkata kasar yang bisa Jasmine dengar. Bukankah ucapan Ibu yang sudah keterlaluan justru akan menjadi contoh yang buruk? Dan lagi, Ibu ini kan pernah mengurus Arendra kecil, seharusnya tahu dong bagaimana memperlakukan anak kecil tanpa harus melakukan pemaksaan? Toh saya masih sehat dan waras untuk menjadi ibu bagi Jasmine, jadi kenapa Ibu justru berusaha untuk memisahkan kami? Hanya karena saya buruk rupa? Hanya buruk rupa saja, ‘kan? Bukan penyakitan!” ucap Kemuning memberikan serangan telak, lantaran ia pun tahu bahwa Mirah memiliki penyakit tekanan darah tinggi.
Wajah Mirah langsung kebas. Syok berat setelah dirinya menyadari arti dari semua kalimat yang Kemuning ucapkan barusan. “Lancang kamu ya, Kemuning! Jadi menurut kamu, saya ini penyakitan? Hanya karena darah tinggi saja, kamu sejahat itu ya menganggap saya?! Lihat tuh muka kamu yang seperti monster! Bahkan meski saya lebih tua, nyatanya saya lebih cantik daripada kamu!”
“Terserah Ibu mau bilang apa. Sekarang saatnya Jasmine tidur, bukan untuk mendengar ucapan kasar, semacam menganggap seorang manusia layaknya monster!”
Kemuning langsung merampas tubuh Jusmine dari tangan Mirah yang sudah mengendurkan jeratannya dari tubuh kecil Jasmine. Dan dengan langkah yang cepat, Kemuning meninggalkan Mirah sembari menggendong Jasmine yang masih menangis. Sikap Kemuning yang sangat kurang ajar itu membuat Mirah semakin murka.
“Arendra! Arendra! Arendraaaa!” pekik Mirah memanggil nama putranya. “Kamu harus menceraikan istri jelekmu itu, Ar! Dia itu selain jelek, juga kurang ajar! Baru tinggal beberapa jam di sini, Ibu kamu malah dihina lho sama dia, Ar! Arendraaa!” Ia berjalan ke sana kemari untuk mencari keberadaan sang putra.
Sayangnya sampai merasa lelah, Mirah tak menemukan Arendra ada di mana, lantaran ia sendiri tidak mengetahui adanya ruang bawah tanah yang sudah diatur kedap suara.
***