Shirley melihat lagi tayangan video karya Zakaria yang menampilkan sang ‘artis’ yaitu dirinya yang kini memasukkan dua jari lentik dan panjangnya ke dalam liang kewanitaan. Mulutnya terbuka, matanya terbeliak, demi menahan nikmat yang terjadi. Melihat pemandangan itu mendatangkan sensasi tersendiri dalam diri Shirley.
Di salah satu sudut tertulis angka 34.9K yang artinya bahwa video sudah dilihat hampir 35 ribu kali. Aneh. Lambat-laun, rasa marah, benci, sedih, memudar. Entah mengapa ia malah mulai merasa bangga atas aksi yang dilakukannya. Dan bukan hanya itu, tanpa ia sadari satu tangannya sudah bertengger di d**a. Menangkup d**a kiri, sedangkan tangan lain lenyap di balik rok. Bergerilya di daerah s**********n.
Menyaksikan dirinya bermasturbasi malah membuat diri Shirley ingin bermasturbasi juga. Video clip berhenti berputar karena sudah mencapai akhir. Tangan Shirley keluar dari rok, mengklik lagi untuk mengulang, dan tangannya lenyap lagi di balik rok. Sensasi s*****t melanda. Shirley menggigit bibir seraya menutup mata demi menahan rasa nikmat yang membuncah.
Entah berapa lama ia begitu. Saat membuka mata, ia kaget karena melihat salah seorang anak SD yang tadi bermain game online diam-diam mengintip dengan menyembulkan kepala di tembok samping. Dan bukan hanya berdiri, ia diam-diam merekam aksi Shirley dengan ponselnya!
Shirley buru-buru menghentikan aksi.
“Ngapain kamu di situ, dek?” sambil bertanya, buah dadanya yang sempat terburai buru-buru ia atur agar kembali ke posisi semula.
“Sini kamu! Awas, tante lapor ke polisi nih!” Shirley membentak sangat galak sehingga membuat si bocah yang rupanya berdiri di meja bilik sebelah, turun dan dengan takut-takut menghadap dirinya.
Anak yang mungkin masih 11 – 12 berdiri dalam keadaan mata melotot. Shirley tak tahu apakah sikapnya itu karena mengagumi buah dadanya yang kadung terbuka, atau anak itu ketakutan karena terciduk melakukan perbuatan tidak sopan.
“Jangan laporin polisi. Takut. Nanti Endi bisa dihukum.”
Melihat ketakutan dalam diri anak yang ternyata bernama Endi itu, Shirley dengan cepat memanfaatkan situasi. Secara kebetulan pula upayanya membenahi buahdadanya agar kembali ke posisi di balik **, memang terkendala karena tali yang terbelat-belit. Ini membuat usahanya berbenah jadi lebih lama.
“Nama kamu Endi? Wah, kamu udah nakal ya,” katanya. Tiba-tiba timbul niat untuk mengerjai anak itu ketika ia melihat emblem nama sekolah di seragam anak itu. Shirley juga kebetulan tahu nama kepala sekolah di SD itu. Kini ia pura-pura marah. “Kamu sekolah di SDN 4 kan? Awas, tante akan lapor ke pak Joyoboyo. Dia itu teman baik tante.”
Mendengar ancaman itu, Endi jelas ketakutan. Shirley memanfaatkan ketakutan anak itu dengan memintanya menyerahkan ponsel untuk ia menghapus rekaman video yang baru saja dibuatnya. Bocah itu menurut dan menyerahkan gadgetnya. Shirley menerima dari tangan Endi, melihat hasil rekaman video dan kemudian menghapusnya.
“Koq dihapus, tante? Kan bagus.”
“Bagus apanya?”
“Tante punya bodi yang bagus. Kenapa musti malu ditunjukin?”
Ucapan lugu itu membuat Shirley tersanjung bahwa tubuh berusia 44 tahun miliknya masih dianggap bagus bahkan oleh seorang bocah.
“Sok tau. Masa’ bodi begini dibilang bagus,” Shirley pura-pura marah.
“Endi tadi liat. Emang bodi tante bagus koq. Endi gak bohong. Tante punya bodi yang mulus banget,” jawab Endi setengah ngotot. “Apalagi m***k tante.”
Srrr. Ada desir halus di area keintiman Shirley ketika Endi berucap v****r begitu. Ucapan bocah adalah ucapan terjujur dari seorang manusia dan bagi Shirley itu layak diapresiasi. Selama dialog, sebetulnya Endi berada antara takut dan juga bernafsu. Ya, nafsu. Rasa nafsu juga ada dan kuat bercokol dalam bocah seumuran dirinya. Apalagi itu dipicu karena Shirley masih belum selesai berbenah sehingga buah dadanya masih terburai keluar. Belum lagi roknya yang terbuka yang menampilkan paha-paha putih mulusnya.
Shirley melihati anak itu. Endi itu benar-benar tipikal bocah kampung. Di usia semuda itu ia sudah tahu sangat jauh dan memiliki ketertarikan besar tentang dunia s**s. Mendadak, timbul niat dalam diri Shirley untuk melangkah lebih jauh. Shirley senang dengan pujian Endi. Pikirnya, anak itu perlu diberi hadiah.
“Terima kasih tante,” katanya saat menerima kembali ponselnya dari tangan Shirley.
Shirley sempat memainkan ponsel sehingga Endi tidak bisa langsung mendapatkan. Baru di percobaan kesekian ia bisa mendapatkannya. Melihat hal itu Shirley yang masih belum membenahi pakaian bagian atas yang berantakan tertawa keras. Sangat jelas terlihat bahwa ia seperti tak berniat merapikan bajunya.
“Udah tenang aja, tante gak akan laporin,” katanya dengan lembut.
"Tante udah hatinya baek, cakep lagi.” Endi kini tidak takut lagi.
Sialan belum apa-apa sudah merayu, Shirley membatin. “Endi suka nonton t***k?”
Ia mengangguk. Makin tak ada lagi ketakutan. Ia malah mulai berani melihati b*******a Shirley yang kini dibiarkan Shirley dalam keadaan terbuka. “Ini ada yang beneran. Mau coba pegang?”
Shirley tak percaya dengan ucapan yang baru ia lontarkan. Tapi, yah, mau apa lagi, sekalian basah sebaiknya berenang saja. Ini gara-gara kewanitaannya yang melembab sejak tadi. Pikirnya, apa sih resiko selingkuh dengan bocah? Rasanya tak ada. Memang apa yang mereka tahu?
Nyatanya Endi memang tahu banyak. Apalagi bocah itu dengan tidak sungkan mulai meraba buahdadanya yang terbuka.
Efek sentuhan itu membuat Shirley seperti disengat listrik ribuan watt. Shirley sampai bertanya di dalam hati. Sensasi bocah ternyata tak kalah menggairahkan. Ini membuat Shirley semakin berani melangkah lebih jauh terlebih situasi memang memungkinkan karena warnet tidak terlalu ramai dengan orang. Suara bising game online di sebuah bilik bisa menutupi sempurna suara-suara di bilik Shirley.
“Tante nanti bikin video lagi kayak gitu yang banyak. Nanti Endi ser kemana-mana deh.”
Shirley tak tahu apakah ia perlu berterimakasih untuk ide nyeleneh itu atau tidak. Bikin video yang banyak dan nanti akan di-share? Lantas apa manfaatnya buat dia? Untuk jadi terkenal sebagai bintang bokep?
Dari mulanya meraba Endi kini mulai meremas dan bahkan mempermainkan pentilnya. Tak sadar Shirley jadi merintih menahan nikmat.
“Tante, Endi boleh nenen?”
Wah, anak itu rupanya mengerti juga begituan. Shirley mengiyakan dan mengambil posisi agak menunduk. Segera setelah ia lakukan, langsung saja b*******a montoknya menjadi santapan bocah di bawah umur itu.
Di saat yang sama, seorang remaja baru saja datang ke dalam warnet. Ia sepertinya berjanji dengan seseorang di tempat itu. Jadi ketika ia melihat ada bilik dengan satu orang di dalamnya ia dengan percaya diri melangkah ke sana. Ia terkaget dan heran ketika melihat seorang ibu tengah menyusui anaknya yang masih SD.
Ia meminta maaf, berbalik badan buru-buru pergi.
Atas kejadian tak terduga itu Endi terkaget. Apalagi Shirley yang merasa diri melakukan hal memalukan, janggal dan aneh karena terciduk. Namun suasana hati itu tak berjalan lama ketika Endi tiba-tiba saja kembali menyambar buahdadanya dengan mulutnya. Shirley mau meminta Endi untuk menahan diri. Tapi rasa nikmat yang dialami membuat Shirley membatalkan rencana itu.
Yang dilakukan Endi memang dirasa Shirley sangat nikmat. Tak peduli walaupun itu datang dari seorang bocah. Tapi Endi tak bisa berlama-lama menikmati p******a Shirley. Warnet saat itu semakin ramai sehingga Shirley berinisiatif menghentikan petualangan yang sebetulnya menggairahkan itu. Rasanya sudah waktunya untuk pulang. Endi kecewa. Tapi Shirley juga kecewa, bahkan mungkin lebih kecewa karena pengalaman yang ‘nanggung’ begitu.
“Tante!”
Mendengar panggilan suara Endi, Shirley yang sedang menunggu angkot di halte depan warnet tadi, membalik badan. Ia kaget karena di situ tak hanya ada Endi tapi juga dua bocah lain yang seumuran dengannya. Mereka ini sepertinya satu tim yang tadi main game online bersama sama sambil mengucap kata-kata u*****n, tak sopan, yang memerahkan telinga.
“Ada apa?”
Teman Endi yang sepertinya satu-dua tahun lebih tua, dan nampaknya jadi pemimpin ketiganya, dengan berani menanyai Shirley.
“Kami mau anter tante pulang.”
Shirley tertawa. “Nggak usah. Biar tante pulang sendiri.”
Bocah teman Endi itu kembali berucap. “Tapi tante emang sebaiknya kami anter pulang.”
Shirley tersenyum ramah. Bicaranya agak menunduk karena perbedaan postur tubuh. “Namamu siapa?”
“Aku Yayat, dia Cholish” katanya sambil memperkenalkan nama rekannya yang satu lagi. “Kami pokoknya mau anter tante. Harus!”
Shirley menggeleng. “Aduh, nggak boleh.”
Atas larangan itu Yayat mengumpat dengan kata kotor. Shirley jadi terkaget. Bocah-bocah itu sudah sangat biasa rupanya menyumpah dengan kata kotor. Tiga bocah yang terlihat bengal itu bicara sambil tersenyum-senyum dan sambil mengerling nakal. Endi malah mengedip mata.
“Kalian ke rumah tante buat apa?”
Endi maju selangkah. Ia memberi isyarat Shirley untuk menunduk karena ada sesuatu yang ia mau bisikkan dekat telinga.
“Tante, kita n***e’ yuk?”
Bulu kuduk Shirley terasa berdiri. Tak menyangka dalam diri tiga bocah ingusan sudah memiliki pemikiran sangat dewasa seperti itu. Ini sulit dipercaya. Bagaimana mungkin bocah di bawah umur bisa begitu v****r mengajak dirinya untuk b******a! Kalau terwujud, pantaskah jika ia selingkuh bersama bocah? Tiga orang sekaligus pula! Ini mustahil. Tidak normal.
Namun di lain pihak, Shirley mengakui bahwa gejolak hasratnya masih membara dan jauh dari kata tuntas. Pengalaman dengan supir truk-kah yang membuat ia jadi mudah terangsang seperti ini? Entah. Ia lalu berdiri tegak, menimbang-nimbang, melihati mereka satu per satu. Pemikiran-pemikiran gila merasuki pikirannya. Seulas senyum terbentuk di bibirnya. Sebuah keputusan sudah ia buat.
“Kalo gitu, kita naik angkot bareng-bareng ke rumah tante.”
Ketiga bocah langsung berteriak-teriak kegirangan sehingga membuat beberapa orang melihati mereka. Percuma Shirley meminta mereka diam karena mereka sudah terlanjur senang. Ketika angkot datang, ketiganya secara cerdik menggiring Shirley ke bangku pojok belakang. Shirley tak menyangka bocah-bocah itu begitu agresif. Yayat duduk persis di samping Shirley sedangkan yang lain mengambil posisi duduk yang menutup pandangan dari arah depan.
Angkot belum semenit berjalan ketika Shirley merasakan tangan Yayat memegang paha yang tertutup rok. Shirley hanya diam. Tak sampai semenit berikutnya, dengan keberanian yang luar biasa, di luar dugaan Shirley bocah itu menyelusupkan jari ke balik rok.
Shirley tak kuas menolak. Ini kenikmatan yang ia cari dan secara kreatif bocah itu telah menemukan dan… layak diberi upah. Sebagai bentuk apresiasi keberanian Yayat, Shirley sedikit merenggangkan kaki. Memberi kemudahan akses bagi tangan Yayat untuk bermain di selangkangannya. Yayat tentu saja tak membuang peluang itu. Sambil berlagak menatap ke jalan, jarinya bergerilya menyelusup dalam kewanitaan Shirley yang lembab. Menjadikan wanita yang sebaya ibunya kerepotan menahan desiran dahsyat libidonya yang menggebu-gebu.
Tak lama, mereka tiba di tujuan.
Sementara itu, Zakaria dari tempat berbeda merasa heran. Hidden camera yang dipasang diam-diam dan sampai hari ini masih belum Zakaria beritahukan pada siapapun, belum menghasilkan karya ‘spektakuler’ lagi. Belum makan korban, istilahnya.
Ia heran di saat ia sudah memberikan izin, Shirley malah lebih suka menggunakan waktu dengan pergi kesana-kemari. Tidak ada adegan persetubuhan dengan anak muda yang sampai saat itu masih ia belum ketahui namanya. Penampilan di layar smartphone yang menerima transmisi dari 3 titik di rumah, menampilkan tayangan membosankan.