Beberapa minggu sebelumnya.
Ervan sudah sepenuhnya memegang kendali di Mintarja Group yang diteruskan dari ayahnya. Pemuda cerdas ini dengan cepat menguasai dasar-dasar keuangan, operasional, stok, rantai pasokan, hingga ekspor impor. Kekhawatiran tidak perlu ada pada diri sang Papa ketika ia menanyakan kondisi perusahaan MG kepada anaknya.
“Gimana di sana? AC dingin? Karpet berdebu? Couchnya tetep bersih? Udah sarapan belum?”
“Ih, nanya koq yang receh-receh,” Ervan tertawa. “Udah deh, segalanya under controlled. It’s OK, Pa.”
“Iya, Papa yakin,” jawab ayahnya di ujung telpon. “Kan boleh Papa nanya-nanya.”
“Boleh, hehehe…”
Tawa Ervan terhenti ketika sang ayah menanyakan kapan ia akan menikah. Ia belum mau dan dengan halus menolak. Ia tak mau mengungkap alasan sesungguhnya bahwa menurutnya masih terlalu sedikit wanita yang ia pernah tiduri.
*
Sebuah Avanza yang penuh terisi sekelompok karyawan yang lapar hendak makan siang, tengah dalam perjalanan menuju restoran. Di dalamnya, lima orang di antaranya tengah sibuk tiktokan. Shirley menjadi salah satu yang paling genit ketika tiktokan sambil menari-nari. Ia baru berhenti ketika mendapat notifikasi SMS di smartphonenya.
Ketika membaca pesan yang masuk, keningnya berkerut. Pesan itu dari bank yang menyatakan bahwa ada dana sekian ratus juta yang gagal terkirim. Ini membuatnya panik.
Diam-diam, setahun terakhir, di kantor cabang lama, ia melakukan transaksi di luar kewajaran yang berujung penggelapan dana kantor. Dari puluhan transaksi yang dilakukan semua dilakukan secara halus sehingga sulit terdeteksi. Akan halnya transaksi yang tadi disebut gagal, itu mengkhawatirkan dirinya karena bisa membuat selisih pada pelaporan. Ujung-ujungnya ini bisa membongkar kecurangan yang dilakukan.
*
Tak ada yang lebih menyakitkan daripada seorang suami yang menganggur. Setelah sempat jaya secara karir di sebuah bank swasta, Zakaria harus menerima kenyataan bahwa ia tak lagi berduit. Tak lagi dipandang orang. Ini diperparah dengan kesehatannya yang kini mengalami diabetes lumayan parah. Masih beruntung isterinya tergolong sabar. Ia rela menerima kenyataan bahwa suaminya sakit.
Hanya saja ada satu hal yang membuat Zakaria betul-betul galau. Sakit yang diderita membuat kejantanannya mudah melayu. Ini bukan perkara sepele dan bisa menimbulkan implikasi parah bagi suami dan juga isteri. Sudah berkali-kali ia mencoba b********h, tapi selalu berakhir dengan kesedihan. Paling maksimal yang ia bisa capai hanyalah sekedar ejakulasi. Ia tidak puas karena itu kepuasan sepihak tanpa dibarengi pencapaian o*****e oleh sang isteri.
Ia tahu ini menyakitkan hati pasangannya, isteri yang ia cintai, Shirley. Isterinya jadi kerap berpura-pura saat di ranjang. Zakaria tahu itu dilakukan demi agar dirinya tidak hancur harga dirinya. Sudah enam bulan ini terjadi. Sangat menyedihkan.
Saat itu ia tengah berjalankaki menerobos kerumunan orang di Pasar Tanah Abang dan memasuki g**g-g**g kecil. Setelah sepuluh menit berjalan, ia tiba di depan sebuah toko agak besar. Pada papan nama terpampang nama toko yang menjual segala obat seperti viagra, pil biru, ramuan jamu empot-empot, resep herbal dan aneka terapi untuk keharmonisan pria-wanita.
Toko itu adalah toko milik Fadhil, teman lama yang secara tak terduga bertemu kembali setahun lalu. Ia adalah teman sekelas Shirley saat SMA. Zakaria sempat dikenalkan pada Fadhil saat ia dan Shirley berpacaran. Fadhil kini berjualan obat, alat bantu, dan aksesoris yang berhubungan dengan s**s.
“Lama gak liat antum. Apa kabarnya?”
“Baik.”
Fadhil jelas senang dengan kehadiran Zakaria. Mereka mengobrol kesana-kemari sambil tak lupa Zakaria membeli yang ia perlukan. Fadhil rupanya pintar ngulik. Dengan sedikit pancingan ia banyak mendapat info tentang rumahtangganya.
“Kabar baik? Nda percaya aku. Antum beli semua ini sebetulnya nunjukin kamu itu kenapa-kenapa,” ujar Fadhil sambil melirik belanjaan yang dibeli Zakaria. “Sakit kamu?”
Zakaria tak bisa berkelit. Saat itu ia bak menjadi pasien di depan Fadhil. Dari mulutnya akhirnya Zakaria bercerita mengenai penyakit diabetes yang dialami. Tak hanya menggerogoti ekonomi dan waktu, penyakit itu juga pada akhirnya mengganggu keharmonisan rumah tangga dimana ia tak lagi dapat memuaskan kebutuhan biologis isterinya.
Selama menyimak, pikiran Fadhil mengembara kemana-mana. Kenangan tentang Shirley melintas di benaknya. Lebih dua puluh tahun lalu Shirley adalah teman sekelas. Tak bertemu di kelas I dan II, mereka baru sekelas di kelas III. Menjadi bunga di sekolah, kehadiran sosok Shirley menarik perhatian banyak orang. Sekaligus mengisi impian nakal remaja-remaja pria masa itu. Fadhil pun demikian.
Tak terhitung berapa banyak orang yang berusaha mendekati. Yang ia tahu jumlahnya banyak. Mereka tak hanya teman sekelas. Ada juga yang lain kelas, lain sekolah. Ada juga yang guru, mahasiswa, karyawan kantor, dan entah apa lagi. Ada yang bermodal ketampanan, kekayaan, kepintaran, popularitas, prestasi olahraga, atau sekedar modal nekad. Sebagai bukan penikmat berita gosip, Fadhil tak mau repot menghitung berapa yang sudah menjadi pacar resmi atau sekedar sekali kencan.
Sekilas itu nampak berlebihan. Namun melihat sikap Shirley yang luwes dan cenderung nakal, itu mungkin saja. Ditambah lagi dengan nilai-nilai mata pelajaran sekolah yang tidak pernah merah. Apalagi mata pelajaran olahraga. Fadhil ingat betul ketika dalam keadaan flu parah, ia tetap membuka kelas renang bagi murid-muridnya di kelas III. Dan murid yang paling banyak dilatih ya siapa lagi kalau bukan Shirley. Mengenakan baju renang one-piece warna gelap yang terus-menerus basah, tubuh ranum Shirley yang masih remaja tercetak sangat sempurna. Fadhil takkan melupakan ketika guru olahraga mereka melatih gadis itu untuk mengapung. Jika untuk murid lain ia menahan di bagian perut, untuk Shirley ia menahan di bagian bawah perut dan d**a. Dengan kedua tangan menahan tubuh Shirley agar tidak tenggelam dan terus dalam keadaan mengapung di permukaan air, tidak sulit menduga apa yang ada dalam benar kotornya. Di bawah permukaan air, tangan-tangan itu pasti meremas dan menyusup-nyusup. Reaksi Shirley yang mukanya mendadak merah seusai dilatih mengapung di kolam mengkonfirmasi dugaan Fadhil yang melihat adegan tadi.
Pengagum Shirley sangat banyak. Dan pasti tak kalah banyak saat ia kuliah. Terlebih saat mulai berkarir. Jadi kalau akhirnya Shirley menentukan pilihan menikah pada seorang pria yang mulai bangkrut dan bermasalah dalam libido, alangkah malangnya gadis itu. Masalah semi-impotensi menjadi bahan obrolan lebih lanjut.
“Ini bener nih obat ini semanjur seperti yang ditulis di bungkusannya?” Zakaria bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Ada beberapa faktor penyebab.”
Tiba-tiba entah mendapat ide dari mana, Fadhil jadi ingin tahu seperti apa keadaan Shirley sekarang.
“Coba antum tunjukin foto dia sekarang kayak apa.”
Tanpa merasa bahwa itu permintaan yang aneh, Zakaria mengeluarkan ponselnya. Setelah beberapa kali ketukan dan geser-menggeser ia menunjukkan wajah isterinya saat ini.
“Shirley tampangnya gak berubah banyak ya. Rambutnya juga ikal kayak begini.”
Tanpa meminta izin Zakaria, jempolnya menggeser layar untuk ia bisa melihat foto-foto lain kondisi Shirley terkini.
“Cantiknya gak berkurang. Antum hoki dapetin dia.”
Zakaria sempat melihat Fadhil menelan ludah ketika mengamati foto ketiga. Saat ia melihat layar, ia jadi maklum karena itu adalah foto ketika Shirley berpose dengan rok mini dan atasan blus dengan potongan d**a rendah sehingga menampilkan buah dadanya yang mengintip sebagian.
“Obat dan jamu yang antum pilih bisa dicoba, Zak. Ana gak jamin 100% antum bisa wikwikwik lagi dengan dia. Tapi dengan obat-obat ini insya allah ada hasil.”
Sambil Fadhil menyerocos dan melihati foto-foto lain di ponsel, Zakaria hatinya berdegup kencang. Ponselnya adalah gadget yang menyimpan banyak foto dan video syur isterinya. Walau itu untuk konsumsi pribadi dan bukan untuk publik, tetap saja tidak nyaman rasanya ada orang lain yang menikmati gambar dan video tadi.
Zakharia ingin melarang atau mengambil kembali ponselnya. Tapi entah kenapa di lain pihak ada perasaan lain yang muncul. Perasaan untuk membiarkan saja karena ia suka jika ada orang asing yang meihat foto dan video privat tadi!
*
Ervan boleh saja dianggap terlalu muda. Kurang pengalaman. Namun, lulus dengan gelar c*m Laude di sebuah perguruan tinggi ternama di bidang akunting membuat dirinya piawai dalam melakukan audit internal. Di hari yang masih kesekian ia sudah menemukan ada pembukuan yang tidak wajar. Ada selisih nilai aset yang dia temukan pada sebuah kantor cabang yaitu di Bekasi.
Sebetulnya ia ingin memberitahu sekretarisnya. Namun seketika ia sadar bahwa Shirley sebagai sekretaris justeru direkrut dari tempat itu oleh ayahnya untuk ditempatkan di Jakarta. Jadi dengan alasan kerahasiaan Ervan tidak melibatkan Shirley sama sekali. Baginya, jika perlu ia melakukan pekerjaan investigasi itu seorang diri.
Dengan maksud sekaligus untuk mengenal kondisi karyawan di Bekasi yang belum pernah ia datangi, hari itu ia melakukan kunjungan mendadak ke kantor cabang tersebut. Saat tiba dan dengan hanya diantar Waluyo sebagai driver, tentu saja hal ini terasa agak mengagetkan bagi semua orang yang ada di sana. Bagai sarang semut yang terbongkar, mereka langsung kesana-kemari menyambut dan menyiapkan segala sesuatu. Mau tidak mau mereka juga lantas memfasilitasi ketika mendapat info bahwa kedatangannya adalah untuk melakukan audit internal. Sebuah ruang kantor segera disiapkan sebagai tempat kerja Ervan.
Atas situasi yang terjadi, seseorang lantas keluar kantor sejenak. Saat sudah berada dalam jarak yang ia rasa aman, ia lantas menghubungi seseorang. Karena gagal terhubung walau sudah mencoba berkali-kali, ia lalu mengirim pesan chat sambil berharap orang di sana cepat membuka pesan itu.
[Big boss curiga soal transaksi deposit LC tahun lalu. Hati-hati.]
Orang itu lantas menunggu. Dan usahanya tidak sia-sia karena semenit kemudian ada panggian telpon yang masuk.
“Sori, gue tadi lagi makan siang.”
“O.”
“Jadi bener nih, boss ngaudit ke kantor Bekasi?”
“Iya.”
“Terus, dia nyinggung soal transaksi tahun lalu yang soal deposit dana LC?”
“Bener. Itu sebabnya gue buru-buru telpon lu.”
Orang di ujung telpon sana adalah Shirley. “Pak Bram, bantuin gue dong.”
Saat itu hubungan Shirley dan Bram hanyalah pertemanan bisnis kantor biasa. Tak ada yang istimewa. Dalam melakukan tugas di bawah atap kantor yang sama Shirley sebetulnya jarang sekali berinteraksi dengan Bram. Begitupun sebaliknya. Tapi sebuah proyek kantor di bidang Safety Environment membuat keduanya mulai akrab karena proyek itu membutuhkan komunikasi intens antara semua pihak yang dilibatkan, dimana Bram dan Shirley termasuk di dalamnya.
“Lu mainnya kasar. Liat nih akibatnya. Perbuatan lu bisa kebongkar, ngerti?”
Shirley terdiam. Jujur, ia memang melakukan penggelapan keuangan perusahaan melalui transaksi-transaksi berulang yang tidak berjadwal. Efeknya, ada sekian persen dana dari ratusan transaksi yang mengalir ke rekening pribadinya. Adalah Bram yang mengetahui hal itu terlebih dulu, berbulan-bulan lalu, dan meminta Shirley berhenti melanjutkan. Bram bisa saja melapor. Tapi dengan alasan tertentu Bram tidak melakukan pelaporan.
“Jadi apa yang gue musti lakuin sekarang?”
“Lu gak perlu ke Bekasi untuk menghindari kecurigaan. Lu tetep tampil cantik dan sexy di kantor pusat.”
“Duuuuh, dalam keadaan begini masih aja ngerayu,” Shirley pura-pura mengeluh. Nada suaranya dibuat semanja mungkin demi mendapat bantuan Bram. Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan dirinya saat ini.
“Jadi lu gak yakin dengan kemampuan gue? Gue bisa bikin transaksi itu jadi keliatan normal. Butuh waktu, tapi gue bisa.”
“Betul?”
“Trust me. Udah deh, lu lanjutin makan siangnya sana. Kesian, gue gak mau lu kelolotan makan gara-gara belum minum.”
Shirley tersenyum dan kemudian pecah menjadi tawa. Hatinya agak lega setelah sebelumnya diliputi waswas yang besar.
“Iya deh. Thank you udah mau bantuin.”
“Jadi, begini caranya.”
Sebagai seorang yang ahli di bidang finansial, Bram lantas memberikan petunjuk teknis bagaimana cara agar dugaan penyimpangan dana yang dilakukannya menjadi tidak terdeteksi. Shirley diminta standby di depan laptop dan ponsel untuk mengantisipasi panggilan mendadak. Sehabis menangkap ia kemudian melakukan apa yang diminta.
*