Pengakuan

1120 Kata

Di halaman belakang rumah Erik yang luas, mereka berempat duduk di kursi taman. Nayla dan Yara duduk berdampingan, berhadapan dengan Erik dan Edwin di seberang meja. Suasana terasa panas dan canggung. Sudah lima belas menit berlalu, belum ada yang memulai pembicaraan. Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing. “Apa pun yang kalian mau bicarakan, aku tetap pada pendirianku. Aku nggak bisa akui anak itu anakku.” Erik lebih dulu membuka suara. Nayla menggenggam erat tangan Yara yang langsung mengepal. “Rik.” Nayla menyela setelah semuanya terlihat tenang. “Aku yakin di lubuk hatimu yang paling dalam, kamu pasti mengakui kehamilan Yara karena ulahmu. Kamu kenal Yara cewek kaya apa, kamu pasti tau dengan baik. Coba kamu pikir, kandungan Yara akan semakin membesar, dia bersedia menjaga a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN