Edwin mengurus kepindahannya pagi itu sendirian di kantor. Ia sudah ke Jakarta selama dua hari melihat sekolah barunya. Secara umum, ia menyukai sekolah itu, sekolah yang sangat mewah tempat bersekolah anak-anak elite. Ia meraih lembaran surat pindah sekolah yang baru saja ditanda tangani kepala sekolah. Masih duduk sejenak di hadapan kepala sekolah, menatap lembaran itu dengan berbagai perasaan berkecamuk. “SMA Pelita Bangsa merupakan sekolah swasta terfavorit di Jakarta, ibumu memang tidak salah pilih sekolah,” komentar kepala sekolah dengan senyum lebar. “Bapak yakin kamu bisa mengikuti ritme belajar anak-anak di sana. Kamu cerdas, Edwin, tinggal semangat belajarmu yang perlu ditingkatkan.” Edwin mengangguk-angguk saja. Sejujurnya ia tidak peduli dengan sekolah manapun dan sebagus ap

