Nayla tersentak kaget bangun dari tidurnya. Seberkas cahaya matahari pagi menelusup masuk ke dalam kamarnya, memberikan sensasi hangat dan silau. Kepanikan seketika menyergap, dengan tergesa disibaknya selimut dengan kasar. Dan ia semakin memelotot sempurna kala dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh. Oh my God, aku kesiangan! Padahal jam delapan pagi itu juga ia harus ke bandara mengantar kepergian Edwin. Nayla melompat dari tempat tidur, berlari masuk ke kamar mandi, tidak peduli kepalanya terbentur pintu akibat tidak berhati-hati. Dengan gerakan super cepat ia mencuci muka, menggosok, gigi, dan berwudhu. Setelah itu mengerjakan shalat subuh kesiangan. Semalam ia nyaris tidak bisa tidur gara-gara terus teringat momen kebersamaannya bersama Edwin di jalan antah beran

