“Lo pernah ke pameran lukisan bareng Delo?” tanya Dila tiba-tiba. “Pernah, enggak?” desaknya tak sabar. “Ke pameran lukisan…” Hera tampak mengingat-ingat sebentar. “Oh, pernah! Dulu pas kelas satu. Dia minta bantuan gue buat milihin kado ultah elo, Dil. Gue bilang setuju, asalkan dia mau nemenin gue ke pameran lukisan.” Perlahan namun pasti, Dila dapat merasakan jantungnya seolah tiba-tiba berhenti berdetak. “Terus, kalau enggak salah, Delo juga sempet bohong waktu lo nelepon dia. Saking paniknya gara-gara takut ketauan kalau dia mau beliin lo kado, dia bohong dengan bilang ada di rumah mau bantuin nyokap padahal kenyataannya dia lagi di galeri lukisan bareng gue.” Dila mematung. Tatapannya seketika kosong. Ada berbagai macam perasaan campur aduk yang bergejolak di d**a Dila saat ini.

