c h a p t e r 2 0

2169 Kata

Dila terus mengulang nama tersebut dalam kepalanya. Adinda Prahera. Adinda Prahera. Hera. Layaknya kaset rusak, nama itu selalu berputar di kepala Dila tanpa henti. Seakan berusaha membuka kenangan lama yang telah Dila kubur dalam-dalam. Dan pada kenyataannya, usaha itu berhasil. Kepingan memori lama tersebut perlahan kembali menyeruak ke permukaan. Menorehkan luka yang sama seperti waktu itu. Tidak ada yang berbeda. Rasa sakitnya masih tetap sama, walau tak seperih dulu. Dila menghela napas, mengaduk-aduk minumannya dengan tak minat. Satu fakta yang baru diketahuinya kemarin seolah telah menjelaskan semuanya. Hubungan Nadhif dengan Delo, siapa perempuan dalam lukisan, kenapa Dila seperti mengenal perempuan itu, serta siapa sosok Hera yang sebenarnya. Semuanya terjawab dengan sekejap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN