c h a p t e r 2 4

2190 Kata

“Taro sendoknya. Gue mau ngomong.” Pergerakkan Dila dalam menyuapkan makanannya jadi terhenti. Sesendok mi ayam yang baru saja akan masuk ke dalam mulut cewek itu, kini menggantung di udara. Kenapa nih cowok tiba-tiba muncul sih, batin Dila kesal. Tanpa menghiraukan  Nadhif yang saat ini tengah memasang wajah kusut dan letih, Dila malah dengan cuek melanjutkan makannya. Sama sekali tak tertarik dengan topik yang akan dibicarakan oleh Nadhif. Paling enggak jauh-jauh dari kejadian kemarin. Cowok itu berniat untuk minta maaf sekaligus menanyakan alasan kenapa Dila tidak mengangkat teleponnya tadi malam. Uh, basi banget. “Dila,” panggil Nadhif lagi. Kali ini dengan suara lebih rendah dan wajah sedikit lunak. Tapi Dila tetap bergeming. Terang-terangan mengabaikan Nadhif dan pura-pura tak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN