Nadhif sedang asik mendengarkan musik lewat earphone ketika Dila menempati bangku di sebelah cowok itu. Ia sibuk sendiri dengan ponselnya sampai-sampai tidak sadar bahwa Dila telah memerhatikannya lebih dari satu menit. Barulah ketika kaki Dila tanpa sengaja menyenggol kakinya, Nadhif langsung mengangkat pandangan dan tersenyum lebar.
"Eh, Dil, udah dari tadi?" sapa Nadhif, melepas kedua earphone-nya dan menatap Dila penuh.
Dila balas tersenyum dan mengangguk. "Lagi dengerin lagu apa?"
"Maroon 5. Lo suka mereka, nggak?"
"Gue suka beberapa lagu mereka. Tapi enggak, gue bukan fans mereka."
Nadhif manggut-manggut mengerti. Sejurus kemudian, cowok itu mendadak menyipitkan matanya dan menatap Dila intens, seperti sedang menilai sesuatu.
“Kenapa?” tanya Dila risi.
"Biar gue tebak. Lo pasti suka Ten 2 Five, ya?" terka Nadhif tiba-tiba.
Dila merengut dan menggeleng. "Enggak."
"Terus, lo suka siapa dong?"
"Mocca," jawab Dila enteng.
"Ooh, Mocca." Nadhif manggut-manggut mengerti. "Terus apa lagi? Coba cerita deh, Dil. Gue pengen tau lebih banyak tentang temen sebangku gue."
"Ngapain?"
"Emang nggak boleh kalau gue pengen tau tentang temen sebangku gue sendiri?" Nadhif malah balik bertanya dengan sebelah alis dinaikkan. "Yah, anggaplah kita lagi kenalan. Sebelumnya kita cuma tau nama doang kan? Siapa tau kita bisa nyambung terus lama-lama deket."
"Apaan, deh." Dila mendengus pelan dan geleng-geleng kepala. Baru juga kemarin mereka ngobrol untuk yang pertama kalinya, tapi Nadhif sudah bisa bersikap santai seperti ke teman dekat sendiri.
Melihat Dila tak memberikan respon dan malah sibuk dengan buku kimianya, Nadhif langsung menaruh earphone beserta ponselnya ke dalam laci lalu menelungkupkan kepala di atas meja dengan wajah menghadap ke Dila. Matanya terus memerhatikan Dila lekat. Senyum kecil perlahan terbit di wajah Nadhif begitu menyadari bahwa Dila merasa tak nyaman diperhatikan.
"Lo gak belajar? Emang sekarang mapelnya apa?" tanya Dila akhirnya, memilih untuk menaruh bukunya di atas meja dan balas menatap Nadhif.
"Gue? Geografi.”
"Terus, kok gak belajar?"
"Jaman belajar?"
Dila tergelak mendengar ucapan Nadhif. Terlebih lagi begitu melihat cowok itu mendadak menegakkan punggung dan pura-pura menatap bosan pada anak-anak di kelas yang sedang sibuk membaca, Dila jadi ingin tertawa karenanya.
"Gue lebih tertarik sama temen sebangku gue daripada sama buku," ujar Nadhif kemudian, melipat tangan di depan d**a dan menatap Dila lurus-lurus. "Jadi gimana? Apa lagi yang lo suka?"
"Emang buat apa?"
"Jawab aja," kata Nadhif santai, namun sarat akan perintah. "Lagu-lagu apa yang lo suka?"
"Kebanyakan sih lagu Mocca. Dari Ten 2 Five sama D'cinnamons juga ada beberapa. Pokoknya banyak, deh."
Nadhif mengangguk kecil. "Buku? Kalau buku gimana? Ada buku yang jadi favorit lo, nggak? Novel gitu? Karya siapa?"
Dila meringis. "Gue lebih seneng komik."
"Bagus. Gue juga." Nadhif terkekeh geli. "Kalau hobi? Lo punya hobi apa?"
"Gue nggak punya kegiatan yang gue suka kecuali makan sama tidur."
Nadhif tertawa. Cowok itu lalu mengangkat tangannya untuk ber-high five ria dengan Dila. "Sip. Lo udah jadi temen gue, Dil."
Dila ikut tertawa dan membalas ajakan ber-high five dari Nadhif. Selama beberapa saat, keduanya sibuk tertawa tanpa sedikit pun menghiraukan tatapan terganggu dari anak-anak di kelas yang merasa konsentrasinya dalam belajar menjadi buyar.
Tapi, tak sedikit juga yang menatap penasaran pada sosok Dila dan Nadhif. Masalahnya, selain mereka berdua, enggak ada lagi pasangan chairmate yang terlihat akrab sampai-sampai tertawa bareng seperti itu. Mana pake acara high five segala, lagi!
"Oh iya, Dil, lo mantan Delo kan?"
Pertanyaan Nadhif barusan sukses membuat tawa Dila seketika terhenti. Kedua rahang cewek itu langsung mengeras, diiringi dengan ekspresi wajahnya yang berubah jadi datar.
"Dulu pas kelas sepuluh, gue denger kalian jadian. Terus, kenapa sekarang putus?"
Kali ini, Dila makin mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Mungkin, anak-anak memang tahu kapan dan bagaimana mereka berdua jadian. Tapi sayangnya, sampai detik ini, masih tidak ada yang tahu sejak kapan dan kenapa mereka putus. Setiap ditanya pun, Dila cuma balas tersenyum dan mengalihkan topik. Cewek itu memang sengaja tidak pernah bercerita, bahkan pada Ina sekalipun yang notabene teman sebangkunya sejak kelas sepuluh.
"Karena berengsek, ya?"
"Ng?"
“Lo putus. Karena Delo berengsek, kan?” Nadhif tersenyum tipis. "Dia emang b******k, Dil."
Dila terdiam. Tidak membenarkan, juga tidak menyangkal pernyataan Nadhif barusan.
• • •
"Lo sama Nadhif gimana?"
Ditanya seperti itu oleh Ina, Dila kontan tersedak bakso yang tengah dikunyahnya. Vani, Ayu, dan Novi yang saat itu sedang sibuk dengan makanannya, jadi ikut menghentikan pergerakannya dan serentak menatap Dila.
Menyesap es teh sebentar, Dila langsung merengut. "Kok Nadhif?"
"Bukannya sekarang lo lagi deket sama Nadhif?" tanya Ina, menikmati batagor di piringnya dengan santai.
"Oh, sekarang lo sama Nadhif, Dil?" Novi bersuara.
"Loh, terus Delo gimana?" Vani mulai ikutan nimbrung.
Dila menatap satu per satu temannya dengan pandangan ngeri. "Kenapa jadi pada ngebahas gue?"
"Yaaa gak pa-pa. Gue penasaran aja, soalnya lo sekarang lagi deket banget sama dia. Malah kalau diliat-liat, gue sering mergokin kalian berdua lagi surat-suratan di kelas,” ujar Ina.
"Gue sama dia ngobrol, ya ngobrol biasa. Hal yang wajar. Lagian juga gue bukan surat-suratan, dia tuh banyak tanya kalo ulangan. Daripada entar mati sama pengawas, ya mending ngobrolnya lewat kertas kan?"
Dila enggak bisa bohong waktu Ina mengatakan bahwa dirinya dengan Nadhif akhir-akhir ini jadi dekat. Semenjak sesi tanya jawab seputar hobi dan hal-hal kesukaan beberapa hari yang lalu, hubungan Dila dan Nadhif mendadak seperti teman kecil yang lama terpisahkan dan akhirnya bisa bertemu kembali.
Selain senang dengan Maroon 5 dan Sheila on 7, Nadhif juga senang dengan film bergenre action, sama seperti Dila. Kadang, selama ujian berlangsung, Dila dan Nadhif asik membicarakan berbagai judul film action sambil sibuk menghitamkan jawaban di LJK.
Pokoknya, Dila berasa nyambung banget ngobrol sama Nadhif. Dulu kalau Dila membicarakan masalah film dengan Delo, malah lebih banyak enggak nyambungnya karena emang Delo lebih suka genre komedi ketimbang action. Bukannya Dila enggak suka komedi, tapi kalau disuruh memilih antara komedi atau action, Dila pasti bakalan milih action tanpa perlu mikir dua kali.
"Yah, padahal gue lebih seneng kalau liat lo sama Delo." Vani tiba-tiba berceletuk sambil sibuk mengipasi diri dengan kipas plastik yang selalu dibawanya kemana-mana.
Berhubung kantin di sekolah Dila letaknya di outdoor, maka mau nggak mau murid-murid yang sedang asik mengisi perutnya akan merasa kepanasan begitu matahari sedang bersinar terik. Tapi untungnya, pohon-pohon peneduh di sepanjang sisi koridor cukup untuk menghalau sebagian sinar matahari agar tidak menyengat kulit. Belum lagi band sekolah yang kerap kali mengadakan live music di depan kantin ketika istirahat tiba, semakin membuat anak-anak lupa dengan panasnya sang mentari.
“Delo kan udah jadi mantan, Van. Dila udah tutup buku kalau sama dia,” sergah Ina. “Lagian, kalau Dila sampe bareng Delo lagi, sama aja kayak ngulang kesalahan yang sama. Ibaratnya, balikan sama mantan itu sama aja kayak ngebuka lagi buku yang pernah dibaca. Mau sampe kapan pun, tuh buku ending-nya bakalan tetep sama.”
Novi menjentikkan jari. "Oh, ada lagi! Mantan tuh ibarat sampah. Kalau lo balikan sama mantan, sama aja kayak mungut sampah yang udah dibuang," tambah cewek itu.
"Nah! Setuju banget, Nov!" Ina dan Novi ber-high five ria.
Vani cemberut. "Tapi tetep aja, gue lebih seneng sama Delo. Lebih lucu aja gitu kalau dibandingin sama Nadhif.”
"Muka Delo itu muka bocah, enggak ada maco-maconya sama sekali. Dulu sih iya, dia kalem-kalem baik gitu, tapi sekarang? Childish banget. Mana dia sering bikin yang aneh-aneh, lagi. Kayak bukan Delo yang gue kenal,” komentar Ina. “Gue sendiri lebih prefer Nadhif, Dil. Dia keliatannya lebih dewasa dan asik gitu kalau diajak ngobrol.”
Dila cuma balas meringis, tidak membalas ucapan Ina lebih lanjut.
Delo dan Nadhif. Dua cowok yang dalam sekali lirik pun, orang-orang bisa langsung tahu apa perbedaan mereka berdua.
Yang satu sedikit pemalu, yang satunya lagi supel. Yang satu lebih sering senyum seadanya, yang satunya lagi justru sengaja tebar pesona. Tapi sekarang, kalau dilihat-lihat, sifat Delo nyaris menyerempet sifat Nadhif. Keduanya punya sifat-sifat yang hampir mirip.
Delo terlihat menyebalkan dengan muka tengilnya, sementara Nadhif terlihat menyebalkan dengan muka songongnya. Delo senang membuat gegar satu sekolah dengan berbagai hal di luar kepala, sementara Nadhif senang membuat huru-hara dengan sikap rusuhnya.
Tapi, di balik itu semua, mereka hanya tidak tahu kalau kedua cowok itu sebenarnya pernah bermasalah.